Damai sejahtera bagi Bapak/Ibu yang tercinta sekalian, apa kabar? Nama saya Hugo bagi yang belum kenal. Kalau sudah kenal, boleh panggil saya Yong An. Saya selalu penuh pengharapan bahwasanya Bapak/Ibu terkasih hadir di gereja setiap hari Minggu bukan dengan maksud mendapatkan atau menunggu berkat turun dari Surga, tetapi hanya ingin menikmati keindahan Tuhan Yesus dengan penuh ucapan syukur. Di luar sana, sudah banyak yang keluar masuk gereja dengan pelbagai maksud. Banyak yang lebih mengutamakan hubungan antar sesama daripada berhubungan dengan Tuhan; baik itu untuk kepentingan bisnis, pengetahuan, kencan (masih tahap pacaran atau masih incaran), dan bahkan ada juga yang bermaksud jahat seperti penipu misalnya. Tetapi hal-hal seperti itu tidak akan bertahan lama bilamana mereka tidak menginginkan Pribadi Yesus itu. Banyak yang telah gagal paham keberadaan Tuhan di dalam kehidupan mereka. Mereka tidak mengerti isi hati Tuhan yang benar-benar lebih mengutamakan hubungan daripada pengetahuan. Tuhan itu tidak gila hormat, Bapak/Ibu! Kita sering dengar kalau kasih ataupun jalan Tuhan itu tidak terselami. Sebelum Yesus hadir dalam kehidupan kita, memang sulit mendalami pikiran Allah, seperti yang Daud katakan. (Mazmur 139:17) Bahkan tidak mungkin bagi kita bangsa-bangsa lain. Sekarang, arti dari “tidak terselami” bukan lagi tidak terjangkau sehingga Bapak/Ibu harus sibuk cari cara untuk menyenangkan hati-Nya agar bisa mendapatkan berkat-Nya, tetapi agar kita dapat menikmati selalu setiap hubungan yang sudah terjalin. Sekalipun doa-doa kita itu terjawab, sadari bahwa semua itu adalah karena perkenanan-Nya, bukan karena doa-doamu itu keras bergema-gema ataupun penuh dengan mazmur yang indah. Dulu ada teman kita yang sering kali perkataannya selalu tertukar, misalnya “Yesus menjadi kaya supaya kita bisa menjadi miskin!” atau saat mengusir setan: “Demi nama iblis, Yesus keluar!” Mujizat terjadi juga, meskipun lidahnya terpeleset. Mungkin kita bisa berkata dalam hati, “Waduh, gawat!” Tetapi ternyata Tuhan juga bisa menggunakan kesempatan itu untuk menjamah orang-orang yang hadir. Ada banyak kejadian yang tidak kita ketahui, yang sudah terjadi di luar sana, yang Yesus sudah pergunakan untuk mengubah atau menolong kehidupan kita. Tidak melihat atau tidak merasakan sesuatu bukan berarti tidak ada sesuatu yang terjadi. Untuk orang-orang percaya, Alkitab katakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. (Roma 8:28) Izinkan Dia yang merancang kehidupanmu, Bapak/Ibu yang terkasih! Izinkan Dia memakai cara-Nya sendiri! Tuhan ingin kita mengetahui bahwa Kasih-Nya itu begitu besar sehingga apabila ada sesuatu yang lebih besar daripada pengorbanan diri-Nya, Dia pasti akan lakukan apapun itu agar supaya diri-Nya dapat berhubungan langsung dengan Bapak/Ibu sekalian. Tetapi ternyata memang tidak ada yang lebih besar dari pengorbanan Dia itu sendiri. Darah Kristus lebih berharga dari semua darah makhluk hidup yang digabungkan yang pernah ada di bumi ini. Nama kita tercantum pada setiap tetes darah-Nya. Jadi Dia bukan Tuhan yang berteduh di bawah kolong langit untuk menunggu orang-orang untuk menyembah dan mengorbankan sesuatu untuk Dia, tetapi Dia sendiri yang mengorbankan diri-Nya bagi kita agar supaya Dia bisa menjadi Tempat Perhentian/Perteduhan/Peristirahatan buat kita semua. Saya sebagai papa bagi anak-anak saya, sering menjadi pesawat terbang, perahu, bus, pohon, ataupun kuda bagi mereka. Saya yang lemah ini saja bersedia menjadi apapun yang mereka mau kalau saya sanggup. Terlebih lagi Tuhan! Saya percaya anak-anak saya tak akan bisa menyelami hati saya sebelum mereka menjadi papa bagi anak-anak mereka kelak. Mereka tidak tahu saat mereka melompat-lompat di atas badanku, sakitnya itu beda kali dibanding saat kita masih berumur 20 tahun. Tetapi saya tetap izinkan itu untuk kebahagiaan mereka. Artinya hubungan itu harus terus-menerus diselami dan dialami dan hubungan itu tidak satu arah saja. Bagi saya, inilah yang dinamakan ‘jalan-Nya yang tak terselami’. (Roma 11:33) Maukah Bapak/Ibu menyelami kasih-Nya? Maka jalinlah hubungan dengan Bapa di Surga dengan kesadaran bahwa Bapak/Ibu sudah ada di dalam Yesus.
