Shalom… Selamat pagi… Terima kasih buat kehadiran Bapak/Ibu sekalian. Agape Grace Fellowship bersyukur kepada Tuhan Yesus atas semua berkat yang telah Dia curahkan pada Bapak/Ibu sekalian. Saya berdoa Bapak/Ibu akan semakin mengenal Kasih-Nya. Bapak/Ibu, doakanlah keberangkatan beberapa saudara/i kita yang sudah ataupun akan berangkat ke Palembang besok siang untuk acara seminar, supaya nantinya cerita mereka tidak hanya tentang makanan tetapi mereka diberkati dengan pewahyuan tentang Kristus Yesus yang akan memberi dampak positif yang besar bagi banyak orang. Makanan itu memang penting, tetapi oleh-oleh itu lebih dari segalanya. Kalau Bapak/Ibu katakan “Amin!”, maka akan mendapat pempek rohani.
Mengapa oleh-oleh itu lebih penting? Karena dari sini, kita bisa menceritakan tentang Pemberian dari Allah Bapa untuk anak-anak-Nya kepada banyak orang. Jikalau Tuhan tidak menunjukkan Kasih-Nya, tidak ada satupun dari kita yang mengenal Kebenaran tentang Dia. Di dalam Efesus 2:12 tersirat disebutkan bahwa kita semua dulunya tidak mempunyai harapan dan tanpa Tuhan di dunia ini. Mengapa kita bisa mengenal Dia sekarang? Semua itu adalah Pemberian-Nya… Bahasa Alkitab menyebutkan itu sebagai Anugerah Kebenaran. (Roma 5:17) Itu berarti Tuhan dengan Kasih-Nya menyatakan Kebenaran tentang diri-Nya kepada kita semua, bukan karena kita mempersembahkan pempek Palembang sebanyak-banyaknya kepada teman-teman kita (Jangan lupa yah! Tak banyak, satu orang satu bungkus sudah cukup…), juga bukan karena kita baik sekali sama Tuhan. Lebih parah lagi tadi dikatakan di Efesus 2:12, kita ini malah bukan bangsa Yahudi yang notabene sudah dikuduskan oleh Tuhan. Awak faham tak?
Apakah yang bisa kita rasakan saat seseorang memberikan hadiah kepada kita? Katakanlah saat kita tidak menjadi juara sekalipun, orangtua kita tetap memberikan hadiah yang sama. Bagaimana perasaan kita? Sudah tentu senang sekali, betul? Tetapi, Bapak/Ibu, dibalik kesenangan itu ada perasaan damai yang tak bisa diukur dengan kata-kata. Perasaannya seperti kita bahagia dan merasa aman karena ada yang benar-benar menjagai kita, yang menerima kita apa adanya. Kan enak kalau Tuhan senantiasa seperti begitu, betul tidak? Damai rasanya. Orang-orang di luar sana boleh menggambarkan kalau Tuhan itu angin-angin (Bahasa desanya) atau ‘moody’ (Bahasa kotanya), tetapi kita tidak bisa lagi mengesampingkan kalau itu semua sudah Beliau selesaikan di dalam Kristus Yesus. Gambaran sejati seperti apa sebenarnya Bapa itu sudah ada, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita masih tidak bisa melihat gambaran sejati itu, berarti pasti ada ganjalan di hati kita tentang Tuhan Yesus. Kalau itu terjadi, saya undang Bapak/Ibu untuk menghubungi para pemimpin yang ada di Agape Grace Fellowship. Oke, coba kita lihat salah satu contoh bagaimana ‘moody’-nya Tuhan di Bilangan 22:20-22, kata orang. Pada malam harinya, Tuhan sendiri yang menyuruh Bileam untuk pergi bersama para pemuka Moab, tetapi saat pagi hari Bileam melakukan perintah Tuhan itu, Beliau malah menjadi marah atas apa yang Bileam lakukan dan menghalangi dia untuk pergi. Sesudah itu dia diijinkan lagi di ayat 35. Bapak/Ibu baca sendiri ceritanya nanti. Ku pikir, “Apa tak bingung, Mr. Bileam ini?!” Oh ya saya pakai kata ‘Beliau’ karena saat baca tentang kisah Bileam ini, saya terpikir ingin menambah suasana segar saja ya. Bileam – Beliau – hampir sama bacaannya, jadi jangan dianggap sesat ya. Oke? Bisakah kita disesatkan? Ya, bisa. Kalau Bapak/Ibu meremehkan status sendiri di dalam Kristus Yesus atau tidak percaya sama sekali kalau Bapak/Ibu adalah