Shalom,
Selamat pagi, Bapak/Ibu…
Saya bersyukur hari ini kita dapat berkumpul kembali. Mari kita berdoa, terima kasih Bapa, Tuhan Allah kami, untuk kasih-Mu yang tak berkesudahan. Engkau adalah Bapa yang setia bagi kami. Pimpin kami selalu, ya Bapa. Ajari kami untuk mengerti rencana-Mu. Kami percaya semua baik adanya sebagaimana kami terus memandang kepada-Mu, ya Yesus! Kemuliaan-Mu terus bersinar di dalam kami. Roh Kudus yang baik hati, kami ingin terus berada dalam kehangatan Cinta-Mu pada kami. Terima kasih karena Engkau sudah merawat kami dengan penuh kasih sayang. Lebih lagi Engkau menanamkan keyakinan kami di dalam Anak-Mu Yesus Kristus. Kami menjadi kuat berakar di dalam Kristus karena Engkau adalah kekuatan kami. Berkati hari-hari kami, Bapa di Surga. Lindungi orang-orang yang kami kasihi. Tuntun kami menjadi anak-anak-Mu yang penuh iman dan kuat dalam menghadapi dunia ini. Kami bersyukur hanya di dalam nama Yesus Kristus. Amin!
Salam sejahtera bagi Bapak/Ibu sekalian. Damai sejahtera menyertai kita semua. Saya berdoa kiranya kita semua baik-baik adanya. Saya percaya hari-hari ke depan akan lebih baik buat anak-anak Tuhan, terlepas dari masalah-masalah yang sedang kita hadapi. Kita tidak perlu berpura-pura tidak mempunyai masalah. Saya sudah sering mendengar orang berseru-seru, “Luar biasa, saya diberkati! Siap, Komandan!” dan melihat hasil dari seruan mereka berbeda dengan ucapan mereka. Kekecewaan demi kekecewaan menumpuk satu per satu seperti tugas-tugas kuliah yang kita abaikan. Kalau masalah-masalah itu tidak segera dihadapi, maka mereka akan menjadi masalah yang lebih besar. Hasil akhirnya akan sangat berbahaya, selain memakan waktu juga, semangat kita akan terkuras, karena akan membuat kita sepertinya meragukan janji Tuhan. Saat keraguan mulai menjamur, pasti lama-lama kita akan berpura-pura – pura-pura siap, pura-pura baik, pura-pura sehat, pura-pura mendengar, pura-pura kaya, dan sebagainya. Bapa di Surga tidak meminta kita untuk memakai Topeng Yesus, tetapi Dia menjadikan Yesus sebagai Kepala kita langsung dan kita adalah Tubuh Kristus! (Kolose 1:18) Ini melambangkan suatu hubungan yang tak terpisahkan. Kalau dipisahkan, maka hanya ada kematian. Jangan ada dusta di antara kita dan Tuhan, supaya kita bisa datang kepada Bapa apa adanya tanpa topeng. Apa yang telah terjadi di Taman Eden dengan manusia and Tuhan jangan lagi terjadi di sini. Jangan menutup-nutupi masalah kita sendiri tetapi izinkan Bapa yang menyelesaikannya. Kalau saja Adam dan Hawa tidak bersembunyi dan jujur, mungkin jalur ceritanya akan berbeda lagi. Tetapi memang keinginan daging berbeda dengan keinginan Roh. Sekarang kita sudah menjadi bagian dari Kristus Yesus. Kita adalah ciptaan yang baru. (2 Korintus 5:17) Apa yang telah ditulis di dalam Alkitab itu semua menjadi bahan pelajaran bagi kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Hindari semua yang jahat yang bisa kita perbuat pada diri sendiri maupun orang lain. Jangan lagi terjebak dalam tipu muslihat iblis. Si iblis memang senang-senang saja melihat kita terluka. Tetapi Yesus mempunyai rencana lain bagi kita, yaitu rencana yang menghidupkan segala aspek kehidupan kita di dalam Dia. Yang