Jangan lagi kita mengikuti pola pikir dunia ini, agar kita dapat membedakan mana yang menjadi kehendak Allah. (Roma 12:2) Artinya, jikalau kita tidak mau berhubungan dengan Yesus, bagaimanakah kita bisa mengetahui apa yang baik, yang berkenan kepada Bapa, dan yang sempurna itu?! Yesus berkata kepada Filipus bahwa barangsiapa yang telah melihat diri-Nya, dia telah melihat Bapa. (Yohanes 14:9) Bapak/Ibu mungkin berkata, “Boro-boro liat Bapa, liat Yesus aja belom pernah, Pak Hugo!” Di sinilah timbul banyak masalah, sehingga banyak orang tidak mau berhubungan dengan Tuhan, hanya karena mereka merasa belum pernah lihat Yesus. Bapak/Ibu, kita harus belajar melihat Yesus itu bukan dari raut wajah lagi! Kita harus bersikap seperti anak-anak. Bagi mereka, sejelek apapun wajah orangtua mereka bagi dunia, papa dan mama mereka kelihatannya adalah yang tertampan dan tercantik. Mereka tidak memperhitungkan kerutan wajah mama atau tahi lalat di wajah papa mereka. Mereka hanya tahu papa dan mama mereka mencintai mereka. Bagi mereka, orangtua adalah pahlawan. Yesus yang sekarang kita kenal ini bukan lagi seperti Yesus yang dulu berjalan di bumi. Bapak/Ibu, percayakah bahwa kita semua adalah bagian dari Tubuh Kristus? Kalau kita percaya, kita harus menyadari bahwa hanya melalui sang Kepala saja, yaitu Yesus, kita bisa melihat secara keseluruhan diri kita di dalam Dia. Kita hanya bisa melihat pada Yesus melalui Yesus sendiri. Makanya dikatakan kita memiliki pikiran Kristus. (1 Korintus 2:16) Kalau yang namanya pikiran Kristus, pastilah di dalamnya semua mengenai Kristus. Yang punya tugas untuk berpikirpun harus Yesus. Bagian kita adalah untuk percaya dan menerima saja. Kita memang bukan robot, tetapi percayakanlah kehendak Tuhan untuk menentukan hidup kita. Mari kita mulai melihat dan kenali diri kita di dalam Kristus Yesus. Kita tidak bisa berdiri sendiri sebagai anggota tubuh Kristus. Harus Yesus yang dapat menggambarkan tentang diri-Nya sendiri. Kalau Bapak/Ibu punya masalah dengan identitas diri, jangan tanya kepada bulan dan bintang, tetapi bertanyalah kepada Yesus. Bulan dan bintang tak bisa bicara. Tapi Roh Kudus bisa. Selidiki Yesus bersama-sama dengan Roh Kudus. Selain daripada pembentukan atau jalinan hubungan, bentuk studi atau pembelajaran apapun tanpa Roh Kudus tentang rupa Yesus itu bahkan tidak akan membawa kita lebih dekat dengan Dia.
