Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

 

Shalom,

Puji dan syukur bagi Tuhan yang telah mengaruniakan segala hal kepada Bapak/Ibu terkasih di dalam Kristus Yesus. Saya percaya Bapak/Ibu semua menikmati kasih-Nya sepanjang minggu ini. Saya rasa sangat disayangkan kalau misalnya ada yang melewatkan hari-hari tanpa melibatkan Tuhan. Dalam segala hal, Dia ingin kita mengetahui bahwa Dialah yang berperan penting di dalam hidup kita. Hal yang paling Dia tidak sukai mungkin saat seseorang merasa hanya dirinya sendiri yang mampu. Selalu dalam setiap saat, Tuhan selalu mengingatkan kita untuk tidak memegahkan diri kita sendiri. (Efesus 2:9) Orang yang memegahkan diri itu adalah orang yang congkak atau sombong. Si Lucifer jatuh ke dalam dosa juga dikarenakan kesombongannya. Allah mengasihi orang-orang yang rendah hati seperti yang tertulis di Amsal 3:34. Jangan sesudah mendapatkan berkat atau pertolongan dari Tuhan, langsung kita katakan semua itu adalah berkat jasa-jasa kita. Hal ini terjadi pada bangsa Israel dulunya. Tahu apa yang Tuhan ingatkan? Dalam Ulangan 9:1-6 dikatakan bahwa Tuhan itu menghalau musuh-musuh Israel bukan karena jasa-jasa atau kebaikan mereka, tetapi semata-mata karena musuh-musuh mereka itu yang jahat. Bukan juga berarti bangsa Israel tidak jahat. Tanah-tanah dari bangsa-bangsa jahat itu diberikan kepada bangsa Israel hanya karena Tuhan sudah pernah berjanji kepada nenek moyang mereka. Jadi adalah baik bagi kita semua untuk selalu mengingat bahwa setiap pertumbuhan dalam hidup kita adalah pemberian dari Allah Mahatinggi, Bapa kita yang kudus! (1 Korintus 3:6-7) Tuhan menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus bukan karena kita pintar atau baik sekali, tetapi karena Dia tahu akibat dari dosa itu adalah kematian kekal. Dia tidak mau melihat kita di dalam kematian kekal itu. Dia tahu itu bakalan tidak menyenangkan. Dia mengasihi manusia. Ingat, dulu kita semua adalah seteru atau musuhnya Allah. (Roma 5:10) Dikatakan juga bahwa kita sebagai bangsa-bangsa non-Yahudi itu diselamatkan hanya karena pelanggaran bangsa Israel. (Roma 11:11) Jadi tidak ada yang bisa kita sombongkan. Makanya dalam Roma 11, Rasul Paulus mengingatkan kita tentang proses pencangkokan. Dia mengatakan bahwa kita ini seperti cabang-cabang dari pohon zaitun liar yang dicangkokkan pada pohon zaitun hasil budidaya, yaitu pohon yang baik, zaitun sejati (Roma 11:24). Siapa di sini yang pernah melakukan pencangkokan tanaman? Katanya pohon zaitun itu adalah lambang perdamaian. Saya teringat bahwa Tuhan Yesus adalah Raja Damai. Jadi saya pikir, hari ini adalah hari yang baik untuk menceritakan sedikit tentang Pohon Zaitun Sejati kita ini! Salah satu kriteria pencangkokan yang bagus adalah bahwa kita harus memperhatikan pohon induknya. Kalau induknya bagus, maka hasil cangkokannya juga akan bagus (sama seperti induknya). Kalau mau belajar lebih mendalam lagi, sebenarnya terjemahan ‘cangkokan’ pun sebenarnya kurang tepat penggunaannya. Dalam bahasa aslinya ἐγκεντρίζω (egkentrizō) itu mengandung makna penggabungan. Dalam bahasa pertaniannya, ada berbagai macam istilah. Ada okulasi atau sambung mata, ada juga sambung sisip, ada lagi sambung susuan, dan lain sebagainya. Di lain pihak, pencangkokan dalam pertanian adalah sistem memperbanyak tanaman yang awalnya memang menggabungkan satu bagian tumbuhan pada tanaman induk sampai dia berakar sendiri, yang kemudian akan dipisahkan dari induk setelah itu. Jadi kalau dalam konteks rohani Kristen, istilah ‘cangkokan’ terasa kurang tepat kalau kita pakai istilah pertanian modern, karena di Alkitab dikatakan bahwa kita harus terus berakar dalam Yesus Kristus untuk hidup; tidak boleh terpisahkan. (Kolose 2:6-7) Tetapi itu mungkin hanya perbedaan istilah pertanian dalam kurun waktu yang berlainan saja; teknik pencangkokan dulunya bisa jadi adalah tetap melekat pada induk, setelah itu baru ada metode baru pencangkokan. Beda lagi kalau kita menggunakan kata ‘cangkok’ ke dalam istilah kedokteran misalnya “cangkok hati”, “cangkok ginjal” dan sebagainya. Itu bukan masalah. Mau pakai istilah apapun, kalau di dalamnya tidak ada mengenai Tuhan Yesus, maka semua sia-sia. Tetapi saya akan memakai kata ‘gabung’ biar tidak membingungkan. Untuk proses penggabungan (dalam hal ini, kita pakai pohon zaitun sesuai pembahasan kita), ada bagian dari pohon induk zaitun yang harus dipotong sedemikian rupa sehingga bagian dari tunas zaitun liar yang ingin disambungkan itu bisa menempel dengan induk barunya. Sesudah itu, hasil gabungan itu akan dibungkus dan diperhatikan kadar airnya dan mendapatkan perawatan lainnya sampai penggabungan itu berhasil ‘sempurna’. Bapak/Ibu