Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

 

Shalom,

Bagaimana kabar semuanya? Saya berdoa semua baik-baik saja. Hari ini mungkin akan banyak memakan waktunya Bapak/Ibu. Bagi yang mau belajar, mungkin saat Bapak/Ibu mau setor dana ke toilet di luar sana, boleh minta saya berhenti sejenak. Demi Bapak/Ibu, saya akan hentikan waktu demi nama Tuhan Yesus! Sekadar mengingatkan, bila Bapak/Ibu membutuhkan doa atau konseling (penyuluhan), jangan sungkan untuk menghubungi Ps Iskandar, Ps Daniel, Ps Olivia, dan teman-teman pemimpin lainnya. Di atas semua itu, saya percaya Bapak/Ibu dapat mengatasi segala perkara bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Amin?! Satu minggu telah berlalu, sudah pasti banyak hal telah terjadi, namun Tuhan Yesus tidak pernah berubah! Dalam dunia politik, pribadi seperti Tuhan Yesus ini adalah yang paling ditakuti oleh para politikus. Poli artinya banyak. Tikus adalah binatang pengerat. Jadi politikus adalah banyak tikus. Mereka suka menggigit apa saja. Tak peduli itu uang logam atau uang kertas. Biasanya mereka sembunyi atau lebih suka di tempat-tempat yang gelap. dan susah mengenal mereka karena wajah mereka sama semuanya. Makanya tikus itu termasuk salah satu binatang yang haram untuk dimakan oleh bangsa Israel. (Imamat 11:29) Pribadi seperti apakah Tuhan Yesus kita, sampai begitu ditakuti ataupun dibenci oleh para politikus? Yaitu Pribadi Kebenaran. Manusia boleh berbuat banyak kebaikan, tetapi belum tentu benar. Tetapi jikalau ada orang yang benar, tentunya semua produk atau hasil dari kebenarannya adalah baik. Pohon yang baik atau bagus, tentu akan berbuah yang baik pula. Sayangnya, di antara semua manusia yang pernah ada di bumi tercinta ini, tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Tuhan Allah. Banyak orang mencoba meniadakan keberadaan dosa untuk membenarkan diri mereka sendiri. Banyak agama juga mengajarkan bahwa tidak mungkin bagi seseorang untuk menanggung dosanya orang lain. Artinya masing-masing orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Saya setuju dengan hal pertanggungjawaban atas segala tindak tanduk manusia di hadapan Tuhan. Tetapi, kesialan manusia adalah bahwa sebaik-baiknya manusia, tidak ada satu kebaikan pun yang dapat membenarkan dirinya sendiri. Jujur saja, kebanyakan orang salah perhitungan mengenai dosa. Mereka berpikir tentang dosa ringan dan dosa berat. Mereka menimbang-nimbang sendiri perbuatan mereka sendiri. Kata teman-temanku, “Sedikit dosa tidak apa, perbanyak saja kebaikan.” Misalnya kesempatan masuk surga bagi orang yang pintar lebih besar ketimbang orang bodoh, atau menyumbang 100 milyar rupiah untuk rumah ibadah lebih berpahala daripada yang menyumbang 1 juta rupiah, atau mencuri ayam tetangga lebih ringan hukuman di neraka nantinya ketimbang rencana korupsi 126 milyar rupiah untuk lem Aibon. Manusia pada umumnya selalu berpikir bahwa dosa atau kutuk itu masuk dalam kategori “Penambahan dan Pengurangan”, sehingga agama-agama dunia selalu mengajarkan untuk berbuat kebajikan agar supaya bisa mengurangi hasil dosa atau perbuatan jahat seseorang. Misalnya 1000 dosa itu dikurangi 1000 kebaikan misalnya, hasilnya sama dengan nol. Aman kan? Mereka mengenal istilah “Bagimu dosamu. Bagiku dosaku.” Lebih baik lagi jika kebaikanmu bisa lebih dari dosamu, yang berarti ada kelebihan kebaikan. Kalau kebaikanmu tidak bisa mengurangi dosamu, maka siap-siaplah kamu turun lewat tangga ke ruang bawah tanah. Tetapi di dalam Alkitab, baik kutuk ataupun berkat, pertambahannya justru dengan perkalian atau pelipatgandaan dalam bahasa aslinya, bukan tambah satu per satu. (Yesaya 59:12, 2 Korintus 9:10) Akibat dari masuknya dosa lewat Pak Adam, kutuk itu menjalar dengan berlipatganda. Jadi contohnya, katakanlah total kutukmu sudah berlipatganda menjadi 1000, maka secara matematisnya, bagi kutuk untuk bisa berkurang kembali, maka harus dibagi dengan total kebaikan. Masih ingat Matematika