Hanya dengan jalinan hubungan saja, kita bisa mengerti bahwa kita sebenarnya sudah menjadi satu dengan Dia. Yesus boleh saja menunjukkan diri-Nya pada seseorang secara fisik untuk kasus-kasus tertentu, tetapi kalau tidak ada Roh Kudus yang menjamah hati orang tersebut, dia tidak akan percaya akan hal itu. Makanya saya tidak berani berbicara tentang apapun tanpa mengakhiri semua itu dengan Kristus Yesus. Saya boleh saja berkhotbah tentang Hukum Taurat atau tentang pahlawan-pahlawan gagah perkasa dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu dengan semangat ’45 membawa bambu runcing segala, tetapi kalau sampai pada akhirnya, saya tidak menyajikan Yesus kepada Bapak/Ibu, maka terkutuklah saya. Rasul Paulus yang memastikan hal itu. (Galatia 1:9) Tuhan Yesus tidak pernah memperkenalkan diri-Nya seperti ini: “Halo Bapa, ini Aku Yesus, ini tangan-Ku, ini kaki-Ku, ini pinggang-Ku. Oh ya, tidak lupa juga ini telinga-Ku dan mata-Ku.” Tetapi bayangkan suasana suatu hari saat Yesus memperkenalkan Bapak/Ibu kepada Allah Bapa dan berkata secara keseluruhan, “Bapa, inilah tubuh-Ku!” Saya percaya, Dia tidak akan berkata, “Bapa, ini Yong An. Ini Iskandar. Ini Paul Loh. Ini Delima.” Kalau itu yang terjadi, nanti yang namanya disebutkan oleh Yesus duluan yang akan besar kepala. Bapak/Ibu harus mengerti gambaran ini, ya? Saya tidak berkata kalau Bapa di Surga sama sekali tidak mengenal kalian. Allah bukanlah Bapa yang membeda-bedakan anak-anak-Nya. Berbicara tentang Delima, saudari kita ini telah berpulang kepada Bapa di Surga pada tanggal 31 Agustus yang lalu. Mungkin ada orang di luar sana yang menganggap Delima itu bukan siapa-siapa. Dia tidak melakukan hal-hal yang hebat di mata dunia. Dia hanya tahu melemparkan senyum di dalam kepedihannya. Teman-temannya mengerti dia dalam kesakitan, tetapi mereka jadi terhibur saat Delima bersukacita. Saat dia tersenyum, mungkin mereka merasakan kehadiran Yesus. Dia tidak sempurna bagi dirinya sendiri, tetapi Yesus yang ada di dalamnya itu sempurna adanya. Ya, saya jadi ingat dia selalu cari perhatian setiap berjumpa dengan saya maupun orang-orang di sekitarnya. Maunya dia yang didahulukan dari yang lain. Kalau tidak ada kegiatan lain sehabis ibadah, kami sekeluarga selalu makan siang bersama dia dengan teman-teman yang lain. Jadi, Delima adalah seseorang bagi kami. Dia tidak akan makan siang bersama kita lagi. Namun dia meninggalkan satu pesan pada kita semua yaitu jangan pernah takut kepada keadaan apapun. Yang terburuk sudah pernah dia lalui dan itu tidak membuat dia kehabisan sukacita. Saya mau katakan bahwa Tuhan Allah memberikan perhatian atau penghormatan khusus kepada orang-orang seperti Delima. (1 Korintus 12:24) Tuhan Yesus tidak pernah membeda-bedakan kita berdasarkan tingkat pengetahuan ataupun status sosial. Bukan orang-orang pintar yang tahu banyak tentang Tuhan dan hukum-hukum-Nya yang akan masuk ke Surga, melainkan orang-orang yang percaya kepada Yesus dan pengorbanan-Nya. Tidak ada pintu khusus buat orang-orang tamatan S1, S2, dan S3. Tidak ada karpet merah buat para sarjana hukum dan teologia. Tidak ada pita khusus yang disematkan pada jubah kemuliaan buat para rasul, nabi, misionaris, pengajar, gembala, maupun pendekar sakti di Tiongkok daratan sana. Alkitab katakan semua orang percaya dibaptis dalam satu tubuh oleh satu Roh dan diberi minum dari satu Roh. (1 Korintus 12:13) Semuanya sama bagi Bapa. Untuk apa? Supaya tidak ada perpecahan dan semua yang berbeda itu bisa saling memperhatikan. (1 