Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Damai sejahtera bagi kita semua di dalam Kristus Yesus!

Puji Tuhan kita dapat berkumpul kembali di tempat ini!

Bagaimana kabar semuanya? Saya percaya dan berdoa semuanya baik-baik adanya oleh sebab janji Tuhan tidak pernah berubah. Pastinya Dia menyelamatkan kita bukan untuk menambah rancangan jahat bagi kita! Kita perlu senantiasa menyelami Kasih Tuhan agar kita dapat mengerti rancangan-Nya melalui Tuhan Yesus Kristus. Biar tepat sasaran sehingga apa yang dirancang oleh Tuhan itu bagi kita tidak berubah-ubah karena ulah kita sendiri. Jujur saja, kalau Dia mau kita celaka, Dia tidak perlu merancang apa-apa! Kalau hidup ini bagai buah apel busuk, Dia hanya tinggal petik saja, niscaya kita langsung dilempar ke neraka, end of story – selesai ceritanya! Kalau Tuhan mau kita celaka atau jahat pada kita, Dia tidak butuh kita untuk mengenali Dia. Dia hanya perlu “cuek aja”, kita sudah pasti mati. Coba saja lihat di luar sana yang masih banyak orang yang belum percaya pada Yesus Kristus, untuk apa Dia merancang sedemikian rupa agar mereka bisa beroleh keselamatan melalui pengorbanan Yesus di Kayu Salib, hanya untuk kemudian mencelakakan mereka?  Sekarang Bapak/Ibu berada di posisi orang-orang percaya, coba bayangkan, untuk orang-orang tak percaya saja, Dia rela mau mati bagi mereka, terlebih lagi kita yang sudah percaya… Hidup orang percaya itu bukan seperti takdir manusia yang kebanyakan orang Tionghoa suka mengumandangkannya: 生老病死 (shēnglǎobìngsǐ) dilahirkan, menua, sakit, dan kemudian mati seperti kata Ps Iskandar. Bagi orang-orang yang belum percaya, itu hal yang biasa. Itu adalah kutuk yang memang melekat bukan untuk orang-orang Tionghoa saja. Hal itu terjadi bagi seluruh umat manusia termasuk kita dulunya. Itu adalah suatu hal yang mengerikan bagi dunia! Lantas bagaimana dengan orang-orang percaya? Toh kita juga akan mengalami hal yang sama! Jadi apa bedanya? Secara jasmani, saya rasa tidak ada perbedaan yang perlu dibangga-banggakan. Kita semua juga tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari tahun ke tahun, satu per satu rambut putih muncul. Mau percaya Yesus atau tidak, jenggot pun akan tambah lebat kalau tidak dicukur. Tetapi secara rohani, perbedaan itu seperti langit dan bumi yang bisa kita syukuri setiap waktu di hadapan Tuhan, bukan media sosial. Yang beda itu hanya pada kabar baik tentang Yesus dan penerimaan kita atas pengorbanannya. Damai sejahtera yang ada di hati kita ini bukan lagi damai yang dari dunia. Keselamatan yang telah kita terima ini kekal adanya. Dialah yang selama ini kita sampaikan pada teman-teman dan keluarga kita yang belum menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Kadang memang kita melakukan hal bodoh dalam menyampaikan injil. Kadang-kadang penyampaiannya tepat sasaran seperti obat manjur. Kadang-kadang ceroboh. Kita tidak boleh sombong tetapi harus tetap rendah hati dalam keadaan apapun dalam menyampaikan Kabar Baik ini. Saat kita ‘menawarkan’ kedamaian dari Yesus kepada teman-teman yang belum percaya misalnya, kita juga harus mengerti orang-orang lain juga memiliki kedamaian versi kepercayaan mereka masing-masing atau hal-hal lain yang mereka yakini benar menurut apa yang telah diajarkan pada mereka. Jadi harus hati-hati dalam memilih kata-kata jangan sampai menyakiti hati orang. Kalau yang namanya pembawa damai, ya kita harus sabar dan damai. Kalau ada yang tidak mau terima, tidak usahlah kita kuatir. Jangan menghunuskan pedang untuk kedamaian, itu namanya pemaksaan. Yang membukakan hati mereka jelas bukan kita, tetapi Roh Allah sendiri.