anak-anak Bapa yang terkasih di dalam Kristus Yesus, niscaya lambat laun Bapak/Ibu akan terseret arus pengajaran yang tidak berpusat pada Tuhan Yesus. Makanya di Agape Grace Fellowship, kita selalu menyarankan Bapak/Ibu untuk selalu baca Alkitab tentang Tuhan Yesus. Pusatnya tetap harus Tuhan Yesus, meskipun kita bergerak ke kanan atau kiri, depan atau belakang. Kita ini seperti di dalam perahu yang sedang berlayar di lautan. Kalau kita tidak melemparkan jangkar ke dalam laut saat kita berhenti, sudah pasti kita akan terseret oleh gelombang laut. Ya kalau gelombangnya besar, kita tentu bisa tahu saat kita sudah diseret ke tempat lain. Tetapi coba kalau gelombangnya kecil, bagaimana? Semasa kecil, papa saya selalu membawa saya untuk melaut, hampir setiap minggu. Kami punya satu unit sampan waktu itu. Saat berhenti di tengah laut untuk acara puncaknya yaitu memancing ikan, nelayan yang membantu papaku akan melemparkan jangkar terlebih dahulu supaya perahu itu tidak bergeser jauh dari titik dimana dia merasa akan banyak ikan di daerah sekitar. Saat arus laut memindahkan kami perlahan-lahan, kami tidak lagi kuatir akan terbawa arus ke tempat yang jauh dari area pilihan memancing. Jangkar itu adalah penahan perahu dari pengaruh angin dan arus laut. Nah, kalau jangkar kita sudah menyentuh dasar laut, kita tidak akan terbawa arus terlalu jauh, tetapi hanya sebatas panjang tali atau tambang yang mengikat jangkar tersebut. Kita bisa merasakan adanya hentakan yang terjadi karena tarikan antara perahu dengan tali tambang atau rantai dari jangkar yang sudah tertancap di dasar laut. Dari sana kita bisa memperkirakan bahwa kita sudah bergeser seberapa jauh dari posisi awal. Kalau itu terjadi, nelayan papaku itu akan mengayuh perahunya balik ke posisi awal tadi kalau dia merasa memang di situ lebih banyak ikannya. Tetapi itu jarang terjadi karena panjang tambangnya pas-pasan dengan kedalaman laut. Maklumlah, sampan kecil…
Mengapa saya bercerita tentang jangkar perahu? Ini penting sekali untuk kehidupan kekristenan kita. Sering kali kita diterpa masalah ataupun hal yang berhubungan dengan pengajaran agamawi, kita sulit untuk menerima kenyataan ataupun kebenaran tentang Tuhan Yesus hanya karena satu dan lain hal yang belum terjadi di dalam hidup kita. Mengapa itu terjadi? Semua itu terjadi karena kita tidak melemparkan jangkar (atau harapan/iman) kita kepada Tuhan Yesus. (Ibrani 6:19) Lebih sering kita tidak mau jangkar itu atau harapan atau iman kita itu menyatu dengan atau bersandar pada Tuhan Yesus. Makanya banyak saudara/i yang hidupnya terombang-ambing oleh banyak pengajaran yang bukan berpusat pada Kristus dan karya-Nya di atas kayu salib yang sudah tetelestai alias selesai. Contohnya, sebentar-bentar saat membaca ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan satu sama lain, langsung pindah agama karena kebingungan atau menjadi takut akan kehidupan ini saat kenyataan yang diraih berbeda sama sekali dengan Firman Tuhan. Riak-riak pengajaran itu kecil saja, tetapi tanpa disadari bisa menghanyutkan banyak orang percaya. Contohnya masalah Bileam tadi, kalau saja kita tidak membenamkan diri kita pada Tuhan Yesus, langsung kejang-kejang roh kita mencoba untuk mencari ‘kebenaran’ lain. Bapak/Ibu, yang banyak tidak diketahui oleh orang banyak adalah saat jangkar perahu itu menyentuh dasar laut, jangkar itu tidak lagi memakai kekuatan sendiri, tetapi sudah menyatu atau terkait dengan dasar laut. Akan lebih bagus lagi kalau jangkar itu bisa menembus atau tertancap ke dalam dasar laut, bukan hanya jatuh di atas permukaan dasar laut