Dasar, kan? KABATAKU (Kali, Bagi, Tambah, Kurang)? Kalau perkalian, maka untuk membalikkannya harus dengan pembagian, demikian juga pertambahan dengan pengurangan. Contohnya 1000 kejahatan dibagi dengan 1000 kebaikan masih menghasilkan angka 1(satu). Hasil pembagiannya tidak bisa menjadi 0 (nol) lagi. Ini adalah gambaran kekuatan dosa yang seperti racun. Benarlah kata orang, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Mengapa tidak bisa terhapus? Karena memang jelas itu bukanlah dosa kita, tetapi adalah dosa turunan dari manusia pertama – Mr. Adam. Segala bentuk dosa atau pelanggaran yang kita pernah lakukan sampai hari ini dan yang bakal kita perbuat nantinya adalah hasil kutuk dari ketidaktaatannya Bro Adam. Sebelum Adam beranak cucu, kita semua masih berenang-renang di dalam Adam. Ketika Adam jatuh dalam dosa, anak-anaknya maupun kita pun belum dilahirkan. Jadi tidak mungkin bagi kita untuk menghapusnya. Makanya tidak akan pernah bisa menjadi nol. Jadi apakah Bapak/Ibu masih bisa melihat harapan? Tidak ada harapan sama sekali! Maka dari itu, Yesus Kristus ambil tanggungjawab itu. Tuhan Yesus menjadi manusia dan MENJADI DOSA itu. (2 Korintus 5:21) Tuhan Yesus itu tanpa dosa, tak bercacat cela (nol dosa). Saat Adam pertama berdosa, secara matematis, perhitungannya harus menambahkan dosa dengan keadaan awal yang tanpa dosa (0+1). Tidak bisa pakai perkalian, karena berapapun angka yang kita masukkan untuk dikalikan dengan nol, maka hasilnya pasti nol (0xn=0). Dan sudah pasti tidak bisa menghasilkan 1 (Dosa). Jadi baik itu dosa atau kebenaran, harus masuk dulu dalam arti ditambahkan, baru di dalamnya kutuk atau berkat bisa dikatakan dengan “dilipatgandakan”. Tetapi kalau Bapak/Ibu pernah belajar matematika tentang sistem faktorial maupun permutasi, maka mungkin Bapak/Ibu bisa mengerti apa yang saya tunjukkan. Sederhananya faktorial ataupun jua permutasi adalah adalah perhitungan mencari kemungkinan atau peluang suatu susunan kejadian. Misalnya berapa peluang cara penyusunan huruf A, B, dan C? Yaitu 3!=6 cara (ABC, ACB, BAC, BCA, CAB, CBA), 2!=2 cara, 1!=1 cara. 0!? Para ahli matematika setuju bahwa kemungkinan susunan dari angka 0 (nol) adalah 1 (satu). (0! = 1) Maksudnya adalah ada berapa cara untuk menyusun 0(nol) kue (misalnya) atau apakah yang namanya kekosongan itu bisa disusun? Jawabannya pasti ‘Tidak bisa’. Nah, adanya jawaban ‘Tidak bisa’ saja, inilah yang dianggap oleh para ahli matematika bahwa ada 1 (satu) cara yaitu ‘Tidak bisa!’ Bilangan nol (0) (bukan Kitab Bilangan) itu sendiri adalah dianggap satu. 0!=1!=1. Jadi inilah alasan mengapa saya membawakan persamaan ini untuk memberitahukan bahwa Tuhan Yesus BISA menjadi DOSA seperti yang ditulis dalam Alkitab. Nanti saya jelaskan lebih dalam lagi. (2 Korintus 5:21) Kalau mau jujur, kita tidak bisa mengesampingkan kebenaran bahwa Allah adalah segala-galanya; Kita sering katakan bahwa Tuhan Yesus adalah segala-galanya bagi kita. Berarti bahwa Dosa juga adalah bagian dari segala-galanya. Jangan mengantuk, ikuti saya terus! Saya tahu banyak yang pura-pura tidak mau bahas hal ini, karena mereka bingung bahwa jika Tuhan adalah segala-galanya dan dosa adalah termasuk di dalamnya, bukankah itu bisa berarti Tuhan berdosa atau bisa jadi bercampur dengan dosa? Itu pasti sudah menjadi pertanyaan kita semua. Kalau masalah ini saya balikkan, jika Tuhan adalah segala-galanya, tetapi dosa tidak termasuk di dalam-Nya, bukankah itu berarti Tuhan bukan segala-galanya? Bukankah itu bisa berarti bahwa dosa adalah seperti satu pribadi atau keadaan lain di luar dari Allah? Bingung kan? Mungkin lebih tepatnya kalau saya boleh gambarkan pada Bapak/Ibu bahwa dosa itu seperti salah satu dari ‘kepunyaan’ Allah. Maksudku begini, bayangkan Bapak/Ibu memiliki anjing peliharaan di rumah (anjing, kucing, laba-laba, cicak, kecoa, dan lain-lain). Sekarang bayangkan lagi dosa itu juga sebagai seekor binatang peliharaan. Sudah dapat