Korintus 12:25) Kalau hal ini dikehendaki harus berlaku di bumi, maka di Surga juga demikian. Tuhan Yesus tidak pernah memandang rendah kepada yang lemah, malahan Dia akan memberikan perhatian yang khusus kepada mereka, karena semua anggota tubuh-Nya diperhitungkan. Orang-orang sekelas jantung yang bekerja terus menerus dalam kerajaan Kristus tidak lebih berharga daripada orang-orang sekelas jari tangan yang sekali-kali menawari makanan pada orang asing misalnya. Mengapa demikian? Karena hanya jari tangan yang bisa dimasuki cincin kerajaan sang Raja. Kapan jantung baru bisa dipasang ‘ring’ atau cincin? Saat dia sudah mulai tersumbat. Oke, itu hanya ilustrasi. Tuhan Yesus tidak pernah melewatkan satu hal pun mengenai hidup Bapak/Ibu. Jadi kalau tadi di awal, saya ada mengucapkan “Damai sejahtera (shalom) bagi Bapak/Ibu yang tercinta sekalian…,” itu bukan dari saya, tetapi titipan dari Allah Bapa. Saat Bapak/Ibu mendengar Yesus berfirman, “Shalom,” maka hatimu tenang sebab engkau tahu badai di sekelilingmu takluk pada nama Yesus. Di saat tenanglah, engkau bisa mendengar lebih jelas lagi suara Tuhan. Agape Grace Fellowship senantiasa mendorong Bapak/Ibu untuk membangun hubunganmu kembali dengan Tuhan. Saya mengerti kadang sangat sulit melakukan hal itu, tetapi Tuhan tidak terikat dengan waktu. Jadi, ambil kesempatan itu sedini mungkin, tak perlu pakai pulsa untuk menghubungi Yesus. Jika Bapak/Ibu membutuhkan bantuan dalam hal hubungan ini, silahkan hubungi Ps Iskandar, Ps Olivia, maupun Ps Daniel. Mereka akan senang sekali membantu Bapak/Ibu dalam hal hubunganmu dengan Yesus. Kalau Bapak/Ibu ada perhatikan, tokoh-tokoh di dalam Alkitab seperti Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Daud, Salomo, dan kawan-kawannya yang lain itu semua, ada satu persamaan yaitu mereka tahu dengan Siapa mereka berhubungan terlepas dari kesalahan-kesalahan yang pernah mereka perbuat. Mereka mengenal Tuhan mereka. Abraham disebut sebagai sahabat Allah. Henokh hidup bergaul dengan Allah. Daud disebutkan sebagai seseorang yang berkenan di hati Tuhan, dan lain sebagainya. Semua ini mengarah kepada hubungan yang erat.
Dua minggu yang lalu, kita ada mendengarkan kesaksian Ps Susan Hoover bagaimana dulu dia senang bernyanyi dan menari dengan kencang di dalam kamar. Sekarang setelah menikah, dia tidak lakukan itu lagi, tetapi caranya sudah berubah sesuai keadaan. Nah itu adalah ekspresi atau gaya hubungan dia dengan Yesus. Meskipun sudah lain caranya, tetapi hubungan itu tetap terjalin. Bagaimana dengan saya? Lebih sering saya duduk diam berbicara dengan Tuhan di dalam hati. Bapak/Ibu tak akan bisa tahu saya itu sedang doa atau mati gaya. Ada saatnya saya bernyanyi di kamar mandi, di mobil, maupun saat berjalan kaki. Bukan lirik lagu atau musik yang membuat kita dekat dengan Tuhan, tetapi hubungan itu sendiri yang menjadikan segalanya istimewa. Saya menikmati hubungan itu dan saya berdoa hubungan surgawi yang seperti itu akan sepenuhnya menjadi nyata juga di kehidupan keluarga kita semua. Kan lucu sekali saat Bapak/Ibu mau bicara dengan orangtua, pasanganmu, atau anak-anakmu, masing-masing harus menghidupkan radio 101 untuk bernyanyi dulu beberapa saat, baru boleh berbicara satu dengan yang lainnya. Terus, asal bertemu, harus selalu membicarakan hal-hal baru yang belum pernah dibicarakan dengan sesama. Kalau tidak ada yang baru, cepat-cepat mau ke tempat lain. Jadi, begitu halnya hubungan Bapak/Ibu dengan keluarga, hal yang sama juga terjadi di dalam keluarga