tersebut. Jikalau jangkar itu tidak menyentuh dasar laut, maka daya jangkar itu juga akan terbawa arus karena masih tetap menjadi bagian dari perahu. Tetapi kalau sudah menyentuh dasar laut, perahu kita sudah menjadi bagian dari BUMI. Jangkar itu kecil sekali kalau dibandingkan dengan dasar laut yang luas. Begitu juga saat iman kita itu diserahkan pada Tuhan Yesus, kekuatan yang bakalan terjadi bukan lagi milik kita saat iman kita menyentuh ataupun menembus Fondasi Surgawi yaitu Tuhan Yesus Kristus itu sendiri. Saat itu terjadi, kita tidak akan bingung lagi atau mengeluh yang berlebihan manakala suatu hari ada satu pendeta yang tiba-tiba berbicara tentang Tuhan yang ‘moody’ juga (atau menggunakan Bahasa asing) dan Bapak/Ibu tidak cocok mendengar isi khotbah itu. Atau mungkin seperti suatu saat nanti saya akan menceritakan tentang Roh Kudus sebagai satu sosok Ibu supaya kita bisa mengerti kekuatan para suami itu apa sebenarnya, saat Bapak/Ibu sekalipun belum mengerti tentang hal itu, Bapak/Ibu tidak akan merasa terganggu atau tiba-tiba panik tak tahu arah lagi, sebab Bapak/Ibu sudah bertumpu kuat pada Tuhan Yesus dan ada damai yang menyertai. Jika kita mulai dari Yesus, maka kita harus akhiri di dalam Yesus juga. Ya, hitung-hitung Bapak/Ibu tidak akan goyah ataupun bimbang lalu pindah gereja hanya karena Pak Hugo ini menceritakan sesuatu hal yang masih baru di telinga. Tetapi sebaliknya, Bapak/Ibu bisa langsung tanya Tuhan Yesus, karena sebenarnya Iman Yesus bekerja di balik semua itu.
Nah balik lagi kita pada perasaan damai tadi, seperti apakah itu sebenarnya? Bapa di Surga yang baik memberikan contoh di dalam Kitab Hakim-Hakim pasal yang keenam tentang Tuhan Allah yang tetap setia meskipun bangsa Israel selalu berulah. Mereka kembali menyembah allah bangsa Amori. Saat itu dikatakan bahwa Tuhan mengijinkan bangsa Israel diserang habis-habisan oleh bangsa Midian, bangsa Amalek, dan bangsa dari Timur, sampai akhirnya mereka berseru kepada Tuhan Allah kembali. Kemudian Tuhan mengutus nabi kepada mereka dan membuka kembali jalan pertobatan. Malaikat Tuhan diutus kepada Gideon untuk meyakinkan dia memimpin bangsa Israel keluar dari cengkeraman bangsa Midian. Seperti halnya kita, Gideon juga mengeluh tentang keadaannya, bagaimana kaumnya Manasye itu yang terkecil dan sebagainya. Tetapi Tuhan tetap memandang dia gagah berani meskipun saat itu keadaan berbicara sebaliknya. Mengapa demikian? Karena Tuhan sendiri yang menjamin penyertaan-Nya atas Gideon. Tuhan berfirman bahwa Dia yang menyertai Gideon, maka dari itu dia akan mengalahkan bangsa Midian. (Hakim-Hakim 6:16) Di ayat 17, Gideon tahu kalau Penyertaan Tuhan itu sebenarnya adalah Kasih Karunia. Maksudnya begini, Bapak/Ibu, bahasa gaulnya adalah “Kita ini gak ada apa-apanya, jadi kalo Tuhan sampe bersedia menyertai kita, itu udah Kasih Karunia kali pon”. Coba kita selidiki, berapa persen kemungkinan Roh Kudus dapat tinggal di dalam diri kita tanpa Kristus Yesus yang mau membayar dosa-dosa kita? 10%? 1%? 0.1%? Tidak! Nol persen! Pikirkan saja… yang pertama, kita bukan bangsa Yahudi. Yang kedua, kita belum lahir saja sudah jadi musuh Tuhan. Jadi kalau Tuhan mau menjadi Papamu yang selalu ada bersamamu melalui Yesus Kristus, bukankah itu adalah Kasih Karunia? Jadi biarkan saja Tuhan yang mengatur semuanya. Mengerti kan? Lalu, Bapak/Ibu, Bro Gideon tak malu-malu minta tanda pada Tuhan melalui persembahannya, kalau-kalau yang berbicara padanya itu punya niat menipu. Karena di zaman itu, bangsa Israel sudah sulit kali untuk percaya siapapun. Zaman sekarang apa lagi, bertebaran dimana-mana para