gambarannya? Dalam Alkitab, dosa itu digambarkan sebagai ular beracun. Jadi dosa bukan salah satu dari sifat atau pribadi Allah, tetapi seperti milik kepunyaan Allah. Ingat itu ya! Harus bisa dibedakan. Mungkin saya bisa sebutkan dosa itu adalah satu keadaan tanpa Allah, tapi bukan di luar Allah (karena tidak ada yang di atas Allah). Di Taman Eden (Taman Eden sebenarnya adalah gambaran Allah sendiri yang di dalam-Nya ada segala-galanya), ada si ular yang menipu Adam dan Hawa. Adam dan Hawa akhirnya memakan Pohon Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (yaitu lambang Hukum, karena Hukum yang mengatur mana yang baik dan yang jahat.) Di Alkitab dikatakan bahwa kuasa dosa adalah hukum taurat, jadi dosa tidak akan berkuasa jika hukum tidak dimakan. (1 Korintus 15:56) Kemudian, waktu Musa menaikkan ular tedung tembaga pada tongkat (tembaga menggambarkan penghakiman), orang-orang yang digigit oleh ular-ular waktu itu (menggambarkan manusia yang terjerat perbuatan-perbuatan dosa) akan sembuh saat memandang pada ular Cobra tembaga itu. (Bil 21:4-9) Ya, ular Cobra itu adalah ular tedung. Kita sebutin Ular Sendok. Julukan ‘King Cobra’ itu adalah rajanya para ular! Penawar racun ular yang terbaik adalah dari racun ular itu sendiri. Serum anti bisa/racun ular itu dibuat dengan mengambil bisa/racun ular dan memasukkannya pada kuda sampai kuda itu menghasilkan antibodi penawar racun setelah beberapa bulan, lalu darahnya diambil dan dibuatlah serum untuk disuntikkan pada orang-orang yang digigit oleh ular. Kalau misalnya ada orang yang digigit oleh ular tedung/sendok, maka dia harus mencari serum yang berasal dari bisa/racun ular jenis yang sama. Apakah artinya itu? Yaitu Allah mau mengatakan bahwa Tuhan Yesuslah yang menjadi Ular Tedung itu yang sedang dihakimi agar racun-Nya itu dapat digunakan untuk menawarkan racun atau dosa yang ada pada manusia. Dia menjadi Dosa itu sendiri yaitu raja dari segala perbuatan dosa alias akar dari dosa. Baiklah, sebelum saya lanjut, ketahui satu hal ini, kita harus bisa membedakan apa itu dosa dengan perbuatan dosa, dan kebenaran dengan perbuatan kebenaran. Kalau kita belajar tentang Ilmu Hukum, ada yang namanya HUKUM yaitu kumpulan peraturan dan sanksi/akibat yang mengatur masyarakat dalam berperilaku dan bersifat memaksa. Dan ada istilah PERBUATAN HUKUM. Contoh lain, ada CINTA/KASIH dan PERBUATAN CINTA/KASIH. CINTA/KASIH itu merupakan satu karakter atau sifat yang baik. PERBUATAN CINTA/KASIH bisa berupa pengorbanan diri untuk orang lain, mengasihi sesama, berbelaskasihan, dan lain-lain.

Kita lanjutkan ya… Tuhan Yesus dinaikkan ke atas kayu salib dan orang-orang yang memandang pada Tuhan Yesus, perbuatan dosa mereka tidak diperhitungkan lagi karena Dosa itu, yaitu akarnya, sudah dipakukan dan mati. Roma 5:13 mengatakan bahwa Dosa tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Makanya saat Tuhan Yesus mengalahkan dosa, perbuatan-perbuatan dosa manusia tidak diperhitungkan lagi. Dianggap tidak pernah terjadi. Tujuan-Nya menjadi Pribadi Dosa adalah untuk menaklukkan dosa, yaitu dengan menjadi Penawar Racun yang dulunya telah masuk ke dalam Papa Adam yang akhirnya diterima oleh kita semua. Jadi Dia menjadi Dosa bukan supaya dapat menjebak kita lebih erat dalam perbuatan dosa. Allah telah merancang sedemikian rupa langkah penyelamatan manusia melalui Tuhan Yesus, bukan untuk mencelakakan manusia. Sekali lagi saya katakan, Tuhan Yesus bukan Pendosa tetapi menjadi DOSA supaya ‘Racun-Nya’ bisa digunakan sebagai Penawar Racun lewat Darah-Nya sendiri. Dia tidak perlu kuda untuk buat Antiracun-Nya. Dia gunakan tubuh-Nya sendiri sebagai Penghasil Anti Racun itu. Rewel kali saya ini, ya?! Kalau Yesus Kristus tidak menjadi DOSA itu bagi kita, maka habislah kita karena tidak ada serum antidosa yang bisa dihasilkan di dunia ini selain memakai Darah Tuhan Yesus sendiri. Kira-kira itu gambarannya. Nah, kita balik sekilas pada Matematika Dasar tadi.