akan mempertahankan hidup kita itu bukanlah kita sendiri, jadi jangan kuatir dengan hidup kita. Yang Tuhan Yesus inginkan dari kita adalah untuk belajar membangun kembali hubungan agar Darah dari Kepala bisa tetap mengalir ke tubuh-Nya dan sebaliknya dari tubuh-Nya dipompakan kembali ke Kepala secara terus menerus. Dengan demikian baru bisa kita katakan ada kehidupan dalam Kristus. Permasalahannya adalah bukan aliran darah dari Kepala ke tubuh yang tersendat, tetapi tubuh Kristuslah yang mengalami kesusahan dalam membawa atau mengalirkan darah Kristus balik ke Kepala. Artinya kita mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan Yesus, sang Kepala. Bagian Yesus sudah tetelestai (selesai). Yang tinggal hanya bagaimana kita menanggapi Firman-Nya. Saya percaya satu-satunya jalan adalah hanya kedekatan atau keintiman hubungan saja yang bisa membuat siklus peredaran Firman Kristus menjadi lancar lewat darah-Nya. Makanya jantung itu ada di tubuh, bukan di kepala. Allah mau kita melanjutkan hubungan itu – membangun hubungan dengan-Nya dengan perasaan menggebu-gebu, dan tentu saja menikmati hubungan itu. Dia sudah memberikan tubuh dan darah-Nya, tinggal bagaimana kita menanggapi Firman ataupun panggilan-Nya. Itulah sebabnya pada setiap kesempatan, saya juga selalu mengajak Bapak/Ibu untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, karena saya sangat percaya hanya itu satu-satunya kebenaran yang bakal menjembatani dirimu dengan Tuhan dengan sempurna dan utuh. Minggu lalu, Ps Olivia mengatakan, di dalam Yesus, kita semua adalah utuh. (Yakobus 1:4) Dikatakan di sini bahwa kesabaran atau ketekunan ataupun daya tahan membuahkan kesempurnaan dan keutuhan. Terkadang saya juga bisa menjadi tidak sabar. Maunya janji Tuhan yang notabene “Ya-dan-Amin” itu cepat-cepat terpenuhi dalam hidupku. (2 Korintus 1:20) Ya, saya pribadi juga sedang membangun hubungan ini agar panggilan-Nya dalam hidupku semakin jelas. Saya juga bisa merasa kehilangan Yesus di saat saya berpaling pada hal-hal lain. Saya percaya Bapak/Ibu juga merasa demikian. Tetapi itu tidak berarti Yesus tidak bersama-sama kita. Yesus dan kita sudah menjadi satu yang tak terpisahkan. Dari tadi saya menggunakan kata ‘Membangun.’ Kata ini sesungguhnya sangat bermakna yang dalam. Yang namanya membangun sesuatu itu pasti memerlukan waktu… dan kalau sudah berhubungan dengan waktu, berarti sangat membutuhkan kesabaran. Dalam Perjanjian Baru, kita mengenal dua bentuk kesabaran (patience) yaitu kesabaran makrothumia yang berhubungan dengan reaksi terhadap orang-orang dan kesabaran hupomone yang berkaitan dengan ketabahan dalam menghadapi situasi. Yang namanya kesabaran pasti jangka waktunya panjang. Tidak ada orang menyebutkan ‘pendek sabar’, tetapi yang ada adalah ‘panjang sabar’. Kalau pendek, ya pasti bukan sabar. Makanya ada istilah sumbu pendek. Mana ada kalimat seperti “Pak Arnot menunggu dengan sabar sambil marah-marah.” Kesabaran itu juga mempunyai kesan bahwa seseorang itu meskipun memiliki alasan yang benar untuk marah atau balas dendam misalnya, tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya atau kata lainnya dapat menahan diri. Bapak/Ibu termasuk yang sabar atau tidak?!
