Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Shalom,

 

Selamat pagi, Bapak/Ibu yang terkasih! Oppo kabar semuanya? Oppo apapun boleh lah, asal semua senang ya… Saya selalu percaya semua pasti baik-baik saja karena Tuhan Yesus ada di dalam kita semua dan kita ada di dalam-Nya. Seperti yang Bapak/Ibu telah ketahui, dunia sekarang ini sedang dilanda penyebaran virus Corona. Baru bangun tidur saja, sudah dikabari oleh teman-teman dengan berita di negara itu sudah jatuh korban sekian, di kota yang satu lagi ada sekian banyak, di situ sudah mulai, bagaimana cara mengatasi ini dan itu, tips untuk memakai masker dan lain-lain. Dari TV sampai telepon genggam, semuanya tentang si COVID-19. Ditambah lagi dengan saya yang mengingatkan Bapak/Ibu dengan nama itu lagi pagi ini. Letih, bukan? Tetapi begitulah dunia ini, sepertinya tidak ada tempat peristirahatannya. Saya tahu bagi mereka yang suka baca berita – apalagi pada zaman sekarang ini yang segala informasi bisa diterima secepat kilat, cepat atau lambat mereka akan takut dengan apa yang mereka baca. Ketakutan akan berusaha mengekor terus, tidak peduli Bapak/Ibu baca atau tidak sebenarnya. Tetapi, apa yang Bapak/Ibu baca, atau dengarkan, atau makan setiap hari, itulah yang akan membentuk pribadimu kelak. Kita doakan bulan April ini merupakan titik balik hubungan yang erat dengan Bapa di Surga, kita kembali mendeklarasikan atau mengumandangkan hari kemerdekaan kita di dalam Kristus Yesus! Kita rayakan Tuhan Yesus di hari yang indah ini! Kita bukan lagi berasal dari dunia, tetapi dari Surga. Oleh sebab itu, makanan kita juga sudah berubah. Bulan lalu ada diungkit tentang saksang. Bapak/Ibu mau pilih saksang atau Roti Surgawi? Dua-duanya mau! Mana yang Bapak/Ibu ingin makan lebih banyak porsinya? Saksang yang berlemak atau Manna Surgawi alias Tuhan Yesus? Berita apa yang ingin Bapak/Ibu terima setiap saat? Kabar buruk atau kabar baik? Saya tidak suka kabar buruk, Bapak/Ibu. Saya percaya tidak ada seorangpun yang mau mendengar tentang kabar buruk. Para pendeta sekarang ini lagi musim panen jiwa, kata mereka. Banyak orang yang lagi sibuk mencari ayat-ayat kesehatan dan perlindungan. Selain dari cerita masker wajah, sarung tangan, dan cairan pembersih tangan, semua bahan khotbah tentang virus Corona seharusnya sudah laku keras di pasaran. Tiga minggu yang lalu juga di GBC Jakarta, saya ingat pendetanya juga mengingatkan agar jemaat di sana untuk senantiasa merenungkan Tuhan Yesus. Katanya Corona itu artinya mahkota. Beliau mengingatkan tentang mahkota duri yang melambangkan kutuk yang telah dikenakan pada Tuhan Yesus sehingga, bagi kita yang percaya, tidak lagi berada dalam kutuk. Luar biasa! Dari sini, saya juga mau ikut menyampaikan pada Bapak/Ibu bahwa kita sedang dihadapkan pada dua jenis mahkota. Yang satu adalah mahkota duri itu dan yang lainnya adalah Mahkota emas. (Wahyu 14:14) Dalam Alkitab dikatakan bahwa yang sedang kita ‘kejar’ itu adalah mahkota yang abadi. (1 Korintus 9:25) Tuhan itu abadi. Inilah yang menjadi patokan bahwa sebenarnya pandangan kita harus terarah kepada Pribadi yang abadi yang mengenakan Mahkota emas itu, bukan lagi mahkota duri yang perkaranya sudah selesai. Pilihan ada di tangan kita. Bapak/Ibu mau memilih merenungkan mahkota duri yang mematikan atau Mahkota emas yang memerdekakan? Ingin sukacita yang bertumbuh besar atau ketakutan? Mahkota mana yang sering Bapak/Ibu perhatikan? Ini sangat menentukan cara hidupmu. Kalaulah boleh sekali lagi kami anjurkan, pilihlah berita atau pesan yang membangkitkan semangat! Berbahagialah engkau yang tidak memiliki TV ataupun handphone meskipun sebentar lagi akan ada yang terima handphone baru kalau Tuhan Yesus belum datang untuk yang kedua kalinya. Yang belum ada handphone, sudah bolehlah rajin-rajin kam berdoa sampai berlutut-lutut, ‘nakku! Anyway, mari kita belajar dari anak-anak kecil yang tidak memiliki handphone. Tidak ada dari mereka yang kulihat terganggu atau stres berat dengan berita tentang Corona. Mereka tidak memandang keluar, tetapi hanya melihat ke dalam yaitu ada ayah dan ibu mereka yang akan melindungi dan merawat mereka. Hanya itu yang mereka tahu dan percaya. Dunia mereka adalah keluarga mereka. Bapa di Surga juga tidak mau kita terganggu dengan keadaan atau kabar buruk di luar dari Surga. Dia mau kita tahu bahwa kita aman di dalam Kristus Yesus. Sediakanlah waktumu lebih banyak untuk berkomunikasi dengan Tuhan Allahmu. Bacalah apa yang ada di Pikiran Kristus! Saya kira saat-saat seperti ini cocok untuk ‘melatih’ kuasa ilahi yang ada di dalam kita dengan mendekat kembali dengan Tuhan. Berita di luar sana itu sudah dan akan besar dengan sendirinya, tidak perlu kita bantu besar-besarkan berita itu lagi. Kita hanya mengabarkan Injil yang artinya kabar baik, jadi jangan diperburuk dengan tingkah laku yang tidak-tidak. Kita bukan pekabar buruk. Seperti yang Pastor Paul katakan, berita buruk hanya membawa keraguan dan ketakutan, tetapi Kabar Baik membawa pengharapan dan sukacita, Amin?!