Hari ini saya akan menyelesaikan sedikit masalah yang tertinggal. Kalau Bapak/Ibu masih ingat, saya pernah mengatakan Roh Kudus itu adalah Pribadi atau Figur Ibu. Kepada beberapa orang, saya pun pernah memberikan gambarannya mengapa saya yakin dengan apa yang saya sampaikan. Kemudian, 1-2 bulan yang lalu, Pastor Iskandar pernah meminta penjelasanku mengapa Roh Kudus saya sebutkan sebagai Pribadi Ibu. Saya percaya sesudah hari ini, pandangan Bapak/Ibu mengenai Roh Kudus akan berubah menjadi lebih baik. Jadi sebenarnya sederhana saja apa yang saya dapatkan dari Alkitab. Pertama adalah kata Roh yang tertulis di Alkitab itu kalau terjemahan aslinya (רוּחַ rûaḥ) yang mengarah kepada Roh Allah itu tertulis dalam jenis tata bahasa atau kategori feminine, kecuali beberapa kata roh yang bukan mengarah kepada Roh Allah. Di dalam tata bahasa berbagai bahasa di pelbagai belahan dunia ada dikenal yang namanya grammatical gender (jenis kelamin tata bahasa) yang membagi jantan (masculine), betina (feminine), dan netral (neuter); misalnya kalau berbicara tentang wanita, pemakaian kata benda dan kata kerjanya bisa ditulis berbeda dari yang untuk pria. Bahasa Indonesia tidak membedakan yang demikian namun Bahasa Ibrani maupun Yunani ada pembagian yang demikian. Ini bukan penemuan saya ya, tetapi memang sudah demikian dari awalnya. Kalau Bapak/Ibu ada mempelajari seluk-beluk sejarah kekristenan, sebenarnya pemahaman-pemahaman tentang Roh Kudus ada bermacam-macam. Sampai sekarang tetap masih dalam pembelajaran. Banyak yang salah tingkah kalau sudah berbicara tentang Roh Kudus. Menurut saya, Dia adalah Pribadi yang tidak populer karena kehadirannya di dalam hidup orang-orang percaya diragukan oleh banyak orang. Kalaupun banyak orang percaya yang sedikit-sedikit mengagungkan Roh Kudus, tetapi mereka juga tidak paham tentang Dia. Banyak yang berpendapat Dia adalah Pribadi ketiga dari yang Allah Tritunggal karena di Alkitab ada setidaknya tertulis bahwa Yesus akan mengirimkan Sang Penolong yang lain supaya orang-orang percaya tidak akan terabaikan. (Yohanes 14:16) Jadi di benak banyak orang, Roh Kudus itu seperti pembantu biasa saja yang dikirim oleh Yesus. Ada yang beranggapan Roh Kudus itu sebagai suatu Alat yang bisa dipakai oleh orang-orang percaya untuk melakukan segala sesuatu di dalam nama Yesus. Padahal Roh Kudus adalah Pribadi yang menarik yang paling diabaikan selama ini.  Saya mempunyai pandangan yang berbeda. Mau Pribadi yang ketiga ataupun kedua, itu tidak masalah. Yang penting kita mengenal Dia. Kalau kita tidak mengenal seseorang, tentu sulit menjalin hubungan. Betul tidak? Saya mau pastikan Bapak/Ibu mengerti engkau adalah bagian dari Keluarga Allah yang jelas di dalam Kristus. Jadi, saya merasa perlu untuk menyajikan kepada Bapak/Ibu tentang Roh Kudus dari sudut pandang yang lain supaya kita semua bisa mengenal siapa Dia yang kita sembah. Misalnya tidak mungkin kita berkata, “Ps Iskandar itu sahabatku!” sedangkan nama Tionghoa atau ulangtahun Ps Iskandar saja kita tidak tahu. Bagi saya, Roh Kudus benar-benar “Ibu-nya” Yesus. Nanti saya jelaskan. Ternyata, dalam skala kecil, rupanya ada juga yang mengajarkan bahwa Roh Kudus itu adalah Pribadi Ibu-nya Yesus di kalangan Yahudi Mesianik dan lain-lain. Saya belum sempat mencari tentang pengajaran mereka atau apa yang menjadi dasar bagi kalangan ini mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Ibu-nya Yesus. Awalnya saya tidak tahu kalau ada juga orang-orang yang percaya bahwa Roh Kudus sebagai Ibu-nya Yesus. Saya pikir saya sendiri yang menanggung beban itu selama ini karena saya dapatkan hal ini bukan dari Internet tetapi dari pembacaan Alkitab. Saya juga tidak tahu bahwa rupanya selama ini ada juga pembelajaran tentang Roh Kudus sebagai Pribadi yang disebutkan feminine di kalangan para cendekiawan Alkitab, sampai waktu saya ingin membuat catatan khotbah untuk hari ini. Saya baru tahu dunia ini ternyata sempit juga. Rupanya dari dulu sudah ada yang berpandangan demikian. Lain dengan bahasa Ibrani, kalau dalam bahasa Yunani, dipakailah tata bahasa netral untuk kata-kata yang ada hubungannya dengan Roh Kudus dan beberapa memakai yang maskulin. Terjemahan dalam Bahasa Inggris misalnya, kata ganti untuk Roh Kudus ditulis dengan “He, Him, His”. Kalau dalam bahasa Inggris, saya bisa mengerti mengapa, karena untuk kata ganti suatu pribadi manusia yang hidup tetapi tidak diketahui jenis kelaminnya, maka biasanya kita akan memakai kata ganti “He, Him, His”. Tetapi kalau kita sudah mengetahui bahasa Ibraninya, lalu saat menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, lalu kita masih menggunakan kata yang berlawanan, itu kan berarti ada suatu kebingungan. Paham maksud saya? Jadi, hari ini saya hanya berharap setidaknya Bapak/Ibu bisa ambil hal ini sebagai bagian dari bahan pembelajaran Alkitab saja dari sudut pandang yang berbeda, kalau-kalau Bapak/Ibu sulit menerima kebenaran ini, oke? Tiadakan kata ‘Sesat’ tetapi jadikan ini sebagai pelajaran seperti halnya saat Bapak/Ibu menghadiri Bible Study setiap hari Kamis karena Bapak/Ibu akan diberikan PR dari saya yaitu kalian harus lapor pada Roh Kudus apa yang telah kalian pelajari hari ini. Karena sebenarnya dulunya tujuan saya adalah untuk menaikkan status wanita kembali, yang sudah dirusak oleh si iblis sejak dari awal penciptaan. Dulu 4-5 tahun yang lalu, saya pernah khotbah tentang persamaan derajat. Mengapa harus Hawa yang dicobai dulu oleh iblis? Apakah dia lebih bodoh dari Adam? Lebih lemah? Selama ribuan tahun lamanya wanita menjadi obyek ejekan bahwa merekalah penyebab semua manusia berdosa, mereka lemah dan sebagainya. Akibatnya, dari masa ke masa, adalah para wanita mengalami penganiayaan fisik dan mental dimanapun mereka berada. Sepertinya wanita menjadi ajang balas dendamnya pria dan hanya menjadi alat pemuas nafsu belaka bagi pria. Dari sejarah beberapa agama di dunia, wanita bahkan tidak diperhitungkan sama sekali. Tapi kita tidak akan bahas hal itu hari ini karena kita mau fokus pada Pribadi Roh Kudus.