Apa sebenarnya yang menjadi tujuan bagi kita untuk membaca Alkitab, berdoa, bernyanyi, memuji dan menyembah Tuhan? Saya percaya jawabannya hanya satu yaitu sebenarnya Tuhan mau agar kita senantiasa dapat mengarahkan pandangan kepada-Nya, memusatkan diri kita pada-Nya. Kalau saya berbicara dari sudut pandang Tuhan, maka saya perhatikan sebenarnya Beliau ingin mengalihkan pandangan kita (yang cenderung kepada hal-hal duniawi) hanya kepada Dia saja. Tujuan-Nya tidak lain adalah agar kita dapat hidup, dan hidup dalam kelimpahan-Nya. (Yohanes 10:10b) Mungkin secara tidak sadar, kita sedang dilatih oleh Roh Kudus untuk memandang pada Yesus setiap saat, namun sering kali kita mengabaikan semua itu. Kita bukan berdoa, atau memuji, atau menyembah Tuhan agar Dia bisa bertambah besar. Kita tidak membaca Alkitab untuk membuat Alkitab menjadi buku yang paling laris sedunia (Best-Seller). Tuhan tidak gila hormat seperti kita manusia. Allah tidak butuh manusia untuk menyembah Dia agar telinga-Nya atau kepala-Nya bertambah besar dari hari ke hari. Hubungan yang serius dan penuh kesabaran dengan Yesus akan membawa kita menjauh dari kepura-puraan. Bapak/Ibu, Tuhan Yesus adalah panutan kita dalam bersabar menghadapi segala rintangan. Rupanya ada alasan mengapa Dia meminta kita untuk menyangkal diri dan memikul salib dan mengikuti-Nya. Saya memilih untuk mengkhotbahkan kesabaran dalam memikul salib kita. Mungkin dalam sudut pandang yang berbeda. Saya tahu ayat-ayat yang berkenaan dengan hal itu bukanlah ayat-ayat kesukaan bagi banyak orang percaya. Banyak orang cenderung memilih untuk tidak mendengar tentang penyangkalan diri dan memikul salib. Kata mereka, “Berat kali…” Tetapi saya berdoa, setelah Bapak/Ibu mendengar penjelasan saya, mungkin engkau tidak akan takut lagi mengalami apa yang Yesus telah alami. Setidaknya saya bisa memberikan sedikit gambaran sebenarnya apa yang Tuhan Yesus maksudkan dengan semua itu. Kita baca dari Kitab Lukas 14:25-27 (TB) saja: “Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Matius 10:38; 16:24, Markus 8:34-35, Lukas 9:23-25; 14:26-27) Pada Kitab-kitab lainnya, juga ada disebutkan tentang menyangkal diri. Pada Kitab Lukas 14 ini, hal menyangkal diri itu tidak tertulis secara langsung, melainkan dipertajam lagi atau diperjelas lagi. Yesus menjelaskan dengan sangat keras bahwa untuk mengikuti-Nya, orang-orang harus membayar harga yang mungkin tidak masuk akal bagi dunia. Kata-Nya pada orang-orang saat itu, untuk menjadi murid-Nya, mereka harus membenci orang tua mereka, pasangan mereka, anak-anak mereka, saudara-saudari mereka, dan bahkan diri mereka sendiri. Wah, salah baca atau bagaimana ini? Bertolak belakang sekali dengan Tuhan yang penuh kasih! Orang-orang yang beragama lain akan teriak, “Tidak! Itu bukan Tuhanku! Itu kejam sekali! Tuhan macam apa itu?!” Benarkah Tuhan itu kejam? Mari kita sejukkan diri sebentar dengan membaca ayat favorit Bapak/Ibu yaitu Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Sejuk sekali sewaktu membaca ayat ini, apalagi pada saat bulan puasa, tetapi yang mungkin tidak kita perhatikan benar-benar adalah kata “mengaruniakan, atau memberikan, atau menyerahkan, atau mengorbankan.” Memang Bapa di Surga mengaruniakan anak-Nya kepada kita, tetapi sebenarnya dengan harga Yesus harus menjadi kutuk itu sendiri sehingga Dia harus dibenci oleh Bapa-Nya sendiri sewaktu di atas Kayu Salib. (Galatia 3:13) Allah Bapa harus “menyangkal” Kasih-Nya sendiri. Tuhan yang penuh kuasa itu, yang menciptakan langit dan bumi ini, harus menyangkal diri-Nya seperti tidak berdaya atau tidak menggunakan kuasa-Nya untuk menyelamatkan Anak-Nya yang sedang dihakimi. Sepertinya Dia harus membenci Anak-Nya sendiri hanya untuk mengasihi yang lain. Nah, apa yang Tuhan Yesus lakukan? Dia juga menyangkal diri-Nya sendiri seperti yang Dia ‘pelajari’ dari Bapa-Nya. (Yohanes 5:19-20) Apa yang Dia sangkal dari diri-Nya? Kuasa-Nya! Identitas-Nya! Contohnya sewaktu Dia dicobai oleh iblis di padang gurun, Dia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk melepaskan diri-Nya dari pencobaan. Pastinya bukan masalah bagi Dia untuk mengubah batu menjadi roti ataupun memanggil malaikat-malaikat-Nya. Tetapi Dia menyangkali semua hal mengenai ketuhanan-Nya. Kalau mau, Dia tinggal menjentikkan jari-Nya seperti