 

Bapak/Ibu, tentunya kita mau makan makanan yang sehat dari Tuhan Yesus. Kita mau merenungkan yang berguna bagi tubuh, jiwa dan roh kita. Kita tidak butuh makanan sampah. Firman Tuhan katakan, “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” (Mazmur 91:7) Renungkan saja ini! Tanya Roh Kudus! Benar atau tidak, Mazmur 91 ini?! Soalnya sekarang ini pasal ini lagi nge-trend di pasaran… Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa menimpamu tanpa seijin Bapamu di Surga! Untuk itulah Tuhan Yesus hadir untukmu! Dia ada untuk memastikan engkau tahu dimana tempatmu yang sebenarnya. Seperti yang Pastor Iskandar pernah katakan tiga minggu lalu, mobil tanpa setir itu harus disediakan sesuai pada tempat atau jalan yang memang diperuntukkan bagi mobil tanpa setir, bukan di medan yang tidak ada peraturan lalu-lintasnya. Bapak/Ibu, kita semua adalah anak-anak Tuhan yang ditempatkan di dunia ini bukan untuk ikut-ikutan takut bersama dunia. Kita dijadikan seturut gambar Kristus supaya Terang-Nya bisa dilihat oleh dunia, bukan makin redup sinar-Nya itu kita buat. Kita ini adalah para pemberani seperti Tuhan Yesus! Untuk itulah kita perlu dilatih. Kata orang, pahlawan itu tidak lahir dengan sendirinya. Pahlawan itu adalah hasil bentukan atau didikan. Untuk menjadi hebat, tentu kita harus terlatih; ditempa setiap waktu. Kalau Bapak/Ibu mau bernyanyi misalnya di panggung, tentu harus berlatih banyak. Tidak pernah kita lihat artis-artis professional bernyanyi sambil lihat kertas contekan. Penyanyi di panggung tentu harus hafal lirik-lirik lagu yang mau dia nyanyikan. Untuk hasil maksimal, tentu latihan penyanyi dengan pemusik dan kawan-kawan mereka haruslah bersungguh-sungguh. Baik para penyanyi maupun pemusik harus menguasai lirik lagu. Menguasai lirik bukan hanya tugas penyanyi, tetapi semua tim. Semua saling membutuhkan. Berbeda halnya dengan bernyanyi di kamar mandi, kita tidak perlu pakai alat musik yang canggih. Pakai air saja sudah cukup merdu. Untuk menghindari pemakaian kertas contekan, sudah tentu harus berlatih terus-menerus. Kadang kalau sudah serius kali pun, susah mencapai target yang kita inginkan, apalagi kalau tidak serius sama sekali. Begitu juga dengan pelayanan gereja di pelbagai bidang yang lain, semua butuh pelatihan yang terus-menerus. Kisah Alkitab dalam Daniel 1:1-21 menceritakan bagaimana, setelah mengalahkan Raja Yoyakim dari Yehuda, Raja Nebukadnezar memilih orang-orang muda yang tak bercela dari kaum raja dan bangsawan Israel untuk dipekerjakan dalam istana raja. Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya terpilih dan mereka diharuskan untuk dilatih terlebih dahulu selama 3 tahun. Alkitab menuliskan bahwa Allah yang mengaruniakan pada mereka hikmat dan kasih sayang sehingga mereka dikatakan 10 kali lipat lebih cerdik dari semua orang berilmu di kerajaan Babel itu. Pelayanan kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Tuhan juga sedang melatih kita. Gereja Tuhan harus bersinar pada masa-masa kegelapan ini. Agape Grace Family ini termasuk salah satu ‘pemain’ yang terpilih untuk membawa Terang Kristus ke dalam dunia ini. Dia tidak salah memilih kita. Dia sudah tahu apa yang bisa kita lakukan di dalam Kristus. Dia juga tahu kita bisa salah pilih jurusan, namun Dia tetap memberikan pilihan itu karena Dia tahu kekuatan atau kuasa yang ada di dalam kita ini bukan dari alien-alien atau makhluk-makhluk asing yang tak jelas keberadaannya itu, melainkan kuasa yang berasal dari diri-Nya sendiri; yang mampu memberikan atau melahirkan kehidupan. Dia percaya kita mampu menghadapi pelatihan apapun yang Dia ijinkan. Firman Tuhan katakan bahwa pencobaan atau pelatihan itu tidak akan melebihi kekuatan kita, benar? Maka dari itu jangan ada dari antara kita yang menyerah! (1 Korintus 10:13) Ingatlah selalu bahwa pelayanan yang sedang kita jalankan itu adalah pelayanan milik Tuhan Yesus. Kalau diibaratkan dengan perusahaan, kita sudah dipercayakan untuk mengatur segala kegiatan atau usaha perusahaan-Nya untuk mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya bagi Dia. Tentunya kita bisa merasa Tuhan telah salah pilih, tetapi saya sampaikan kembali, Bapak/Ibu, Tuhan Yesus tidak pernah salah pilih engkau. Tuhan itu tidak buta seperti patung-patung. Malah saat Dia ada, mata orang-orang buta malah dicelikkan oleh-Nya. Mereka menjadi sehat karena ada Yesus Kristus, bukan malah tambah parah. Maka dari itu, kita akan menjadi tambah sehat, tambah berhikmat, tambah bersinar, tambah berani oleh karena kehadiran Tuhan Yesus. Mari kita bersama-sama melakukan pekerjaan Tuhan ini dengan pantang menyerah. Saya percaya kita semua di sini pasti bersedia dibentuk oleh Tuhan Yesus. Kita tidak ditempatkan di Bumi ini secara sembarangan oleh Tuhan. Tidak usah kuatir menjadi babak-belur, karena ada Roh Kudus yang akan merawat setiap luka kita saat menjalani segala pencobaan yang telah Dia ijinkan itu. Percayakan semua hal ke dalam tangan-Nya. Rasul Paulus berkata bahwa setiap langkahnya mempunyai tujuan, dan seperti petinju, pukulannya tidak sembarangan karena dia sudah terlatih. (1 Korintus 9:26-27)