Baiklah, kita lanjutken… Yang kedua adalah Yohanes 8:12 yang berbunyi: “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”” Dalam Yohanes 8:58 Yesus berkata bahwa Dia sudah ada sebelum Abraham jadi. Jadi, Tuhan Yesus tidak menunjuk pada lampu teplok atau api unggun yang ada di sekitar tempat Dia berada waktu itu untuk mengatakan bahwa Dia adalah Terang. Dia merujuk kepada Kejadian 1:3 – “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.” Tuhan Yesus berkata bahwa Dia adalah Terang yang duluan ada sebelum Matahari diciptakan di Kejadian 1:3. Pada Kejadian 1:2 dikatakan di sana, “… Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Roh Allah di sini adalah Roh Kudus. Ceritanya di ayat ini air itu adalah lambang Firman Allah yang merupakan Sumber. Kalau boleh saya katakan, Firman itu adalah Benih yang dengan kuasa dunamis Roh Kudus menjadikan Terang, atau bahasa lainnya, Roh Kuduslah yang melahirkan Terang itu. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menggambarkan Allah yang tidak kelihatan itu? Kejadian 1:26-27 menyatakan bahwa Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah. Artinya apa? Berarti untuk mengetahui seperti apa Allah itu, maka kita harus melihat kepada manusia ciptaan-Nya, bukankah demikian? Ayat 27 menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa Allah. Dalam Kejadian 2:18 dikatakan Allah menciptakan Penolong yang sepadan untuk Adam. Jadi, pengertian saya adalah Adam mewakili Allah Bapa (maskulin). Mengapa saya katakan demikian? Di dalam Allah adalah segalanya. Gambarannya adalah Adam berkuasa atas seluruh ciptaan Allah. Artinya semua adalah milik Adam. Dia menguasai segala yang ada. Jadi Adam adalah gambaran dari Allah yang empunya segalanya. Dan, Hawa mewakili rupa Roh Kudus. Mengapa demikian? Pada Kejadian 3:20 dikatakan bahwa Hawa adalah ibu dari semua yang hidup – the mother of all living. Terang yang dijadikan oleh Roh Kudus juga adalah dinamai Kehidupan. (Yohanes 14:6) Jadi saya mengartikan bahwa Roh Kudus adalah Ibu dari Sang Kehidupan yaitu yang nantinya diwujudkan dalam rupa manusia melalui Maria yaitu Yesus Kristus. Jadi di sini, Maria adalah gambaran dari Roh Kudus. Salah satu alasannya adalah peristiwa air menjadi anggur, Masih ingat? Dalam Yohanes 2:1-11 saat itu ada pesta pernikahan di Kana, Yesus berkata bahwa waktunya belum tiba, tetapi ibu-Nya tidak peduli… Otoritas ibu-Nya sepertinya jauh melebihi waktunya Yesus. Dia tidak mau tahu, lalu Maria menyuruh para pelayan untuk mencari Yesus dan melakukan apa saja yang Yesus akan suruh mereka kerjakan. Tugas Roh Kudus adalah membimbing kita kepada Tuhan Yesus dan mengarahkan kita untuk melakukan apa yang Yesus kehendaki. Betul? Kemudian kita lihat Kitab Yohanes 19:26: “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Ini adalah demonstrasi pengutusan Roh Kudus kepada manusia sebab di dalam Yohanes 14:16 dikatakan demikian, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Kita balik kembali kepada Hawa. Dalam Kejadian 2:18 ditulis demikian: TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Jadi saya melihat ada suatu garis penghubung di antara wanita/perempuan dengan Roh Kudus. Ini juga menandakan bahwa Roh Kudus bukanlah Pribadi yang tingkatannya lebih rendah dari Allah Bapa melainkan sejajar. Dan lagi, bagi saya, wanita adalah gambaran dari Roh Kudus karena wanita adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai kuasa untuk melahirkan kehidupan. Jadi apakah maksudnya Allah Bapa tidak memiliki kuasa? Tentu berkuasa tetapi fungsi-Nya lain sebagai Sumber dari segalanya. Dengan kuasa (dunamis) kehidupan Roh Kudus, maka Sumber itu bisa menjadi nyata atau ada manifestasinya. Saya ambil contoh: Botol AQUA terbuat dari jenis plastik PET (polyethylene terephthalate). Dasarnya itu kan dari biji plastik, oke? Biji plastik tetap akan menjadi biji plastik dan tidak akan pernah berfungsi sebagai botol kalau tidak ada mesin yang bisa mengubahnya menjadi