masih ingat bagaimana seorang dari prajurit-prajurit Romawi itu menikam lambung Tuhan Yesus saat di Kayu Salib? Itu artinya waktu di Kayu Salib itu Tuhan Yesus sedang dipersiapkan untuk menerima manusia sebagai bagian dari-Nya. Jadi Bapak/Ibu sudah tahu sekarang mengapa tubuh-Nya harus tertikam. Sesudah kita ‘ditempelkan’ atau ‘dicangkokkan’ pada Pohon Zaitun Sejati yaitu Tuhan Yesus Kristus, maka Roh Kudus akan merawat dan menjaga proses penggabungan itu agar kita mendapatkan nutrisi yang benar yaitu ajaran dari Roh Kudus. Kita dibungkus dan diikat dengan kasih-Nya agar tidak bisa lepas. Kalau diperhatikan, mungkin pada awalnya semua proses itu seperti menyakitkan, ada penyayatan di sana-sini, tidak bebas (seperti dikekang dalam ikatan), tidak bisa memilih makanan sendiri, tidak bisa berjalan semau kita. Maunya kita kalau sudah selamat, ya sudahlah… Mengapa harus diikat-ikat segala? Kan begitu biasanya pemikiran kita, bukan? Sepertinya semua bertentangan dengan keinginan kita sendiri dan memang benar adanya. (Roma 11:24) Tetapi, dibalik semua yang serasa menyebalkan bagi keinginan daging kita itu, sebenarnya Bapa di Surga sedang melatih kita untuk bergerak dalam lingkungan yang baru, yang lebih hidup dan lebih baik. Selama ini kita sudah terbiasa dengan kedagingan kita, sehingga saat ada perubahan, kita mungkin merasa terkekang oleh ajaran-ajaran Tuhan. Mungkin contoh terdekat yang bisa saya bagikan adalah mengenai seorang mantan artis Amerika, Rachel Meghan Markle yang cukup terkenal juga, yang dijodohkan pada Pangeran Harry dari Kerajaan Inggris. Seorang biasa yang menikah dengan seorang pangeran. Setelah menjadi istri dari Pangeran Harry, dia harus mengubah segala hal kebiasaan lamanya, dan menutup semua media sosialnya (Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain), dan banyak hal lainnya yang dulunya mungkin dia suka lakukan, sekarang harus dia ubah kebiasaan lamanya. Dia bukan lagi rakyat biasa, melainkan sudah menjadi seorang bangsawan. Mungkin dia dilatih untuk berjalan anggun seperti layaknya seorang putri, dan diajari cara berbahasa yang baik dan tata cara istana yang sama sekali berbeda dengan kehidupan lamanya. Dia harus mulai terbiasa dengan kehadiran para pengawal. Dia harus menghadiri berbagai macam acara kerajaan. Bapak/Ibu yang terkasih, begitu pula dengan kita yang telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Ada kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah harus ditinggalkan. Ada hal-hal baru yang sudah harus kita pelajari. Terkadang semua hal baru itu terasa seperti mengekang diri kita. Sudah lama kita terjerat hutang dosa sehingga hal itu sudah terasa seperti sesuatu yang sudah melekat tak terpisahkan. Kita sudah terbiasa dengan hidup yang penuh dosa. Namun seharusnya kita sudah sadar bahwa kita sudah tidak pantas lagi berbalik kepada kebiasaan lama itu. Memang terasa berat seperti kecanduan sesuatu, tetapi kita bukan lagi berasal dari dunia. Misalnya jika kita sering bergaul dengan teman-teman yang belum percaya, atau yang masih menjalani kehidupan penuh dosa, kita cenderung terbawa arus ingin mengikuti apa yang mereka perbuat. Saat mereka cakap kotor atau bicara tentang hal-hal negatif, kita pun merasa terdorong untuk bercakap kotor dan sebagainya supaya merasa diterima oleh mereka. Sudah saatnya kita belajar tidak mengikuti kebiasaan daging lagi, tetapi sudah harus berjalan sesuai pribadi kita yang baru sebagai anak-anak Allah. Kita harus menyadari identitas kita yang baru. Kita harus berani berkata TIDAK kepada dunia. Kita punya parameter atau standar hidup yang baru sekarang yang dibangun di atas Kristus. Janganlah saat kita lihat para aktor ramai-ramai pindah agama, terus kita juga ikut-ikutan, misalnya. Seperti tunai zaitun tadi, kita sedang dalam proses penyambungan untuk menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Pohon Zaitun sejati itu. Roma 11:16 mengatakan bahwa jika akarnya kudus, maka cabang-cabangnya juga kudus. Sudah pasti Akar kita ini kudus karena Dia adalah pilihan langsung dari Surga. Jadi Bapak/Ibu tidak perlu lagi kuatir. Jadilah rantingnya Yesus yang kuat karena Bapak/Ibu terus menerus menyerap makanan dari Tuhan Yesus. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus adalah Pohon Zaitun yang terpilih, kualitas tanpa cela dan cacat. Seperti yang saya katakan tadi, kalau pohon induknya berkualitas bagus, maka buahnya pasti bagus juga. Kita cuma perlu menerima apa yang ada dari Tuhan Yesus yaitu keseluruhan diri-Nya. Nikmatilah penyambungan itu! Kalau kita tidak bisa menikmati hubungan yang sudah tersambung itu, kan sepertinya menyia-yiakan sesuatu yang terlalu berharga.