besar gereja. Banyak dari kita selalu ingin mendengarkan atau melihat hal-hal baru di gereja, dan berharap pastor kita bisa seperti pastor gereja yang di seberang rumah, dan menginginkan pujian penyembahan yang berapi-api seperti gereja tetangga. Kalau kita lakukan hal demikian, itu seperti kita menginginkan keluarga baru. Kata orang dunia, rumput tetangga lebih hijau. Saya pernah mengatakan bahwa saat kita berkumpul di sini, itu ibarat satu keluarga yang anggota-anggota keluarganya keluar dari kamar masing-masing dan berkumpul di ruang keluarga untuk berbicara satu dengan yang lainnya. Kita boleh berbicara banyak hal saat ada pertemuan, tetapi inti dari semua itu hanya satu, yaitu hubungan kekeluargaan. Jangan pergi ke gereja pada hari Minggu hanya untuk mendapatkan sesuatu yang baru atau heboh dari pengkhotbah. Pengkhotbah juga adalah manusia. Bapak/Ibu akan kehilangan sesuatu yang baru mengenai Yesus di dalam enam hari yang lain dari kehidupanmu sebelum hari Minggu itu, kalau fokusmu itu pada pendetanya. Saya harus ambil contoh pendeta. Namanya Ps JP. Banyak kali orang berharap beliau itu asal khotbah selalu mengeluarkan peluru baru tentang Yesus. Semua sibuk menantikan hal-hal baru yang beliau bisa singkapkan. Kenyataannya apa? Baru beberapa bulan yang lalu dia khotbah tentang Kitab Ester sesudah saya khotbahkan topik yang sama, tetapi pesan yang ternyata berbeda. Kita berdua bercerita tentang Ester dari sisi yang berbeda. Waktu itu, saya juga penasaran karena saya perlu konfirmasi. Saya minta isi rekamannya dari sana sini dan akhirnya saya dapatkan. Rupanya beliau khotbahkan kembali kisah Ester persis seperti yang sudah pernah dia khotbahkan 10 tahun yang lalu. Cuma mungkin karena sudah banyak yang lupa, mereka kira itu pewahyuan baru. Puji Tuhan, inti khotbah kami tetap sama dari dulu sampai selama-lamanya, yaitu tentang Yesus. Tidak ada yang baru di dalam Yesus. Dia tidak pernah berubah. Yang baru itu adalah hubunganmu dengan Yesus setiap saat. Hubungan kita dengan Yesus setiap detiknya diperbaharui oleh Roh Kudus, karena kita ini dikasihi oleh Yesus.
Dengan siapa kita menjalin hubungan sangat menentukan kualitas hidup kita. Kalau kita berhubungan erat dengan seseorang yang baik, umumnya kita akan menikmati hasil yang baik juga. Terlebih lagi dengan Bapa di Surga. Dunia memang mengajari kita untuk tidak bergantung pada siapapun kecuali diri sendiri. 自己靠自己!(ziji kao ziji) artinya diri sendiri mengandalkan diri sendiri. Benar bagi dunia, tetapi bukan bagi orang-orang yang percaya pada-Nya. Di luar Kristus, tanah masih di bawah jerat kutuk yang disebabkan oleh Mas Bro Adam (Kejadian 3:17). Tuhan tidak pernah menebus tanah dengan darah-Nya. Kalau tidak mau kerja, tak perlu makan loh, kata Rasul Paulus. (2 Tesalonika 3:10) Tetapi Bapa di Surga ingin supaya kita bergantung kepada-Nya. Bukan karena Dia mau kita menjadi malas atau memanjakan kita sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi supaya kita bisa menjadi lebih kuat dalam bimbingan-Nya untuk melakukan segala hal. Sebentar lagi saya akan kembalikan mimbar ini kepada Ps Iskandar. Namun sebelumnya izinkan saya mengingatkan Bapak/Ibu kembali bahwa semua hal yang baik tentang bangunan gereja, musik gereja, maupun kegiatan gereja adalah seperti makanan pendamping. Banyak orang dengan cepat bisa melupakan makanan utama, malahan makanan pendampingnya (seperti kentang goreng, sayur-mayur) yang berubah menjadi makanan utama. Mereka lahap semua tanpa menyentuh makanan utamanya. Fungsi