satu produk yaitu wadah botol yang bisa diisi dengan air untuk dinikmati oleh orang lain. Mesin itu juga tidak ada fungsinya kalau bahan atau sumbernya tidak ada. Botolnya untuk diisi air juga tidak akan ada jikalau bahan PET dan mesinnya tidak ada. Semuanya mempunyai fungsi masing-masing. Contoh lain: Baterai memiliki sel kutub negatif (anoda) dan kutub positif (katoda). Saya gambarkan anoda (negatif) sebagai Allah Bapa dan katoda (positif) sebagai Allah Roh Kudus, produk dari kedua kutub ini dinamakanlah baterai (yang saya gambarkan sebagai Tuhan Yesus sebagai manifestasinya atau produk akhirnya) yang bisa memberikan listrik pada peralatan-peralatan eksternal agar bisa hidup atau bisa digunakan, seperti baterai itu atau memberikan hidup kepada orang-orang yang menjamah Yesus Kristus. (Matius 9:20-22, Markus 5:25-34, Lukas 8:43-48) Bagi kita di dalam Kristus, tidak ada istilah Pribadi mana yang lebih keren, karena masing-masing Figur memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Manfaat dari manifestasi Tuhan yaitu Yesus Kristus adalah untuk menjadikan kita sebagai Keluarga Allah di dalam Tuhan Yesus. Jadi, Bro Hugo, maksudnya bahwa Allah Bapa berhubungan seksual dengan Roh Kudus? Itu adalah salah satu pertanyaan yang tetap bakal muncul di benak orang kalau kita bicara tentang hubungan intim. Di luar sana, orang-orang mengolok-olok Tuhan, “Jadi kalau ada Bapa dan Anak, dimana Ibunya? Dimana bidannya? Jadi Tuhan berhubungan seksual dengan Maria tanpa seijin Maria ya?” Begini, apakah hubungan yang paling intim antara seorang pribadi laki-laki dengan perempuan yang sudah menikah? Ya, yaitu hubungan seks… itu merupakan hubungan yang paling tinggi yang bisa menghasilkan kehidupan yang bisa Tuhan jelaskan kepada manusia tentang penciptaan. Di dalam konteks Tuhan, penggabungan Sumber dan Kuasa yang menghasilkan ciptaan demi ciptaan, inilah yang dilukiskan sebagai hubungan seksual dari sudut pandangan mata manusia. Tetapi lain halnya dengan Tuhan, kita tidak bisa mengatakan itu adalah hubungan seksualnya Tuhan yang sesuai gambaran kita, karena pada dasarnya Tuhan itu tidak berbentuk. Dia adalah Roh atau Firman yang sudah ada sebelum Dia ciptakan segalanya – waktu, bentuk, dan ruang. Di Alkitab, Tuhan Allah berfirman, “Aku adalah Aku.” Jadi, dari sudut pandangnya Tuhan, Dia bisa menggambarkan hubungan intim itu sebagai hubungan seks, yang terjadi di antara dua manusia yang saling mengasihi yang menghasilkan satu produk akhir yaitu kehidupan baru. Itu sah, karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, bukan sebaliknya Tuhan digambarkan segambar dan serupa manusia. Selama ini manusia yang berusaha menggambarkan Tuhan sesuai gambaran manusia sendiri yang mempunyai tangan, kaki, dan sebagainya. Padahal Tuhanlah yang melukiskan diri-Nya dalam bentuk manusia. Tuhan mau menjelaskan kepada kita bahwa Dia adalah Tuhan yang mampu melihat keadaan kita, mendengar keluh kesah kita, merasakan kesedihan maupun kegembiraan kita, yang dapat berjalan bersama kita, mampu memeluk kita, dapat berbicara dengan kita, dan duduk bersama kita. Hal terakhir yang Dia lakukan memang adalah menjadi seperti kita. Jadi saya tekankan sekali lagi, hubungan seksual dari manusia adalah gambaran penggabungan dari Sumber atau Firman dengan Kuasa Penciptaan. Khusus tentang Maria, ibunda Yesus, dia mendapat kehormatan menjadi inang dari Baby Jesus yang dikandung oleh Roh Kudus. Katakanlah kalau Maria menolak setelah mendengar tentang permintaan Tuhan untuk menggunakan rahimnya untuk melahirkan Yesus, Allah tetap akan menghormati dia dan mencari yang lain. Benarlah kiranya Maria juga adalah ibunya Yesus karena Dia juga disebut sebagai Anak Manusia (dalam sudut pandang manusia). Maria yang membesarkan, mendidik, menemani, menghibur, memberi makan Yesus. Tetapi bukan Marianya yang sepertinya lebih suci dari kita semua. Bisa tidak, Bapak/Ibu, melihat gambaran Roh Kudus di dalam diri Maria sekarang?