Jika Tanpa Dosa = 0, Dosa = 1, maka Adam Berdosa = 0 + 1 yang menghasilkan nilai 1 (yaitu Dosa). Persamaannya adalah “0+1=1”. Artinya Adam yang sempurna sebelumnya, berbuat dosa, sehingga mengakibatkan manusia jatuh dalam dosa. Tuhan Yesus juga sempurna, tanpa dosa, dan Dia tidak bisa berdosa. Jadi bagaimana? Tidak ada cara lain! Dia harus menjadi Dosa. Ingat, 0! = 1! =1, berarti ada 1 cara tetapi yang jelas bukan cara manusia. (Yesaya 55:8). Ini adalah satu bagian yang manusia tidak bisa lakukan. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil. (Lukas 1:37). Kita lihat lagi persamaan yang tadi: 0 (tanpa dosa) + 1 (berdosa) = 1 (Dosa)… Jika [0 (tanpa dosa) + 1 (berdosa)] = Adam Pertama, dan 1 (Dosa) = Adam Kedua (Yesus Kristus), maka sudah bisa dilakukan pengurangan yaitu Adam Kedua (Dosa) – Adam Pertama (Berdosa) = Tanpa Dosa (0) [1 – 0 – 1 = 0]. Kalau Bapak/Ibu bersikeras ingin berkata dosa tidak hanya 1, silahkan jadikan nilai 1 ini menjadi nilai berapa saja karena memang di Alkitab juga ada ditulis mengenai penghapusan segala dosa. Tetapi hasilnya tetap akan 0 (nol). Tuhan Yesus akan menjadi senilai berapapun dosamu untuk membayar hutang dosa itu agar menjadi nol kembali. Kalau dosa-dosa di dunia ada sejuta, Tuhan Yesus menjadi sejuta dosa. Percaya atau tidak, begitulah sedikit penjelasan saya melalui matematika. Bapak/Ibu, kita loncat kembali ke atas sejenak tentang Tuhan adalah segala-galanya… hal mengenai “Allah adalah segala-galanya” telah dinyatakan di dalam Kristus Yesus. Karena dosa termasuk di dalam segala-galanya, maka tuduhan manusia tentang Allah tidak mengerti kita karena Dia tidak bisa berdosa, telah dinyatakan (dimanifestasikan) juga di dalam Tuhan Yesus yang menjadi Dosa, tetapi bukan sebagai Racun Kehidupan, melainkan sebagai Penawar Racun Kehidupan supaya saat kita memakan Penawar itu, maka kita dapat lepas dari jerat kematian.

Sekarang saatnya saya membicarakan tentang Nikodemus. Simpan dulu tentang masalah dosa itu. Nanti kita balik lagi ke sana. Bapak/Ibu harus ikuti, kalau tidak pasti akan tertinggal. Di dalam Yohanes 3, saya percaya Bapak/Ibu bisa belajar tentang Nikodemus dari sudut pandang yang berbeda juga. Di luar sana mungkin orang-orang akan mengajari Bapak/Ibu untuk menjadi seperti Nikodemus yang memiliki hati yang baik, rendah hati, mau mencari Tuhan atau bahkan meminta kita jangan takut datang kepada Tuhan seperti Nikodemus yang tahunya datang diam-diam di malam hari. Tetapi hari ini, kita belajar melihat beliau ini dari sisi yang lain. Nikodemus ini seorang Farisi yang termasuk dalam keanggotaan Sanhedrin. Sejenis Mahkamah Agama yang anggota-anggotanya hanya orang-orang yang terpilih yang pintarnya minta ampun; tidak hanya dalam keagamaan tetapi juga politik. Beliau ini adalah yang tercatat mendatangi Tuhan Yesus di malam hari, yang juga memohon keadilan bagi Yesus Kristus saat para petinggi agama itu gusar karena penjaga-penjaga Bait Allah gagal menangkap Tuhan Yesus, dan juga yang membawa minyak mur dan minyak gaharu untuk persiapan penguburan Tuhan Yesus. (Yohanes 3:1-2, 7:50-51, 19:39) Nama Nikodemus mempunyai arti pemenang. Nikodemus adalah gambaran wakil yang terpilih dari kemanusiaan, yang terhebat di antara yang hebat, yang mencari Kerajaan Allah dalam kegelapan dunia. Apakah yang Tuhan Yesus katakan kepadanya?  Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melihat Kerajaan Allah jika tidak dilahirkan kembali. Ada arti lain dari ‘kembali’ yaitu ‘dari atas’. Maksud Tuhan Yesus adalah jika seseorang bukan berasal dari Surga, maka dia tidak akan pernah melihat Surga. Saya percaya terjemahan ini lebih tepat; mengingat bahwa walaupun kita bisa dilahirkan kembali, kita tetap tidak akan bisa melihat Surga, karena pada dasarnya kita semua adalah makhluk berdosa. Mau reinkarnasi berapa kalipun, tetap saja berdosa karena dosanya Bang Adam tadi. Jadi saya mencoba untuk memahami pernyataan Tuhan Yesus itu dan menyimpulkan memang Tuhan Yesus sedang berbicara tentang diri-Nya yang berasal dari atas sana, bahwa hanya Dialah satu-satunya yang dapat masuk ke Kerajaan Allah karena Dia berasal dari sana. Lebih lanjut, Tuhan Yesus berkata bahwa jika seseorang tidak dilahirkan dari Air dan Roh, maka dia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Air melambangkan Firman Allah. Artinya adalah hanya orang yang dilahirkan dari Firman Allah dan Roh Kuduslah yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Jika Bapak/Ibu pernah mendengarkan saya bicara tentang Roh Kudus sebagai figur Ibu, maka saya percaya Bapak/Ibu akan mengerti bahwa Tuhan Yesus lahir dari Firman dan Roh. Nikodemus tidak mengerti bahwa Yesus Kristus menyiratkan kalau tidak ada seorangpun yang telah berdosa dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Yohanes 3:6) Dalam Yohanes 3:13 selanjutnya baru Tuhan Yesus perjelas kepadanya bahwa hanya Dialah yang dapat naik ke Surga karena dari sanalah Dia berasal. Dalam Matius 5:20, Roh Kudus menekankan lebih lagi jikalau kebenaran kita tidak dapat melampaui para ahli Taurat dan Farisi, contohnya seperti Nikodemus, tak usah lagi bicara tentang bagaimana masuk ke dalam Kerajaan Surga. Apa maksudnya? Bahwa Nikodemus saja sudah pasti tidak bisa, apalagi kita ini…?! Dari sini, seharusnya kita sudah bisa mengerti bahwa kita benar-benar membutuhkan yang namanya Kasih Karunia. Oleh sebab itulah, Allah menjadikan Anak-Nya yang tunggal sebagai Pribadi Kasih Karunia yang hidup, agar supaya kita semua bisa hidup di dalam Kristus! Masalah Dosa telah Tuhan selesaikan! Tinggal bagaimana kita bisa dilahirkan kembali dengan status kita berasal dari Surga. Kalau kita tidak dilahirkan kembali bersama-sama dengan Tuhan Yesus dari Firman dan Roh, kita tidak akan bisa bertumbuh menjadi besar menjadi Manusia Baru sebagaimana yang telah direncanakan oleh Bapa di Surga bagi kita! Setelah lahir baru, Roh Kudus baru dapat merawat kita seutuhnya. Nah, bagaimana prosesnya sampai bisa dikatakan berada dalam Kristus dan apa hubungannya dengan lahir kembali? Nanti kita kaitkan lagi.

Yang menjadi permasalahan manusia adalah seperti ada seseorang yang bertanyaku, “Bang, untuk menjadi pendosa, kita tidak perlu berbuat apa-apa, atau kita tidak ditanya masuk yang mana! Tidak ada pilihan! Tetapi lihatlah, untuk selamat, kita harus memilih untuk percaya dulu dengan iman, baru bisa menjadi benar. Mengapa kita semua tidak otomatis menjadi benar saja saat Tuhan Yesus sudah mengalahkan maut? Bukankah hal itu berarti dosa lebih hebat dari Darah Kristus?” Saya sempat pikir, “Wah, benar juga ya?! Terima Yesus harus pakai doa dan baptisan air segala, pakai iman lagi. Sedangkan dosa, belum lahir saja sudah jadi seteru atau musuh Allah. Apakah memang dosa lebih hebat dari Tuhan sendiri?” Saya mendapatkan jawaban yang masuk di akal pikiranku mengenai isu ini dan membuat saya mengerti betapa baiknya Tuhan itu. Kuncinya hanya satu yaitu di dalam Kristus. Saya akan mencoba menjelaskannya kepada Bapak/Ibu. Kita semua ada di dalam Adam sebelum ataupun sesudah kejatuhannya dalam dosa. Saat kita dilahirkan, suka atau tidak, kita sudah menyandang gelar pendosa. Tidak ada pilihan sepertinya. Dengan kemenangan Tuhan Yesus atas Dosa, Dia telah memungkinkan semua manusia yang percaya untuk menjadi bagian dari diri-Nya. Masalahnya adalah sering kali kita berpikir bahwa kitalah yang harus mendatangi-Nya. Kita lupa bahwa sebenarnya Tuhan Yesuslah yang mendatangi kita. Masih ingat tentang Tuhan Yesus yang mendatangi murid-murid-Nya sewaktu badai menghadang mereka? Tuhan Yesus juga juga mendatangi orang-orang Samaria. Saat manusia mendatangi Tuhan seperti Nikodemus tadi, atau anak muda yang kaya raya itu yang dengan bangganya sudah melakukan semua hukum, selalu saja ada penolakan