penipu. Tetapi ternyata Tuhan setuju dan akhirnya Gideon menyiapkan seekor anak kambing dan roti tak beragi. Dagingnya diletakkan ke dalam bakul dan juga kaldu atau kuahnya di dalam periuk dan meletakkan mereka di bawah pohon tarbantin lalu disuguhkannya. (Hakim-Hakim 6:19) Dan Tuhan menyuruhnya meletakkan daging dan roti tersebut ke atas batu dan mencurahkan kaldunya. (Hakim-Hakim 6:20) Lalu Malaikat Tuhan mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya pada daging dan roti tersebut. Lalu api keluar membakar habis semuanya. Kemudian Dia menghilang. (Hakim-Hakim 6:21) Terkejutlah Bro Gideon lalu berteriak, “Celakalah aku! Benar pula itu Malaikat Tuhan bah!” (Hakim-Hakim 6:22) Tetapi Tuhan berfirman, “Shalom! (Damai sejahtera bagimu!) Jangan takut. Engkau tidak akan mati.” (Hakim-Hakim 6:23) Nah, sesudah persembahannya diterima di sini, Tuhan sudah berbicara langsung kepada Gideon. Selanjutnya Gideon mendirikan mezbah dan menamakan tempat itu YHVH Shalom. (Adonai Shalom, kata orang Yahudi, karena mereka tidak boleh melafalkan nama Tuhan.) (Hakim-Hakim 6:24) Gambaran apakah yang Bapa di Surga ingin tunjukkan kepada kita? Saya melihat di sini, Tuhan menceritakan tentang Yesus Kristus yang akan dikorbankan supaya kita bisa mempunyai hubungan dengan Dia di dalam Kristus. Gideon itu artinya seorang tukang potong (bisa kayu, batu, dan lain sebagainya). Tuhan Yesus semasa di bumi adalah bukan saja Dia itu anak seorang tukang kayu, tetapi Dia juga seorang Tukang kayu. (Matius 13:55, Markus 6:3) Nah, kalau Allah adalah Raja, maka Yesus adalah Anak Raja. (Yesaya 52:7) Bapak/Ibu, Gideon digambarkan oleh Roh Kudus sebagai Yesus. Gideon mempersembahkan anak kambing dan roti tak beragi miliknya, seperti itu juga Yesus mempersembahkan tubuh-Nya yang tak bercacat cela. Daging dan roti tersebut dihanguskan oleh api di atas batu. Demikian juga Tuhan Yesus dihukum oleh karena kutuk yang seharusnya ditimpakan kepada semua manusia. Bagaimana keadaan Gideon? Dia tidak mati. Yesus kita juga tidak mati. Haleluya. Korban persembahan Gideon diterima oleh Allah, begitu juga dengan Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib diterima oleh Allah. Apakah hasil akhirnya? Allah bisa berhubungan langsung tanpa perantara lagi dengan Gideon. Begitu juga dengan kita yang ada di dalam Kristus Yesus, oleh karena Sang Anak sudah tidak mempunyai masalah lagi dengan Bapa, maka kita juga tidak mempunyai masalah lagi dengan Tuhan Allah. Tak bersisa hukumannya, yang ada hanya batu yang menjadi peringatan bagi semua orang. Di sanalah Gideon membangun mezbah dan menamainya Tuhan Sumber Sejahtera (BIS) – Tuhan Keselamatan (TB) – YHVH Shalom… (Hakim-Hakim 6:24) Dia, Tuhan Yesus Kristus, juga menjadi Batu Penjuru itu sendiri. (Efesus 2:20) Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah YHVH Shalom itu, Bapak/Ibu terkasih di dalam Kristus! Mezbah Gideon itu bisa hilang termakan waktu, namun Tuhan Yesus tidak akan lekang oleh waktu. Damai Sejahtera ataupun Keselamatan ini yang sudah Bapa persiapkan hanya semata-mata karena Dia mengasihi kita semua. Kalau kita sudah mengerti bahwa pendamaian sudah tersedia. Maka dari itu kita bisa beristirahat di dalam Kristus. Allah hanya butuh satu Firman untuk mengubah kutuk menjadi berkat, yaitu YESUS, sang Raja Damai! (Yesaya 9:6) Demikian juga yang kita butuhkan dan perlu kita lakukan ialah hanya mendengarkan Firman-Nya ini, selebihnya adalah bonus dalam hidupmu. So jangan kepo mencari jalan lain! Masih ingat tentang jangkar tadi? Lemparkan saja jangkarmu pada-Nya. Ijinkan Dia yang mengambil alih hidupmu. Amin?