Apakah Bapak/Ibu sudah bisa melihat sedikit gambaran Keluarga Allah Tritunggal yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus? Sudah mengerti ya? Dalam ilmu sosiologi, keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak. Saya tidak tahu bagaimana pengertian Matius 11:11 menurut Bapak/Ibu, tetapi saat saya membacanya, saya tahu Yesus sedang membicarakan tentang diri-Nya sebagai Anak di dalam Kerajaan Surga dan Dia lebih besar dari Yohanes Pembaptis karena Yohanes Pembaptis pernah berkata bahwa dia bahkan tidak layak melepas kasut/sandal Yesus. (Matius 3:11) Sekarang mari kita kembali ke Kitab Kejadian. Adam hanya beristri satu yaitu Hawa. Ada pengajaran lain yang mengatakan sebelum Hawa, katanya Adam sudah mempunyai istri yang bernama Lilith yang akhirnya lari. Tetapi itu tidak sesuai dengan yang tertulis di dalam Alkitab, oke? Kalau itu penting dan benar, Alkitab pasti sudah mencatatnya dengan jelas. Adam beristrikan Hawa dan mereka memiliki dua anak laki-laki yang bernama Kain dan Habel. Perhatikan! Kain artinya milik atau kepunyaan, dan Habel artinya nafas. Hawa memakan buah pengetahuan dan selanjutnya Adam makan juga dan terbukalah mata mereka. Hasilnya adalah dosa.