Mari saya perlihatkan kepada Bapak/Ibu hal tentang Nabi Elia yang saya percaya ada sangkut-pautnya dengan hal “cangkok-mencangkok” atau penggabungan ini, supaya Bapak/Ibu bisa bertambah yakin. Suatu waktu Nabi Elia diperintahkan oleh Allah untuk pergi ke satu tempat yang namanya Sarfat, daerah Sidon, daerahnya orang non-yahudi. Sekarang itu katanya daerah Libanon. Di sana, Allah menyuruh Nabi Elia untuk menemui seorang janda Fenisia, non-yahudi, yang memiliki seorang anak laki-laki yang mengalami masa-masa kekeringan dan kelaparan hebat. Mengapa saya katakan bahwa janda itu adalah bangsa non-yahudi? Karena dalam Lukas 4:24-27, Tuhan Yesus berkata bahwa di antara para janda Israel pada masa kelaparan hebat itu, Nabi Elia tidak diutus bagi mereka kecuali satu janda di Sarfat dan Nabi Elisa tidak diutus bagi para penderita kusta di Israel, selain Naaman orang Siria yang disembuhkan. Jadi kedua pernyataan ini jelas mengacu pada bangsa-bangsa non-yahudi. Oke, kita lanjutkan… Janda tersebut sedang mengumpulkan kayu api untuk membuat makanan buat hari-hari terakhir. Saat itu sudah tidak ada makanan lagi selain segenggam tepung dan sedikit minyak zaitun tersisa. Namun, Nabi Elia meminta sepotong roti darinya sebelum mereka membuat bagi diri mereka sendiri. Tetapi Nabi Elia memintanya untuk tidak kuatir. Katanya Tuhan Allah Israel akan terus mengisi bahan makanan mereka. Lalu diperbuatlah demikian bagi Nabi Elia. Cerita tidak habis sampai di sana, setelah beberapa waktu berlalu, anak dari janda itu menderita sakit dan mati. Kemudian janda itu bertanya apakah Nabi Elia datang untuk mengingatkan akan dosanya sehingga anaknya mati. Nabi Elia membawa mayat anaknya ke kamar atas tempat dia tinggal. Dia berdoa kepada Tuhan dan mengunjurkan (membaringkan) tubuhnya sendiri ke atas anak itu sebanyak tiga kali. Tuhan mendengar permintaan Nabi Elia dan anak itu hidup kembali. Lalu dibawanya anak itu turun menemui ibunya. Lantas Nabi Elia berkata, “Anakmu hidup!