Bang Thanos, niscaya para pendakwa itu langsung jadi abu. Ah, tidak lucu kalau Bapak/Ibu belum menonton film Avengers itu. Proses penyaliban-Nya bagaimana? Apakah Bapak/Ibu bisa merasakan bahwa Dia juga menyangkali diri-Nya saat Dia memikul Salib-Nya? Dia menyangkali diri-Nya yang penuh kuasa itu sebagai Tuhan, dan memilih untuk menjalani semua penyiksaan tanpa kuasa ilahi-Nya. Tubuh-Nya dicambuk sampai kelihatan tulang-tulang-Nya. Wajah-Nya dirusaki sampai tidak bisa dikenali lagi. Dia harus mengangkat Salib yang berat itu sambil mendengarkan hinaan ataupun ratapan orang-orang yang menyaksikan jalannya siksaan itu dan merasakan tatapan mata prajurit-prajurit Romawi yang seperti singa-singa yang mengaum di sekeliling-Nya yang sedang mencari titik kelemahan-Nya, yang sekali-kali mencambuk tubuh-Nya. Dia jatuh beberapa kali dan akhirnya dipaku pada Salib yang berat itu di Bukit Golgota. Sakitnya minta ampun! Darah bercucuran dimana-mana. Waktu terasa lambat sekali berlalu, dan di dalam hati kecil-Nya mungkin berkecamuk ingin segera mengakhiri siksaan itu dengan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk menyudahi semua itu. Tetapi Dia terus memandang kepada Bapa-Nya dan berkata dalam hati, “Aku mencintai mereka! Mereka harus hidup!” Ada satu gambaran yang bagus dimana seseorang yang bernama Simon, orang Kirene, yang ingin masuk ke kota Yerusalem sewaktu Yesus digiring keluar dari Yerusalem. Dia dipaksa oleh prajurit Romawi untuk membantu pikul Salib Yesus karena saat itu Yesus sudah sangat lemah. Ada yang berkata si Simon itu bukan Yahudi, ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Yahudi yang sudah tinggal di Kirene, daerah Afrika Utara, yang sekarang kita kenal dengan nama Libya. Kalau berdasarkan yang tersirat dalam Lukas 23:26 dalam versi NKJV, saya boleh katakan dia itu non-Yahudi. Tetapi terserah pemahaman masing-masing orang. Itu bukan masalah. Yerusalem melambangkan Allah karena di sana ada Bait Suci yang kudus, di luar dari itu adalah dunia. Orang-orang dunia sibuk mencari tuhan mereka sendiri. Simon datang ke Yerusalem untuk mencari Allah dan perjalanannya terhalang oleh prajurit Romawi yang sedang menggiring Yesus keluar. Saya mengartikan ini bahwa pencarian manusia (Simon) akan Tuhan tetap akan terhalang oleh Hukum (Romawi) karena dosa. Manusia tidak dapat datang kepada Tuhan. Tetapi saat Simon (kita) sepertinya ‘dipertemukan’ dengan Yesus di persimpangan, perjalanan hidupnya berubah total ke arah yang lebih baik. Meskipun dia harus berputar ke arah yang berlawanan dengan tujuan awalnya – berlawanan dengan keinginannya. Arti tersembunyinya adalah dia juga ikut dihukum karena dia ikut memikul Salib bersama Yesus. Kelihatannya sial kali dia hari itu. Tidak punya pilihan lain! Sebenarnya hanya ada dua pilihan (01 atau 02), yaitu ikut dihukum memikul Salib bersama Yesus tetapi hidup sesudahnya (Ya, Simon tidak ikut disalibkan) dan kalau dia tidak mau ikut, saya pikir dia juga akan mati. (Matius 10:38-39) Prajurit Romawi itu pantang ditolak. Maksudku hukum harus dipatuhi, kalau dilanggar berarti dosa. Jangan ribut dengan hukum! Hukuman bagi yang makar adalah kematian. Artinya, kalau Simon tidak mematuhi perintah prajurit Romawi yang sudah diberikan kewenangan khusus itu, maka dia pasti mati karena menolak perintah demi nama hukum. Seperti manusia juga akan binasa jika mau mengambil jalannya sendiri. Tetapi kalau manusia memutuskan berbalik menuju Jalan-Nya Yesus (Menerima Yesus sebagai Juruselamat) dan bersama-sama Yesus memikul Salib-Nya, maka manusia akan beroleh hidup atau keselamatan. Salib mempertemukan kita dengan Yesus. Simon akhirnya memilih memikul Salib itu bersama-sama Yesus. Yesus di depan, dan Simon mengikuti jejak kaki-Nya dari belakang. Langkah kaki mereka harus seirama. Mereka jatuh beberapa kali tetapi yang terutama adalah Simon telah menjadi bagian dari tubuh Kristus. Bapak/Ibu juga mungkin sudah jatuh berkali-kali, tetapi ingatlah satu hal tadi, bahwa engkau telah menjadi bagian dari tubuh Kristus. Jadi ikutlah apa yang Simon pilih! Dia sangkal keinginannya hari itu dan mengikut Yesus dan hidupnya berubah… Kalau kisah di dalam Alkitab terhubung dengan benar seperti yang saya percayai, Simon dan keluarganya tercatat mengambil peranan penting dalam kehidupan orang-orang Kristen.