Allah mau menjelaskan kepada kita apa perbedaan kehidupan tanpa dosa dan adanya dosa. Bapak/Ibu mau lihat bagaimana perbedaannya?

Tanpa Dosa

Allah Bapa (Sumber segalanya)

Allah Roh Kudus (Kuasa)

Allah Anak (Kehidupan)

Kehidupan tanpa Dosa

Hidup selamanya

Dengan Dosa

Adam (Ayah)

Hawa (Ibu)

Kain (Milik), Habel (Nafas)

Kehidupan dengan Dosa

Kematian

 

Akibat dosa manusia adalah hilangnya nafas (Habel terbunuh) sehingga manusia tidak lagi memiliki nafas kehidupan hingga terputus hubungan keluarga dengan Allah, yang digambarkan dengan dipisahkannya Kain dengan kedua orangtuanya sehingga Kain menjadi orang pelarian dan pengembara di dunia ini. (Kejadian 4:12) Kita adalah Kain-Kain (bukan kain pakaian) yang mengembara di dunia ini sebelum kita percaya kepada Yesus Kristus. Seperti Kain yang ditandai oleh Allah agar dia tidak dibunuh atau binasa, kita juga telah dipilih dan ditandai untuk memperoleh keselamatan melalui Yesus Kristus. Kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya di dalam kebangkitan Kristus Yesus. Saya percaya setiap orang yang hadir di sini membutuhkan Roh Kudus. Bapak/Ibu tidak perlu ambil pusing tentang bahasa Roh dahulu atau kuatir tentang manifestasi buah-buah Roh Kudus. Jadikan itu urusan Roh Kudus. Dia tidak akan menelantarkan anak-anak-Nya. Tidak usah kuatir kalau Bapak/Ibu lupa atau tidak mengucapkan amin atau tidak menyebut nama Yesus. Roh Kudus tahu engkau adalah Tubuh Kristus. Yang Dia pedulikan adalah apakah engkau tahu siapa dirimu di dalam Kristus Yesus. Apakah Bapak/Ibu sebagai tubuh Kristus itu adalah anak Bapa atau bukan, hanya Roh Kudus yang tahu dan Dia lebih daripada bersedia untuk menjelaskan identitasmu, memeliharamu, merawatmu, dan mendidikmu menjadi lebih baik. Ibu dari anak-anak saya, Chris dan Hans, tidak hadir di sini karena dia sedang berada di Malaysia. Hanya dia yang tahu apakah Chris dan Hans ini benar-benar milik atau kepunyaan saya. Hanya seorang Ibu yang tahu siapa ayah dari anak-anaknya. Jadi sekali lagi saya katakan, begitu juga, saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, Roh Kuduslah yang tahu apakah kita benar-benar anak-anak Allah Bapa. Jadi Roh Kuduslah yang meneguhkan, mengesahkan dan menjamin status sejati kita sebagai anak-anak Tuhan. Kalau Yesus saja mengenal siapa itu Roh Kudus, maka kita juga harus mengenal Roh Kudus. Bahasa hukumnya adalah Dia yang memeteraikan kita. Bapak/Ibu tahu tidak kegunaan meterai? Sebenarnya meterai itu adalah untuk pengesahan pembayaran pajak negara. Dalam dunia hukum, saat Bapak/Ibu telah menandatangani satu atau lebih dokumen, tanpa meterai pun, itu sudah dianggap sah. Penggunaan aslinya meterai itu sebenarnya untuk menerangkan kepada negara bahwa kita sudah membayar pajak negara. Jadi saya mengaitkan hal ini dengan Roh Kudus sebagai Meterai kita yang menandakan bahwa Tuhan Yesus benar-benar sudah membayar lunas hutang dosa kita dengan pengorbanan-Nya. (Efesus 1:13) Seperti yang Ps Daniel katakan hari Minggu yang lalu, kalau Roh Kudus sudah hadir di dalam hidup kita, jangan biarkan Dia menganggur. Ijinkan Dia membimbing kita ke arah yang lebih baik. Jangan Roh Kudus saja yang rindu sama kita, kita juga mau menikmati kerinduan itu. Amin? Haleluya, terima kasih, Yesus!