Bapak/Ibu, Elia kira-kira artinya “YHVH adalah Tuhan”. Elia melambangkan Tuhan Yesus. Dia diutus ke dunia yang dilambangkan dengan wilayah Sarfat (yang berarti “Tempat Pemurnian atau Pengolahan” bagi Tuhan Yesus, kalau dilihat dari sisi Allah, karena di dunialah Tuhan Yesus diolah) untuk menolong manusia yang telah berdosa. Hal ini dilambangkan dengan janda yang memungut kayu api untuk persiapan kematian, seperti manusia yang pasti akan mati oleh karena kutuk. Tinggal menghitung hari. Tidak ada harapan lagi sepertinya, tetapi ternyata ada Elia yaitu Tuhan Yesus yang diutus kepada manusia. Di sini saya pikir waktu itu Nabi Elia sedang menceritakan Injil pada janda tersebut tentang penyerah hidup kepada Tuhan. Dalam hal ini, berserah kepada “Yang Diurapi atau Yang Dipilih” (Mesias) yang melambangkan Tuhan Yesus kelak. Kita jangan kuatir sesudah berserah kepada Tuhan Yesus, karena melalui Dia, kita akan hidup selamanya. Mengapa persediaan makanan janda dan anaknya itu tidak bisa habis? Semua itu dikarenakan ada Nabi Elia. Tuhan Allah melihat pada Nabi Elia. Dalam 1 Raja-raja 17:22 dikatakan bahwa Tuhan mendengarkan permintaan Nabi Elia. Haleluya! Begitu pula dengan kehadiran Tuhan Yesus di dalam hidup kita, selamanya ada jaminan keselamatan, berkat, dan kesehatan bagi kita semua. Dan semua itu bukan karena ketaatan atau iman kita, tetapi karena Bapa melihat pada Anak-Nya Yesus Kristus. Semua itu karena Bapa mendengarkan permintaan Tuhan Yesus! Bagian kita hanya berserah kepada Tuhan Yesus. Seperti janda tersebut, mungkin kita berpikir Tuhan datang ke dunia ini untuk menghakimi orang-orang percaya, namun seperti Nabi Elia yang berkata, “Berikanlah anakmu itu kepadaku!”, maka kita bisa ketahui bahwa Tuhan Yesus datang untuk memulihkan hidup kita. (1 Raja-raja 17:19) Ternyata Nabi Elia tidak mendakwa dia. Ibu janda ini datang dari kebudayaan yang berbeda dengan Nabi Elia. Kalau kita ada baca sejarah tentang bangsa Fenisia, mereka juga ada mengikut praktek pengorbanan anak, dan sebagainya. Kalau kita baca baik-baik kisah ini, memang sepertinya Nabi Elia sedang berbicara pada ibu itu tentang kematian anak dari janda itu dengan perumpamaan roti kecil yang harus diberikan kepada Nabi Elia secara tidak langsung. Maksudnya adalah Tuhan Yesus meminta kita untuk memberikan atau menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya. Seperti perempuan janda itu yang membiarkan Nabi Elia mengambil anak itu dari pangkuannya. Bapak/Ibu, keturunan atau anak-anak kita sebenarnya adalah perpanjangan hidup kita. Mereka mewakili kita orangtua. Contohnya Chris maupun Hans, anak-anakku, adalah perpanjangan hidupku. Mereka itu adalah perpanjangan hidupku kalau saya duluan pulang ke Rumah Bapa. Jadi begini maksudku sekali lagi, Tuhan Yesus meminta kita menyerahkan hidup kita yang sebenarnya sudah mati itu kepada-Nya. Jangan lagi kita terus-menerus menggenggam hidup kita. Apa yang akan Dia perbuat dengan kehidupan kita yang mati itu? Dia menjadi Perantara yang bersyafaat bagi kita dengan Allah Bapa. Dia yang akan membebaskan kehidupan kita dari kematian. Dia mau agar kita mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Dengan menggabungkan diri-Nya dengan kita yang sudah mati seperti Nabi Elia yang mengunjurkan dirinya ke atas anak tersebut, maka Tuhan Yesus dan Bapak/Ibu sudah menjadi satu. Panas tubuh Nabi Elia mengalir kepada anak itu sehingga dia bangkit kembali. Maka terlebih lagi dengan Tuhan Yesus yang menggabungkan atau menyatukan diri-Nya dengan kita, sehingga panas atau Terang atau Kehidupan-Nya bisa mengalir kepada kita dan mampu membangkitkan apapun yang sudah mati dari diri kita. Hidup-Nya menjadi kehidupan bagi kita. Dalam kisah Nabi Elisa di 2 Raja-raja 4:34 bisa kita dapatkan bagaimana sebenarnya yang terjadi juga saat Nabi Elia membaringkan tubuhnya pada anak itu. Bapak/Ibu, Tuhan Yesus berfirman, “Berikanlah hidupmu kepada-Ku!” Serahkan hidupmu kepada-Nya! Untuk hidup, kita harus memberikan diri kita digabungkan atau dicangkokkan pada Tuhan Yesus, supaya kuasa kehidupan-Nya bisa mengalir ke dalam segala aspek kehidupan kita yang mati, baik itu usaha, pekerjaan, kesehatan, hubungan, dan lain-lain. (Yohanes 11:25-26) Hal lain yang menarik adalah Nabi Elia harus membawa mayat anak itu ke kamar atas; tempat dia tinggal. Kamar atas (Upper Room) itu berbicara tentang tempat peristirahatan. Kita harus dibawa masuk ke dalam Tempat Peristirahatan-Nya (yaitu Kamar-Nya), yaitu Tuhan Yesus sendiri. Mujizat terjadi saat hidup kita berada di dalam peristirahatan-Nya! Amin? Bersukacitalah, Bapak/Ibu, karena engkau yang percaya telah hidup kembali di dalam Kristus! Sekali lagi saya katakan, di dalam Peristirahatan-Nyalah, engkau hidup! Seluruh usahamu, pekerjaanmu, kesehatanmu, dan keluargamu diberkati oleh Tuhan Allah saat Tuhan Yesus hadir di dalam hidupmu! Bagaimana perasaanmu sekarang setelah mengetahui bahwa hidupmu telah dipulihkan? Tak terbayangkan bagaimana besarnya nama Tuhan Yesus kita! Haleluya!

