Shalom, Bapak/Ibu…
Saya bersyukur dapat kembali bersekutu dengan Bapak/Ibu di Agape Grace Fellowship. Banyak hal yang sudah dilalui dalam minggu ini. Mau menoleh kemanapun mata kita, saya rasa kita tidak bisa melihat ketiadaan Tuhan di hidup ini.
Bisakah Firman-Nya berubah? Apakah kita perlu kuatir akan halnya Tuhan berubah pikiran? Tidak sama sekali! Yesaya 40:8 berbunyi, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” (Mat 24:35, Mar 13:31, Luke 21:33) Minggu lalu kita sudah mengerti bagaimana Tuhan Yesus begitu mengasihi Bapak/Ibu sehingga Dia rela melewati malam yang gelap agar Bapak/Ibu tidak perlu lagi mendayungi kehidupan yang penuh gelombang ini sendirian tanpa arah yang jelas; seperti Tuhan Yesus, yang begitu melihat murid-murid-Nya dalam kesusahan akibat diombang-ambingkan oleh gelombang karena angin sakal, langsung bergerak mendekati mereka. Tuhan Yesus mau bersama-Mu menjalani kehidupan ini, asalkan Bapak/Ibu MAU membawa Tuhan Yesus naik ke dalam perahumu atau kehidupanmu. Apapun yang menjadi pergumulan hidupmu; baik itu dalam pelayananmu, keluargamu, keuanganmu, kesehatanmu, Tuhan Yesus mau terlibat di dalamnya. (Yohanes 6:21) Sesudah Tuhan Yesus masuk ke dalam kehidupanmu, maka hatimu pasti damai, dan redalah gelombang yang menerpa kehidupanmu. (Matius 14:32) Walaupun terkadang masih ada riak-riak gelombang yang besar, semua pasti akan terasa damai, karena Bapak/Ibu kenal siapa yang ada bersamamu sekarang. Biasanya kalau kita pergi ke suatu tempat asing, hati ini pasti akan terasa lebih tenang, bila ada seseorang yang sudah berpengalaman menemani kita. Kalau boleh saya katakan, kita akan lebih berani atau percaya diri. Demikian jika kita sudah tahu sebenarnya siapa Dia yang di dalam kita, maka seharusnya yang terjadi adalah Bapak/Ibu pasti merasa damai dalam menjalani hidup ini. Kalau Tuhan Yesus yang memimpin kita, seharusnya apa lagi yang patut kita takuti? Bagaimana reaksi Bapak/Ibu saat engkau mengucapkan apa yang Rasul Paulus katakan dalam Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”? Apakah Bapak/Ibu mengucapkannya dengan perasaan takut atau berani? Dulu, sekitar 6 tahun yang lalu, mungkin banyak dari Bapak/Ibu yang belum hadir di ibadah AGF waktu itu, saya pernah jelaskan dengan panjang lebar mengenai preposisi ‘di dalam’ atau bisa juga ‘melalui’ pada ayat ini. Tidak hanya panjang dan lebar, yang lebih parah adalah khotbahnya juga dalam bahasa Inggris. Bagi yang belum pernah dengar bahasa Inggris, Bapak/Ibu akan pikir itu adalah bahasa Roh karena saya berkhotbah sambil tutup mulut. Saya tidak akan ceritakan keseluruhannya, tapi Bapak/Ibu hanya perlu tahu bahwa penggunaanya dalam bahasa Yunani, ἐν (en) (di dalam atau melalui) memiliki makna penuh istirahat atau tanpa pergumulan. Preposisi ini tidak berbicara tentang pergerakan, tetapi lebih kepada suatu hubungan yang intim seperti pokok dan carangnya. Dengan kata lain, hubungan di dalam Kristus Yesus adalah suatu hubungan erat yang penuh istirahat. Lebih lanjut kita lihat kata kerja ‘menanggung’ dalam ayat ini adalah ἰσχυω (ischyo) dalam bahasa Yunaninya, yaitu suatu kemampuan fisik atau kuasa yang ada pada seseorang tetapi bukan miliknya sendiri. Perbedaannya dengan