dari Tuhan… kurang ini lah, kurang itu lah, kata Tuhan Yesus, benar demikian? Tuhan Yesus datang untuk mencari yang tersesat, bukan sebaliknya. Lantas bagaimana sesudah kita percaya? Tuhan Yesus langsung masuk dan tinggal bersama kita. Dari sini kita sudah dalam tahap persiapan untuk dilahirkan kembali. Di dalam Kristuslah, kita telah dipandang tanpa noda oleh Allah Bapa. Tahap selanjutnya adalah Firman dan Roh melahirkan kita bersama-sama dengan Tuhan Yesus menjadi manusia baru. Ketika saya katakan ada tahap-tahap, proses-proses itu ada yang cepat dan ada juga yang memakan banyak waktu, tergantung penerimaan orang-orang terhadap pengenalan Kristus. Seperti Pastor Paul pernah katakan bahwa ada yang cepat bertumbuh, ada yang lambat seperti pohon-pohon yang berbuah. Bagaimana membedakan apakah kita sudah lahir baru atau belum? Kalau dari sudut pandang saya, manusia bisa sudah ada di dalam Kristus, tetapi bisa jadi belum mengalami istilah lahir baru secara langsung, karena beberapa sebab misalnya seorang beragama lain sudah terima Yesus sebagai Juruselamatnya tetapi karena sesuatu hal, dia tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Tuhan Yesus lebih lagi. Mungkin saja ada juga yang langsung meninggal dunia, ada yang percaya lewat televisi sendirian dan sebagainya. Jadi amanlah kalau saya boleh katakan bahwa kita bisa tahu apakah kita sudah lahir baru atau tidak yaitu pada saat kita bersedia dirawat, diajari, dan dituntun oleh Roh Kudus. Artinya sudah terbentuk apa yang saya namakan janin rohani. Ibaratnya kalau sebelum lahir, masih dalam bentuk sel sperma, tidaklah mungkin dirawat atau dikasih makan seperti merawat bayi. Sesudah lahir, seseorang baru bisa berhubungan atau interaksi dengan Roh Kudus sampai suatu saat nanti dia bisa mengenal dirinya yang sebenarnya di dalam Kristus. Dulu sewaktu masih bayi, anak-anak kita tidak tahu namanya sendiri. Yang mereka kenal itu adalah kedua orangtua mereka yang selalu bersama mereka. Sebagai orangtua, kita selalu panggil nama mereka. Yang namanya bayi atau anak-anak, kalau dipanggil “Babi” pun (maksudku Baby, kan ada orangtua yang tak pandai bahasa Inggris tapi ikut-ikutan keren lalu panggil “Babi”), mereka terima saja karena mereka belum mengerti. Kita asyik panggil mereka, “Sini, Sayang!” Lama-lama mereka pikir nama mereka si Sayang semuanya. Sampai nanti di suatu saat yang senja, mereka tiba-tiba menyadari, “Oh, rupanya namaku itu yang selalu disebut-sebut oleh mama! Babi! Keren juga ya!” Semua yang hadir di sini, saya percaya sudah lahir baru. Setidaknya saya melihat banyak yang sudah mau belajar mengenal siapa dirimu di dalam Kristus. Luar biasa! Haleluya! Baiklah, Baby, saya akan lanjutkan. Tetapi tahukah Bapak/Ibu bahwa sewaktu kita lahir ke dunia ini, kita menjadi pendosa bukan karena keinginan kita. Demikian halnya, ketika kita lahir baru dimana kita menjadi benar di hadapan Allah, itu juga bukan keinginan kita. Kita tidak dapat memilih. Perhatikan dengan baik, Adam Manusia Pertama sebenarnya juga ada ditanya apakah dia ‘mau berada’ dalam dosa. Cuma sewaktu kita baca, sepertinya kata yang cocok itu kan ‘dicobai’. Kalau bahasa kerennya dalam bahasa Inggris adalah “reverse psychology” (psikologi terbalik) yaitu seni untuk menarik perhatian orang dengan rangsangan yang berlawanan, sehingga orang lain melakukan hal yang ia inginkan tanpa disadari orang tersebut. Hal inilah yang digunakan oleh si iblis untuk menarik Adam dan Hawa. Jadi kalau dikatakan apakah dosa lebih hebat karena tidak perlu ditanya, saya tahu itu salah karena iblis ternyata ada menanyakan hal itu pada manusia. Saya tidak mau katakan “pada Hawa” supaya jangan nanti yang salahkan perempuan lagi. Percayalah, mau siapapun yang ditanya duluan, dosa tetap akan masuk. Cuma bahasanya yang lain. Jadi, Tuhan Yesus juga ditanya apakah Dia mau berdosa. Masih ingat bagaimana Dia