Tuhan Yesus, terima kasih buat kehadiran-Mu dalam hidup kami. Kami mau serahkan hidup kami ke dalam tangan-Mu. Bapa di Surga, terima kasih karena Engkau telah mengutus Anak-Mu Tuhan Yesus ke dunia untuk mati bagi kami sehingga oleh kematian-Nya kami beroleh kehidupan-Nya. Roh Kudus, terima kasih karena Engkau telah merawat kami selama ini. Tuhanku, aku berdoa buat anak-anak-Mu yang sedang tidak enak badan, pulihkan mereka demi nama-Mu. Bagi yang membutuhkan pekerjaan, Engkau bukakan jalan bagi mereka demi nama Tuhan Yesus, satu-satunya Harapan mereka. Lapangan pekerjaan akan terbuka bagi mereka dikarenakan oleh Perkenanan-Mu. Engkau adalah Tuhan Allah yang memulihkan mereka saat mereka berserah pada-Mu. Engkau juga yang akan menghidupi mereka sepanjang hidup mereka. Aku berdoa buat mereka yang sedang menjalani masa-masa pendidikan dimanapun juga. Ajari mereka, ya Roh Kudus, untuk melihat hubungan dengan Sang Kepala mereka adalah lebih nyata dari apa yang bisa mereka lihat dalam dunia ini. Jamahlah setiap pribadi yang ada di tempat ini. Tidak ada satupun yang Engkau lewatkan. Terima kasih Engkau telah mendengarkan doa kami, ya Tuhan… Amin!