Masing-masing kita adalah gereja yang terjalin dalam Kasih Kristus yang dari Surga. Suka atau tidak, saat kita percaya kepada Yesus, kita semua sudah menjadi satu di dalam Keluarga Allah. Dalam ilmu sosiologi, keluarga adalah unit terkecil dari suatu hubungan sosial di dalam masyarakat. Di dalam keluarga, kita bisa saling memaafkan, mendidik, menolong, mengasihi dan lain-lain. Mengapa saya berani berkhotbah tanpa persiapan atau catatan beberapa bulan yang lalu di hadapan Bapak/Ibu? Yang mungkin Bapak/Ibu tidak perhatikan, saya harus menahan sedikit rasa malu karena kata-kata saya terbata-bata atau terhenti sekian puluh detik sambil menunggu oksigen itu masuk kembali ke otak saya. Ya, saya terpaksa harus khotbah tanpa persiapan karena tiba-tiba semua pengkhotbah mengalami pengangkatan (rapture) waktu itu. Satu hal yang membuat saya mau melanjutkan khotbah itu adalah hanya karena saya tahu saya sedang berbicara di hadapan para anggota keluarga saya di gereja tercinta ini! Saya tahu kalau saya sedang berada di Rumah sendiri. Bapa di Surga mengasihi (katong) kita semua. Dia juga memiliki perasaan. Dia mengerti apa yang sedang terjadi padamu. Dia mau merangkulmu. Dia mau berjalan bersamamu. Dia mau menjadi tempat sandaranmu. Firman Tuhan dalam Matius 7:9-11 mengatakan, “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Dia tahu engkau letih menjalani hidup ini. Dia tahu ada sesuatu yang hilang di dalam hidupmu. Tetapi di atas semua itu, Dia mau engkau tahu kalau Dia sedang merekat kembali hidupmu yang telah pecah berkeping-keping. Dia mau engkau tahu kalau hidupmu berharga bagi Dia. Dia mau engkau tahu kalau tidak ada sesuatu hal darimu yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Dia mau engkau tahu kalau engkau adalah gambar dan rupa-Nya sendiri yang indah tak bercela di dalam Yesus Kristus yang telah disalibkan untuk menebus dirimu. Dia mau engkau tahu kalau engkau adalah keluarga-Nya. Dan di dalam keluarga, Dia akan mempertahankan segala-galanya sebab engkau berharga. Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah mendengar doa kami. Maafkan kami yang sering mengabaikan Engkau, ya Roh Kudus. Terima kasih buat didikan-Mu selama ini. Genggam tangan kami, ya Roh Kudus. Tuhan Yesus, terima kasih buat segala-galanya. Terima kasih! Amin.

Leave a comment

Mulai Percakapan
Butuh bantuan?
Shalom, selamat datang di AGFamily!
Apakah ada yang bisa kami bantu?
Kami akan segera hubungkan Anda
dengan Admin/Pastor yang bertugas!