δυναμις (dunamis) adalah ἰσχυω (ischyo) adalah kekuatan yang melekat atau tertanam atau karakteristik tetap, sedangkan δυναμις (dunamis) itu adalah kekuatan untuk menyebabkan sesuatu terjadi, untuk melakukan mukjizat, untuk menciptakan, untuk melahirkan kehidupan. Makna ἰσχυω (ischyo) itu sendiri lebih besar dari δυναμις (dunamis). Jadi untuk singkatnya, saya mau katakan bahwa kemampuan bagi Bapak/Ibu untuk melakukan atau menanggung segala hal itu adalah berasal dari Tuhan. Karakteristiknya Tuhan inilah yang sudah melekat pada kita melalui Tuhan Yesus. Tanpa Dia, kita ini bukan siapa-siapa. Maka dari itu, penting sekali bagi kita semua untuk mengerti bahwa apapun yang bisa kita lakukan adalah karena Tuhan Yesus ada di dalam kita dan kita ada di dalam-Nya. Jadi jangan ada di antara kita yang memegahkan diri. (1 Korintus 1:28-29) Dia yang memilih kita, bukan sebaliknya. Damai yang ada di hatimu adalah Yesus Tuhan sendiri. Saya ambil contoh satu orang yang dipilih oleh Tuhan. Saya akan ceritakan tentang Gideon yang ada dalam Alkitab. Dia adalah hakim yang kelima untuk Israel. Orang-orang Israel pada waktu itu ada dalam penindasan bangsa Midian selama 7 tahun – keturunan Abraham melalui istrinya Keturah yang dia ambil sesudah Sarah meninggal dunia. Jadi, bangsa Israel untuk kesekian kalinya berdosa terhadap Allah. Dan Tuhan Allah membawa mereka ke dalam tangan bangsa Midian. Seperti biasa, setelah beberapa masa, begitu terkurasnya mereka, lalu mereka menjerit di hadapan Allah karena bangsa Midian, atau Arab dan sekutu mereka (bangsa Amalek dan bangsa dari Timur) mengambil semua kepunyaan bangsa Israel. Tuhan Allah mendengar jeritan mereka sekali lagi. Kemudian, kisah ini memberitahukan pada kita bahwa Malaikat Tuhan datang pada Gideon dan mengatakan padanya bahwa Tuhan masih bersama mereka. Gideon tentunya mempertanyakan ini, mengingat masalah yang sedang mereka hadapi saat itu. Gideon berkata kepada Malaikat Tuhan itu dalam Hakim-Hakim 6:13, “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.” Dan Gideon mengeluh dan mencari alasan dengan Tuhan.
Tuhan memberitahukan pada dia dalam ayat 14 selanjutnya, “Kamu pergi selamatkan bangsa Israel dari tangan Midian. Bukankah Aku yang telah mengirim engkau?” Lalu Gideon mengatakan, “Bagaimana saya bisa? Tuhan, tak tahukan Engkau saya adalah yang paling tak berarti di dalam rumah ayahku?” Kemudian, Tuhan harus meyakinkan dia lagi, berkata dalam ayat 16, “Tak perlu kuatir, Aku akan bersamamu.” Sekarang, sungguh bijak bagi Gideon untuk menanyakan tanda duluan dalam ayat 17. Bagi seorang yang masih gelisah, Gideon bukanlah orang yang bodoh juga. Jadi dia mencobai siapapun itu yang menyuruh dia berperang melawan bangsa Midian; apalagi kata Tuhan, hanya oleh dia sendiri. Jadi Gideon menyediakan seekor kambing muda dan roti tak beragi untuk Tuhan di bawah pohon Tarbantin dalam ayat 19. Nah, saya percaya jika Malaikat Tuhan itu tiba-tiba langsung makan persembahan itu contohnya, Gideon pasti tahu kalau dia itu hanya manusia biasa. Tapi tidak, Saudara, Tuhan menunjukkan dia satu hal yang akan dia ingat seumur hidupnya dan bagi semua manusia untuk baca di kemudian harinya. Hakim-Hakim 6:20-21 lanjutannya menyatakan, “Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: “Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya.” Maka diperbuatnya demikian. Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya.” Bapak/Ibu, saya mau kita semua melihat Yesus dalam ayat ini. Daging dan roti yang tidak beragi itu membicarakan tentang Domba Allah yang tak bercacat cela – yaitu Yesus Kristus. Batu menceritakan tentang landasan, kota benteng, atau perlindungan. Mazmur 18:2 katakan, “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” Pohon Tarbantin dijelaskan dalam Kamus Lengkap Penjelasan Vine sebagai sumpah atau kutukan. Dalam bahasa Ibrani, ditulis אלה (elah). Tentunya, artinya juga sebatang pohon – Pohon yang besar sekali. Dalam Hakim-Hakim 17:2 contohnya [“Uang perak yang seribu seratus itu, yang diambil orang dari padamu dan yang karena itu kauucapkan KUTUK–aku sendiri mendengar ucapanmu itu–memang uang itu ada padaku, akulah yang mengambilnya.”], kata yang sama muncul tetapi artinya adalah sumpah atau kutukan. Pohon melambangkan dunia kita ini, yang mana sudah terkutuk oleh karena dosa dunia. Yesus Kristus digantung pada sebatang pohon – salib yang terbuat dari kayu. Kemudian, pencurahan kaldu atau kuahnya membicarakan tentang dosa yang dituduhkan kepada Yesus. Tongkat berbicara tentang penghakiman Tuhan. Di dunia ini, tak ada yang bisa lepas dari penghukuman Tuhan. Setiap dosa ditulahkan pada tubuh Yesus Kristus oleh karena murka Allah. Tak ada yang tertinggal tanpa dihukum. Semua telah selesai. Baiklah, dan kemudian Malaikat Tuhan itu menghilang dari hadapan Gideon. Bapak/Ibu terkasih, Gideon melambangkan manusia. Maut tidak punya sengat lagi atas kita, karena semua telah ditulahkan pada Yesus – pada Anak Domba Allah yang tak bercacat. Satu hal lagi yang menarik adalah bahwa setelah Malaikat Tuhan menghilang, Gideon lalu berbicara dengan Tuhan secara langsung. Tak ada lagi penghalang atau selubung yang menghalangi Tuhan untuk berbicara langsung kepada Gideon. Apakah yang Tuhan katakan setelah itu? Dalam ayat 23, Tuhan berfirman, “Selamatlah engkau! (Bahasa aslinya: Shalom! Terjemahan BIS-nya: Tenanglah! Jangan takut, kamu tidak akan mati.” Mengapa dia tidak bisa mati? Itu disebabkan sudah ada persembahan sebelumnya. Setelah persembahan itu, Mr. Shalom hadir di hadapannya. Tidak ada lagi ketakutan di dalam dirinya.
Setelah itu, dalam ayat 24, Gideon membangun sebuah altar untuk Allah di kota kelahirannya Ophrah dan menamakan tempat itu יהוה שׁלום (YHVH Shalom) – Tuhan Sumber Sejahtera (IBIS). Tuhan Yesus dinamai dengan Raja/Pangeran Damai Sejahtera שׁלום) שׂר śar shalom) dalam Yesaya 9:6. Gideon sungguh sangat senang mengetahui bahwa Tuhan tidak marah dengan dia dan maka itu dia percaya dia sudah menemukan Damai Sejahtera dalam Allah. Tidak peduli bagaimana gigihnya dia ingin mengubah pikiran Allah, hati Gideon damai mengetahui Tuhan sudah menempatkan Damai Sejahtera-Nya dengan dia. Apa yang harus Gideon lakukan untuk memenangkan perang itu dengan Tuhan di sisinya? Tidak ada, selain memuji Tuhan! Anda tahu bagaimana dia menang dalam pertempuran itu? Tentunya bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan Allah sendiri yang berperang. Allah menyuruh dia