Bapak/Ibu sekalian yang Tuhan Yesus kasihi, itu semua adalah proses yang harus dilalui oleh Tuhan Yesus. Kesabaran-Nya selama ini telah menyelamatkan kita. Sekarang kita adalah anggota-anggota tubuh Kristus dan Yesus adalah Kepala. (1 Korintus 12:27) Hari ini, kita mendapat kehormatan untuk menghidupkan kembali kisah pengorbanan-Nya untuk dunia. Hidup kita yang sekarang adalah proyeksi atau gambar perjalanan Salib Yesus yang diperbesar. Kita sedang mengalami penderitaan seperti yang diderita oleh Yesus yang mungkin dalam gambaran yang berbeda, tetapi ingat bahwa kitalah yang sedang dihukum waktu itu. Namun seperti Yesus yang bertahan, kita juga harus bertahan memikul salib itu dan dengan berani menyangkal diri kita sebagai anak-anak Allah yang penuh kuasa. Saat kita dihina oleh orang-orang, kita tidak menggunakan kuasa kita sebagai anak Tuhan untuk melepaskan diri dari penghinaan. Misalnya, kita sering mengutuk kalau lagi marah-marah, “Jadi kodok lu demi nama Yesus!” Bapak/Ibu mengerti mengapa mereka yang dikutuki tidak bisa menjadi kodok? Ya, saya kira karena memang Yesus tidak mau kita menyalahgunakan kuasa-Nya. Artinya sebagai anak-anak Tuhan, kita belajar untuk tidak sembarangan menggunakan kuasa Tuhan dengan semena-mena. Kita sedang dilatih oleh Tuhan untuk menghadapi segala tantangan. Kita sedang diajari oleh Tuhan untuk menjadi lebih baik. Kita sedang dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi anak-anak-Nya yang tidak cengeng (manja). Untuk bisa mengerti arti memikul salib, kita harus mulai melihat diri kita dari sudut pandang yang berbeda sebagai anak-anak Allah yang memiliki kuasa. Tuhan Yesus adalah Model Sejati yang harus kita ikuti (follow) kalau Dia ada Instagram atau Twitter-Nya. Sikap kita seharusnya selalu menanti-nantikan apa yang mau dia firmankan pada kita setiap saat – seolah-olah kita tidak sabaran tetapi bukan berpura-pura. Kalau Yesus bisa menahan diri dari menyalahgunakan kuasa-Nya, maka kita juga bisa menahan diri. Jika Yesus itu mampu bertahan dan panjang sabar, maka kita juga bisa tabah menerima segala serangan iblis. Ada saat-saat dimana kita lemah dan itu bisa menjadi titik serangan bagi iblis untuk melukai kita sebagai tubuh Kristus. Misalnya saat Yesus mengangkat Salib dan tiba-tiba terjatuh atau melambat, kondisi seperti itu mungkin digunakan oleh prajurit-prajurit Romawi untuk mencambuk tubuh-Nya. Cambukan itu mungkin akan mengakibatkan luka koyak pada tubuh-Nya. Maaf yah, saya ilustrasikan AGF sebagai tubuh Kristus yang beberapa waktu yang lalu sedang dalam keadaan lemah dan terjatuh, lalu si iblis yang bagaikan singa ompong yang mengaum, menggunakan kesempatan itu untuk mencambuk tubuh Kristus tercinta ini hingga terkoyak. Ya, ada banyak hal yang bisa menjadi alasan terjadinya suatu perpecahan yang membuat titik kelemahan itu akhirnya tercium oleh si singa itu yang sudah sejak lama mengintai. Bisa jadi kesombongan, kemunafikan, atau yang lain. Hanya Tuhan yang tahu. Bagian kita bukan untuk merenungi nasib atau kesalahan kita, tetapi selalu hanya untuk memandang kepada Yesus. Alkitab mencatat bahwa dengan saling memperhatikan, kita bisa mencegah terjadinya perpecahan. (1 Korintus 12:25) Berarti ini adalah PR kita semua. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah kita mungkin terluka, tetapi kita tidak akan menyerah, karena Yesus juga tidak pernah menyerah.