makanan pendamping itu seharusnya adalah melengkapi atau merujuk kepada makanan utama. Secara rohani, Makanan utama kita adalah Yesus sang Roti Kehidupan. Makanan pendamping kita itu seperti kegiatan pendalaman alkitab, pujian dan penyembahan, kegiatan doa, ibadah pemuda, dan lain-lain. Apapun yang kita lakukan, baik itu pendalaman Alkitab, bakti sosial, maupun tata cara ibadah; semua itu seharusnya merujuk kepada Yesus, harus bisa menjelaskan tentang Yesus, dan bukan menjadi konsumsi utama kita. Saya perbesar skala ilustrasinya, ya? Bayangkan Bapak/Ibu menghadiri acara pernikahan seseorang yang mewah dimana mereka menyediakan banyak makanan pendamping, ada tari-tarian, ada kuis berhadiah, ada karaoke, dan lain-lain. Inti dari kehadiran Bapak/Ibu sudah pasti bukan pada acara pendamping itu, melainkan kedua mempelai itu. Pasti ada sesuatu yang salah dengan Bapak/Ibu kalau kalian datang ke pesta mereka disebabkan oleh nama restoran ataupun makanannya saja. Mereka mengundang Bapak/Ibu pasti karena ada suatu hubungan khusus; mungkin saja Bapak/Ibu adalah kerabat dekat, atau sahabat baik, ataupun hanya karena hubungan bisnis. Jadi fokus kita itu sebenarnya bukan acaranya, tetapi pribadi yang mengundang.
Demikian saya berdoa Bapak/Ibu bisa mengerti tentang pentingnya arah pandangan kita pada Yesus itu berdasarkan hubungan, bukan kegiatan. Kalau kita mengerti arti hubungan, Ibrani 6:14 yang terpampang besar di sini bukan lagi menjadi fokus atau target tahunan kita, tetapi sebenarnya bisa membawa atau memulihkan kembali hubungan kita dengan Bapa di Surga melalui Yesus Kristus. Tujuh minggu yang lalu, saya katakan arti terjemahan bahasa Yunani dari Ibrani 6:14 adalah “Dalam berkat Aku akan memberkati engkau dan dalam pelipatgandaan Aku akan memperbanyak engkau.” Hari ini saya akan menyingkapkannya dari sudut pandang yang berbeda lagi. Saya lupa saya harus berbicara tentang Ibrani 6:14 karena ini tema kita. Makanya terjadi wanprestasi atau ingkar janji. Saya katakan pada Ps Iskandar kalau catatan saya hanya 5 halaman, ternyata melebar menjadi 5.5 halaman gara-gara ayat ini. Baiklah, “Berkat” berbicara tentang Tubuh Kristus sebagai suatu media atau Jalan satu-satunya (Yohanes 14:6) karena yang namanya berkat adalah sesuatu yang bisa dinikmati, dimiliki, dimakan, dipegang, dan dirasakan. Kolose 1:17 menuliskan bahwa Yesus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Jadi Dia adalah Berkat itu sendiri. “Pelipatgandaan/multiplikasi” berbicara tentang kehidupan yang tiada akhir. Tuhan Yesus adalah sang Kehidupan. (Yohanes 14:6) Darah juga berbicara tentang kehidupan. Zat yang membawa kehidupan adalah darah. Jadi darah Kristus harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tubuh-Nya sendiri. Makanya Yesus harus menyerahkan Tubuh dan darah-Nya sekaligus kepada kita agar kita bisa hidup di dalam Dia. Kalau boleh saya terjemahkan Firman Ibrani 6:14, maka bunyinya akan seperti ini: “Dalam Yesus, Aku akan memberkati engkau dan dalam Yesus, Aku akan menghidupi engkau.” Atau untuk lebih jelasnya, “Dengan Tubuh Kristus, Aku akan memberkati engkau dan dengan Darah Kristus, Aku akan menghidupi engkau.” Haleluya! Ini adalah Hidup yang berkelimpahan itu (Yohanes 10:10b), yaitu Yesus yang ada di dalam kita dan kita di dalam Dia. (1 Yohanes 5:20) Luar biasa, semua berbicara tentang hubungan. Yesus adalah Penghubung Bapa di Surga dengan kita. Tuhan Yesus baik. Amin? Haleluya! Terima kasih, Yesus.
Dikhotbahkan oleh: Hugo Yongan, 15 September 2018, AGF