untuk mengurangi jumlah pasukan sampai hanya tinggal 300 pejuang dari lebih kurang 40.000 pejuang, agar supaya tidak ada yang bisa membual tentang kehebatan mereka sendiri. Kemudian, Tuhan menyuruh dia untuk memata-matai musuh. Apakah dia sungguh berani? Tidak tentunya! Dia tidak berani pergi sendiri, tetapi dia bawa serta seorang pembantunya Purah, seperti yang Tuhan izinkan kalau dia tidak berani sendiri. Di sana, dia mendengar seseorang di dalam kemah musuh sedang menerjemahkan mimpi bagi temannya dalam Hakim-Hakim 7:13-14 — Ketika Gideon sampai ke situ, kebetulan ada seorang menceritakan mimpinya kepada temannya, katanya: “Aku bermimpi: tampak sekeping roti jelai terguling masuk ke perkemahan orang Midian; setelah sampai ke kemah ini, dilanggarnyalah kemah ini, sehingga roboh, dan dibongkar-bangkirkannya, demikianlah kemah ini habis runtuh.” Lalu temannya menjawab: “Ini tidak lain dari pedang Gideon bin Yoas, orang Israel itu; Allah telah menyerahkan orang Midian dan seluruh perkemahan ini ke dalam tangannya.”) Bayangkan seorang dari bangsa Midian mengatakan hal ini saat perang! Itu artinya ada satu titik tertentu mereka juga sebenarnya takut pada bangsa Israel. Mungkin karena mereka selalu mendengar tentang kisah-kisah luarbiasa bagaimana Tuhan Allah Israel membebaskan bangsa Israel. Orang ini, yang bermimpi, kemungkinan besar adalah seorang perwira tinggi. Maksud saya, kalau kita ingin menjadi mata-mata, kita tak akan menyia-yiakan waktu pada sasaran kecil tak berguna. Kita akan langsung masuk pada tingkat tinggi. Jadi akhirnya Gideon punya ide. Ini seperti sebuah kata kunci – “Pedang Gideon dan Tuhan!” Bayangkan mimpi itu dan terjemahannya menyebar pada seluruh pasukan Midian dan mereka jelas tahu tidak ada orang Israel yang tahu akan hal mimpi ini. Jadi ketika bangsa Israel akhirnya menyerang mereka dan meniup sangkakala dan memecahkan bejana-bejana, dan berteriak lantang, “Pedang Tuhan dan Gideon!” Itu pasti mengejutkan para bangsa Midian dan sekutunya, begitu terkejutnya sampai mereka berperang melawan sesama teman mereka di dalam perkemahan. Saudara, mereka jadi gila! Maksudku, mereka begitu terkejut dengan teriakan perang yang sama dengan terjemahan mimpi itu. Siapa yang lakukan itu? Bangsa Israel? Tidak! Itu adalah Allah sendiri! Hakim-Hakim 7:22 mengatakan, “Sedang ketiga ratus orang itu meniup sangkakala, maka di perkemahan itu TUHAN MEMBUAT pedang yang seorang diarahkan kepada yang lain…” Sungguh satu kemenangan yang luar biasa! Tidak seorang pun dari 300 pejuang itu tewas dalam pertempuran itu. Jumlah tentara Midian itu lebih dari 120.000 personil yang melawan 300 pejuang Israel yang hanya diperlengkapi dengan sangkakala dan bejana-bejana. WOW! Kalau Anda berpikir Anda punya masalah berat saat ini, coba baca kisah ini sekali lagi… Masalah-masalahmu sebenarnya takut pada Anda. Mereka telah mendengar kisah-kisah luar biasa tentang bagaimana Tuhan Yesus Kristus membebaskan Anda sejak 2000 tahun yang lalu, mereka tahu Dia adalah Pribadi yang sama dengan Pribadi yang pernah berjalan di atas air itu, dan mereka tahu Penebusmu itu masih hidup sampai sekarang, dan mereka berharap Bapak/Ibu tidak pernah percaya ataupun tahu akan kisah-kisah itu.