Bapak/Ibu yang saya kasihi di dalam Yesus Kristus, saya akan akhiri khotbah ini dengan mendorong Bapak/Ibu semua untuk membangun kembali hubungan kita dengan Yesus. Supaya lancar peredaran Darah Kristus kita ini! Sudah waktunya bagi anak-anak Tuhan untuk berdiri teguh dalam iman. Tidak lagi goyah saat ada goncangan-goncangan yang menyerang fondasi kekristenanmu. Tidak usah kuatir dengan kelemahanmu. Kelemahan kita di dalam Kristus adalah kekuatan bagi Allah. Izinkanlah Yesus yang membelamu karena Dia akan jadikan itu kekuatan-Nya untuk melepaskanmu dari segala ikatan. Tuhan Yesus ingin kita semua bersabar dalam penantian dan pertumbuhan. Tuhan Yesus begitu mengasihi kita. Dalam segala hal, Dia persiapkan kita untuk menjadi bagian dari diri-Nya yang penuh kasih, sukacita, damai sejahtera, sabar, suka menolong, memiliki hati yang penuh perhatian, setia, lemah lembut dan mampu menguasai diri. (Galatia 5:22-23) Untuk membangun semua itu, Tuhan Yesus rela tinggal bersama kita. Roh Kudus bersedia menolong kita. Mari tutup mata, Bapak/Ibu, tahukah mengapa Yesus mau tinggal bersamamu? Dia tinggal denganmu karena Dia melihat engkau apa adanya, Dia mengenal engkau – seseorang yang selalu dikelilingi oleh kegelapan, seseorang yang tidak memiliki teman-teman yang bisa dipercayai, seseorang yang tanpa iman dimana kesetiaan ataupun kasih dapat bertumbuh atau hidup. Yesus menghubungkan Kehidupan-Nya dengan kehidupanmu agar supaya setiap hari engkau tidak perlu takut lagi akan dunia ini. Yesus adalah Terang di dalam kegelapan. Dia adalah Bukti yang hidup bahwa ada Jalan lain di saat kamu sudah putus asa dan bahwa kehidupan dapat menjadi baik dan bahwa kamu atau siapapun yang percaya dapat berharap menjadi seperti Dia. Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri sebagai bukti kasih-Nya pada dunia ini. Yesus melindungi hidupmu dan menjaga dirimu karena Dia bertekad untuk menyelamatkan dirimu. Bapak/Ibu mungkin berpikir bahwa engkau sudah kehilangan Dia, tetapi Dia berkata padamu saat ini juga, “Tidak! Tidak! Aku ada di sini!” Haleluyah! Hanya Engkau yang mengenal kami secara utuh, ya Yesus! Kami haus akan Engkau! Hujani kami dengan Firman-Mu yang hidup, ya Bapa. Kami ingin lebih dekat lagi kepada-Mu. Bawa kami mendekat kepada-Mu, ya Bapa. Kami ingin merasakan hangatnya dekapan kasih-Mu. Terima kasih, Bapa, untuk segala-galanya. Amin.
PERJAMUAN KUDUS:
BAPA DI SURGA, TERPUJILAH NAMA-MU, ALLAH KESELAMATAN KAMI. TERIMA KASIH, TUHAN YESUS, UNTUK TUBUH-MU YANG TELAH MENJADI BUKTI KEHIDUPAN KAMI DI DALAM-MU DAN DARAH-MU YANG TELAH TERCURAH UNTUK KAMI. SAAT INI KAMI MAU MEMPERINGATI APA YANG TELAH ENGKAU PERBUAT BAGI KAMI. KAMI BERSYUKUR, YA ROH KUDUS, UNTUK TUNTUNAN-MU YANG TAK BERKESUDAHAN. DI TANGAN KAMI ADA ROTI DAN ANGGUR, TUBUH DAN DARAH-MU TELAH MEMBAWA KAMI KE DALAM KESELAMATAN YANG KEKAL. KAMI TERIMA SEMUA PERSEKUTUAN YANG KUDUS INI DEMI NAMA-MU, YESUS, AMIN. MARI, SAUDARA-SAUDARI TERKASIH, KITA MAKAN DAN MINUM DENGAN PENUH UCAPAN SYUKUR DAN SUKACITA.
Dikhotbahkan oleh: Hugo Yongan, 19 Mei 2019, AGF Medan