dicobai di padang gurun, kan? Bedanya adalah Adam Pertama ‘termakan’ tawaran iblis, Adam Kedua menolak! Karena kita ada di dalam Adam pada mulanya, maka secara tidak langsung kita menjadi pendosa yang mengakibatkan kita bisa melakukan perbuatan dosa. Sekarang, setelah Tuhan Yesus membayar hutang dosa manusia, Dia pun harus bertanya dulu kepada manusia seperti pada Kitab Wahyu 3:20 tadi. Bedanya hanya pada cara bertanya saja. Lalu ketika kita mau terima dan pindah ke dalam Tuhan Yesus secara rohani, posisi kita sekarang sudah seperti sewaktu kita di dalam Adam. Ketika Adam berdosa, kita pun berdosa. Seperti Tuhan Yesus yang tanpa dosa, dan karena kita ada di dalam-Nya, maka kita juga tanpa dosa. Kalau dosa bisa menarik manusia tanpa perlu bertanya pada kita, maka Allahpun bisa memaafkan manusia tanpa perlu Tuhan Yesus mati untuk manusia. Malahan, seperti yang Rasul Paulus katakan dalam Roma 5:15-17 bahwa Dosa tidak setingkat dengan Kasih Karunia. Oleh karena itu tidak bisa dibandingkan. Bapak/Ibu, Dosa hanya bisa bekerja saat ada suatu Hukum lain yang mengaturnya (dalam hal ini Hukum Taurat menjadi patokannya). Kasih Karunia tidak membutuhkan Hukum untuk memberkati manusia, karena Kasih Karunia itu sendiri sudah merupakan satu hukum tersendiri yaitu yang dinamai Hukum Kasih Karunia, cuma tidak diartikan sebagai hukum sebagaimana Hukum Taurat. Jadi tidaklah benar bahwa Dosa lebih hebat dari Kasih Karunia. Jadi, mengapakah kita perlu dimasukkan ke dalam Kristus Yesus? Karena di dalam-Nyalah ada segala-galanya; ada hidup, damai sejahtera, ada sukacita, dan kawan-kawan mereka semua di sana. Maka dari itu, Dia perlu memasukkan kita manusia ke dalam diri-Nya. Katakanlah kalau Tuhan langsung mengampuni manusia (dalam arti tidak ada istilah di dalam atau di luar Kristus), bukankah ini sama saja berarti Tuhan Yesus tidak perlu mati untuk manusia? Katakanlah lagi ada istilah di dalam Kristus dan di luar Kristus, DAN Tuhan mengampuni tanpa perlu embel-embel percaya kepada-Nya lagi, mau percaya atau tidak, semua diselamatkan. Maka kemungkinannya adalah setelah pengampunan itu diberlakukan, detik itu juga manusia pasti akan berdosa lagi; baik yang ada di dalam Kristus maupun yang di luar Kristus. Betul demikian? Ini kita bicara kalau manusianya pas pula menghadap Sang Khalik ya. Kalau belum mati atau Tuhan Yesus belum datang untuk kedua kalinya, ya masih ada kesempatan untuk bertobat. Bila itu terjadi, yang sudah ada di dalam Kristus, selamatlah mereka semua. Tetapi yang ada di luar Kristus itu pasti tidak ada lagi kesempatan. Tidak akan ada lagi Korban dari Tuhan yang bisa dipersembahkan untuk kedua kalinya, karena Tuhan telah kerjakan ini sekali untuk selamanya. (1 Petrus 3:18) Ibrani 10:26 mengatakan, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Pengetahuan tentang kebenaran apa? Ayat ini sendiri yang menjelaskan, yaitu pengetahuan tentang kebenaran adanya penghapusan dosa. Artinya seperti ini, jika orang-orang sudah mendengar tentang Tuhan Yesus yang menebus dosa manusia dan/atau sudah pernah diajari langsung oleh agama-agama yang dianut oleh mereka tentang tidak adanya pengampunan dosa, maka itu berarti kitab-kitab ataupun ajaran-ajaran agama-agama tersebut sebenarnya telah mengenal tentang adanya pengampunan dosa dari Tuhan Pencipta Langit dan Bumi melalui Yesus Kristus, dan secara sengaja mengajari penganut-penganut mereka untuk tidak mempercayai adanya pengampunan dosa itu. Dengan telah dipelajari tentang ketidakbenaran tentang pengampunan dosa melalui agama, berarti mereka, secara tidak sadar atau langsung, telah mengenal tentang adanya pengampunan dosa tetapi mereka mengeraskan hati mereka dan menyembunyikan kebenaran tentang pengampunan dosa. Saya berdoa kita semua dapat mengenal Kristus lebih dalam lagi bukan karena mendengar dari orang-orang lain, tetapi karena kita sendiri telah