 

Berkenaan dengan hal ini, saya sangat bersyukur bagaimana para pemuda/i di sini sedang mengusahakan dana untuk kegiatan “Church Camp” yang akan diadakan di bulan Juli tahun ini; baik itu dengan berjualan makanan maupun mengamen. Ini adalah bentuk kegiatan pelayanan atau pelatihan yang bagus sekali karena dari sini para pemuda/i boleh belajar menggenapi suatu tujuan tertentu yang dalam hal ini untuk mengikuti “Church Camp” yang seharga lebih kurang Rp 1.200.000,- untuk kegiatan selama 4 hari di sebuah hotel di Berastagi. Mohon maaf, memang akan terkesan sangat mahal bagi banyak orang. Tetapi saya mau mengajak Bapak/Ibu untuk mengubah cara berpikir kita akan sesuatu hal yang terasa mahal. Bro Herman pernah katakan bahwa bagi sebagian teman-teman kegiatan itu mungkin dan pasti akan terkesan mahal karena kalau dihitung-hitung uangnya sudah bisa dipakai untuk hal lain yang lebih berguna (dalam hal ini bisa saja untuk membeli kebutuhan rumah tangga). Memang benar. Saya setuju memang ada hal-hal yang memang menjadi prioritas atau yang harus didahulukan dalam hidup ini. Saya juga mengerti keadaan ekonomi yang sepertinya terlihat jelas tidak mendukung untuk saat ini. Tuhan Yesus ada menggambarkan sesuatu pada saya tentang Kehidupan di Dalam Dia. Kita selalu percaya bahwa segala sesuatu telah diberikan kepada kita secara gratis oleh Bapa di Surga melalui Anak-Nya. Seharusnya kita tinggal terima saja. Tidak ada yang salah. Lalu mengapa sepertinya ada banyak hal yang tidak bisa kita nikmati? Gambaran yang saya dapatkan adalah jelas terlihat bahwa Bapa di Surga sendiri harus membayar mahal dengan darah Anak-Nya hanya untuk ‘membeli kembali’ diri saya. Saya tetap akan terhilang bila Tuhan tidak berani membayar mahal untuk menebusku, benar? Bagi Tuhan, ketahuilah Bapak/Ibu berharga di mata-Nya, makanya Dia berani ‘membayar mahal’ hanya untuk mendapatkanmu kembali. Engkau berarti bagi Dia. Arti ‘berharga’ di sini bukan tentang Tuhan bisa mati kepanasan tanpa kita yang sungguh hebat ini, tetapi karena pada dasarnya kita adalah milik-Nya yang terhilang. Kegembiraan Tuhan di saat Dia mendapatkan engkau kembali adalah lebih besar daripada segala ciptaan-Nya yang lain. (Matius 18:10-14) Saat ini Bapa di Surga ingin kita mempelajari satu hal, atau lebih tepatnya mengerti tentang kegembiraan atau sukacita-Nya. Dalam hal ini, Bapak/Ibu perlu membayangkan Kota Medan ini sebagai Kristus Yesus dan kita semua tinggal di dalam-Nya. Semuanya telah Dia berikan pada kita. Namun di dalam kota ini ada beberapa titik ataupun tempat di kota Medan ini seperti hotel, mall, arena