Terus terang, masa-masa hidup Gideon selanjutnya seperti sebuah bencana. Sangat berlawanan dengan perkiraan kita mengenai kegagahan seorang pahlawan. Beberapa orang katakan Gideon akhirnya mencoba menjadi raja bangsa Israel. Jadi, entah bagaimana ceritanya, bangsa Israel akhirnya berbalik kepada dosa lagi. Alkitab mencatat bahwa mereka berdosa dengan pelacuran. Artinya mereka berselingkuh dengan ilah lain. Bukannya Tuhan itu buta sehingga Dia tidak mampu melihat apa yang sedang atau bakal terjadi, tetapi kita harus pahami bahwa Dia melihat gambar besar dari segalanya. Kita selalu mempertanyakan mengapa Tuhan menyibukkan diri dengan menggunakan Gideon sedangkan Dia sudah tahu pada akhirnya Gideon dan kawan-kawannya itu akan gagal juga. Bapak/Ibu, bukan Gideonnya yang menjadi pusat perhatian kita, tetapi Tuhannya Gideon itu! Akan sangat berbahaya ketika hidup kita sangat termotivasi oleh orang-orang yang sudah dianggap sukses oleh dunia. Kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui apa yang terjadi di balik layar kehidupan mereka sendiri. Lalu di saat mereka jatuh, kitapun ikut-ikutan jatuh. Tidak salah untuk mendapatkan inspirasi dari kisah-kisah mereka, tetapi kita harus selalu mengandalkan Tuhan Yesus. Kisah Gideon ditulis untuk kita pelajari agar kita selalu MAU mengandalkan Tuhan, bukan 1001 metode Gideon mengalahkan bangsa Midian! Bahkan Gideon sendiripun hidup oleh karena kasih karunia Tuhan Allah, apalagi kita, betul tidak, Bapak/Ibu yang terkasih? Masing-masing kita memiliki 5 jari tangan pada tiap tangan dan 5 jari kaki pada tiap kaki. Angka 5 dalam Alkitab berbicara tentang Anugerah. Jadi ingatlah selalu bahwa kemanapun kita melangkah, Anugerah Tuhan (yaitu Tuhan Yesus) sudah mendahului kita. Anugerah-Nya yang duluan berpijak dimanapun kita melangkah. Tuhan Yesus menginginkan agar kita senantiasa terlindungi, dan merasa damai. Ketika kita berjalan melewati bayang kegelapan, kita tahu Dia beserta kita. Apapun yang kita pegang atau kerjakan, kita tahu Anugerah-Nya yang memampukan kita. Anugerah-Nya yang duluan menyentuh segala yang kita pegang dalam hidup kita. Jadi jika kita tahu bahwa Anugerah-Nya selalu menyertai kita, ingatlah selalu untuk melakukan yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan karena Tuhan sudah memilih kita! Roma 8:28-32 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Amin? Tetelestai khotbah hari ini! Selamat mengarungi lautan hidup ini bersama Tuhan Yesus! Damai sejahtera bagi Bapak/Ibu sekalian yang disayang oleh Tuhan!
Perjamuan Kudus:
KEHIDUPAN INI TIDAK AKAN ADA TANPA KEHADIRAN TUHAN YESUS YANG MENGORBANKAN DIRI-NYA BAGI KITA. DIA BERIKAN HIDUP-NYA UNTUK KITA AGAR KITA BISA HIDUP PENUH KEMENANGAN. DARAH-NYA MAHAL TAK TERGANTIKAN KARENA DIA ADALAH TUHAN ALAM SEMESTA INI. DIA BERTUKAR TEMPAT DENGAN MANUSIA KARENA DIA ADALAH KASIH TANPA BATAS. ROTI DAN ANGGUR YANG ADA DI TANGAN KITA ADALAH TUBUH-NYA YANG TELAH DIPECAH-PECAHKAN-NYA UNTUK KEHIDUPAN KITA, DAN DARAH-NYA YANG TELAH TERCURAH BAGI KESELAMATAN KITA SELAMA-LAMANYA. MARI, BAPAK/IBU, KITA MAKAN DAN MINUM DENGAN PENUH DAMAI SEJAHTERA DAN SUKACITA.
Dikhotbahkan oleh: Hugo Yongan, 1 September 2019, AGF Medan