PERJAMUAN KUDUS:

DENGAN HATI YANG PENUH DENGAN UCAPAN SYUKUR, KITA MENGANGKAT ROTI YANG ADALAH TUBUH KRISTUS YANG TELAH DIPECAH-PECAHKAN UNTUK MEMBERI JALAN BAGI KITA MENERIMA KEHIDUPAN YANG SEBENARNYA. HANYA DI DALAM KRISTUS YESUS, KITA DAPAT HIDUP DAN HIDUP PENUH KELIMPAHAN. BAPAK/IBU YANG TERKASIH, INGATLAH AKAN PENGORBANAN-NYA SAAT ENGKAU MEMAKAN ROTI INI. TUHAN YESUS TERTIKAM AGAR SUPAYA APA YANG ADA DI DALAM-NYA (YAITU SEGALA-GALANYA) DAPAT TERCURAH BAGIMU. MARI KITA MAKAN.

CAWAN YANG ADA DI TANGAN KITA ADALAH DARAH KRISTUS YANG TELAH TERCURAH UNTUK MENEBUS KITA DARI DOSA DAN MENJADI ALIRAN FIRMAN KEHIDUPAN BAGI TUBUH, JIWA DAN ROH KITA. INGATLAH ITU SAAT ENGKAU MEMINUM DARI CAWAN INI BETAPA DIA MENGASIHIMU DENGAN SEGENAP TUBUH, JIWA, DAN ROH-NYA. MARI KITA MINUM.

TERIMA KASIH, BAPA YANG MULIA, UNTUK KASIH KARUNIA-MU YANG TELAH MEMERDEKAKAN KAMI. DI DALAM TUHAN YESUS, ANAK-MU YANG TERKASIH, KAMI MENGUCAP SYUKUR. TIDAK ADA YANG DAPAT KAMI PIKIRKAN SELAIN BERSERAH KEPADA-MU, TUHAN. DI DALAM NAMA TUHAN YESUS, AMIN.

 

Dikhotbahkan oleh: Hugo Yongan, 20 Oktober 2019, AGF Medan

Leave a comment

Mulai Percakapan
Butuh bantuan?
Shalom, selamat datang di AGFamily!
Apakah ada yang bisa kami bantu?
Kami akan segera hubungkan Anda
dengan Admin/Pastor yang bertugas!