“Tunggu, tunggu dulu, Bro Hugo, bagaimana caranya istirahat atau bahasa kerennya Rest itu?” Di dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia, Rest artinya juga bersandar. Coba bayangkan situasi ini: Bapak/Ibu mempunyai anak, situasi umumnya adalah kita menemani mereka bermain atau belajar sampai di satu titik mereka mulai gusar ataupun tidak mampu lagi mengerjakan tugas atau permainan. Apakah yang sering kita lakukan sebagai orangtua? Kita sering membiarkan mereka balik dan bersandar pada kita, lalu kita minta mereka tenang, mungkin merangkul mereka, dan kita mulai menunjukkan cara ataupun mengajari atau juga langsung memberi bantuan atau jawaban kepada mereka. Tugas mereka hanya perlu mendengarkan kita, memperhatikan atau belajar dari kita. Baru mereka bisa bersuara, “Oh rupanya saya salah, seharusnya saya lakukan ini terlebih dahulu. Rupanya bukan itu yang Bapa kehendaki. Waduh, rupanya benar dia itu penipu.” Kalau diteliti balik, lebih banyak masalah itu terjadi memang karena kita yang buat. Kita tidak tanya Yesus dulu, sesudah itu ngeyel lagi kalau dinasihati. Bapak/Ibu tahu kan apa artinya ngeyel itu? Mau menang sendiri begitu kira-kira artinya. Terus, ada lagi orang yang tidak sabar, ada yang memang sengaja lakukan padahal sudah tahu di depan itu tembok. Kalau ada masalah yang sudah parah kali, dan Tuhan minta kita lepaskan, ya lakukan saja. Akui saja kekalahan, misalnya. Legowo, kata orang. Kata Pastor Iskandar, “Let Go, Woi! Tetap semangat dan bangkit lagi! Kamu bisa!” “Tapi sakitnya itu di sini, Tuhan?” kata Meilani, “Santabi ale, Tuhan?” Itulah yang saya gambarkan sebagai Rest, yaitu kita bersandar pada Tuhan Yesus, bertanya, dan memperhatikan apa yang Dia mau kita lakukan. Jadi Rest in Peace (RIP) bukan artinya Kematian, tetapi Bersandar pada Pendamai itu alias Tuhan Yesus. Kita bersandar atau beristirahat pada Yesus bukan untuk duduk santai tanpa melakukan apa-apa, tetapi untuk belajar atau mencari jawaban atau penyelesaian dari Dia. Saya akan kasih contoh di dalam Alkitab. Mari baca Buku Yohanes 13:23-25. Di ayat-ayat sebelumnya, Yesus sepertinya menyelipkan pertanyaan siapa yang akan mengkhianati-Nya. Ayat 22 menyatakan bahwa mereka bingung lalu Simon Petrus menyuruh Yohanes yang sudah bersandar kepada-Nya untuk bertanya pada Yesus. Kemudian Yohanes bertanya, lalu Yesus menjawabnya dan menunjuk kepada Yudas Iskariot yang akhirnya mengkhianati Dia. Meskipun waktu itu mereka belum mengerti sama sekali. Mungkin beberapa puluh tahun sesudahnya baru Pak Yohanes itu sadar saat mau tulis bukunya dan berseru, “Oohhh….” Bapak/Ibu mau bersandar pada Yesus? Kalau mau, mari sebentar saya akan bacakan Efesus 2:8-22 untuk merangkumkan apa yang sudah kita dengar dari Tuhan dan menutup khotbah hari ini, karena saya juga ragu Bapak/Ibu akan membacanya di rumah, jadi dengarkanlah. (Roma 10:17) Kiranya semua ini menjadi rhema bagi hidupmu di dalam Kristus. Tuhan Yesus mengasihi Bapak/Ibu semuanya. Terima kasih, Tuhan Yesus, Engkau begitu baik!
Agape Grace Fellowship — 16 Oktober 2016 — Hugo Yongan