mendengar dari Tuhan Yesus sendiri. Bapak/Ibu masih ingat apa yang dikatakan oleh orang-orang Samaria setelah mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus? Mereka mendengar tentang Tuhan Yesus dari perempuan Samaria yang berjumpa dengan-Nya di dekat sumur Yakub di Samaria dan mereka percaya. Selanjutnya pernyataan mereka sangat menarik yaitu bahwa mereka percaya karena mereka sendiri telah mendengar Dia. (Yohanes 4:42) Pertama-tama mereka diinjili oleh perempuan itu, tetapi selanjutnya adalah perjumpaan dengan Pribadi Tuhan Yesus! Dia tinggal bersama mereka. Itu yang membuat mereka berubah. Saya tidak tahu apa yang Tuhan Yesus katakan sehingga mereka percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Penyelamat dunia karena waktu itu Dia belum mati disalibkan. Tetapi semua itu tidak akan terjadi kalau Tuhan Yesus tidak diundang masuk oleh mereka. Kalau Bapak/Ibu ada perhatikan dalam Alkitab, saat Tuhan Yesus tinggal bersama orang-orang atau dicari oleh mereka yang membutuhkan-Nya, mujizat terjadi, hidup orang-orang yang mencari-Nya dimerdekakan. Mari kita tutup mata sejenak, nikmati hadirat-Nya. Demikian juga dengan kita, sekarang Tuhan Yesus sudah bersama kita. Tidak ada hal yang lebih menarik daripada mendengar secara langsung suara seseorang yang kita percayai, bukan? Jika Bapak/Ibu sudah percaya apa yang telah diberitakan tentang Dia, sekarang saatnya masuk ke dalam hubungan perjumpaan karena Dia sudah tinggal bersamamu. Yang namanya hubungan berarti ada interaksi atau hubungan timbal-balik yang terus-menerus, ada persentuhan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Tuhan Yesus sudah mengetuk pintu hati-Mu. Dia mau masuk ke dalam hidupmu. Maukah engkau izinkan Dia masuk!? (Wahyu 3:20) Tuhan Yesus adalah Ruang Mahakudus-Nya Allah Bapa. Tuhan Yesus adalah Penghubung bagi Tuhan Allah dengan kita. Di dalam Dialah, kebenaran-Nya menjadi kebenaran kita. Oleh karena Tuhan Yesuslah, kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah Pencipta Alam Semesta. Oleh karena Dialah, kita dapat menyerukan, “Ya Abba, ya Bapa!” Segenap tubuh, jiwa dan roh kita, Dia telah ubahkan! Dia rela menjadi apapun yang kita perlukan, supaya hanya melalui Dia, kita dapat menikmati kehidupan yang penuh kemenangan dan kelimpahan! Mari kita sembah Dia. Utarakan isi hatimu kepada-Nya. Oh, betapa indahnya waktu-waktu yang kami habiskan bersama-Mu, ya Tuhan Yesus. Bersama-Mu hidup kami berubah menjadi lebih baik. Sentuh kami, ya Abba Bapa! Terima kasih, Bapa di Surga, Engkau telah segarkan kembali tubuh, jiwa dan roh kami dengan Air Hidup-Mu! Kami sembah Engkau, ya Roh Kudus! Terima kasih buat didikan-Mu yang menjadikan hidup kami berarti bagi keluarga kami dan orang-orang di sekeliling kami. Terima kasih buat cinta-Mu pada kami, ya Tuhan Yesus! Kami akan terus hidup karena Engkau adalah Kehidupan! Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah pulihkan hati yang terluka. WOW! Engkau hidup! Engkau yang termanis! Yesus! Yesus! Sukacita-Mu melingkupi kami! Haleluya! Haleluya! Kami menyembah-Mu! Amin!

PERJAMUAN KUDUS:

PENGORBANAN TUHAN YESUS TELAH MENJADI TITIK BALIK KEHIDUPAN KITA. TUBUH DAN DARAH-NYA TELAH DIA BERIKAN PADA KITA. HANYA DI DALAM DIA, KITA BEROLEH KESELAMATAN, BERKAT, DAN KESEHATAN. ROTI DAN CAWAN YANG ADA DI TANGAN KITA, YANG ADALAH PERSEKUTUAN KITA DENGAN TUHAN YESUS KRISTUS. INGATLAH AKAN KEBAIKAN-NYA. KASIH KARUNIA BAPA DI SURGA TELAH DINYATAKAN DI DALAM PERSEKUTUAN INI, YAITU TUHAN YESUS DAN KITA SEBAGAI MANUSIA BARU YANG PENUH KEMENANGAN. MARI KITA MAKAN DAN MINUM DENGAN SUKACITA DEMI NAMA TUHAN KITA YESUS KRISTUS. AMIN.

 

Dikhotbahkan oleh: Hugo Yongan, GKIP-AGF, 17 November 2019

Leave a comment

Mulai Percakapan
Butuh bantuan?
Shalom, selamat datang di AGFamily!
Apakah ada yang bisa kami bantu?
Kami akan segera hubungkan Anda
dengan Admin/Pastor yang bertugas!