bermain, kolam renang, sekolah, dan lain-lain, yang dibangun sedemikian rupa sehingga untuk menikmati tempat-tempat tersebut, sering kali kita harus mengeluarkan isi dompet dalam jumlah yang tidak sedikit kalau tidak ada yang traktir. Maunya kita semua gratis. Kita ambil satu contoh Hotel JW Marriott Medan. Untuk menikmati fasilitas Hotel JW Marriott, tentunya kita harus berani membayar mahal untuk bisa tinggal di kamar hotelnya dan menikmati fasilitas yang ada di dalamnya seperti tempat pemandian air panas dan dingin, kolam renang, ruangan olahraga, dan sarapan pagi sepuasnya. Kita mungkin berpikir buat apa bayar mahal-mahal hanya untuk tinggal di kamar hotel kalau bisa tidur di rumah sendiri.

 

Seperti halnya di Medan, hotel di Berastagi yang nantinya akan kita kunjungi itu juga tidak ada bedanya. Kita juga harus mengeluarkan uang untuk menikmati fasilitas yang ditawari oleh hotel tersebut.  Bagi orang yang tinggal di Berastagi (apalagi kalau kebetulan rupanya hotel itu pas di sebelah atau di seberang rumahnya), mungkin berpikir buat apa bayar mahal padahal rumahnya bertetangga dengan hotelnya. Tetapi tentu ada perbedaannya, seperti tempat tidur yang lebih nyaman, bantal dan guling yang lebih empuk, terus ada kolam renangnya juga, dan lain-lain. Kita tidak akan bisa merasakan, kalau kita tidak mencobanya. Ada satu teman kita dari gereja lain yang rumahnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari Hotel Adimulia Medan. Setiap kali dia ingin menikmati suasana hotel dan memakai fasilitas hotel tersebut, dia harus membayar mahal untuk kamar hotel hanya untuk satu malam saja. Kalau dipikir-pikir, untuk apalah tinggal di sana, wong rumahnya dekat kali. Tetapi kegembiraan yang dirasakan oleh dia dan keluarganya lebih daripada uang yang telah dikeluarkan. Dia bisa memandang anak-anaknya tertawa riang bermain di kolam renang dan lain sebagainya. Jadi katakanlah Bapak/Ibu akhirnya berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 1.200.000,- dan jadi kita pergi untuk acara gereja ini kalau tidak ada halangan yang berarti, Bapak/Ibu juga harus mengubah cara pandang dari istilah ‘biaya tak terduga’ menjadi istilah ‘menikmati Tuhan Yesus bersama keluarga’ atau bahkan punya pikiran untuk ‘memberkati tanah Batak’. Ini bukan tentang gaya hidup menghambur-hamburkan uang. Kalau tidak demikian, nanti engkau tidak akan bisa menikmati liburan itu karena keasyikan memikirkan betapa besarnya biaya yang telah dikeluarkan, “Waduh, sudah bisa beli berapa kilo beras merah itu? Gila, sudah bisa bayar 4 bulan biaya kosku di Medan, Bro.” Maksudnya apa dengan memberkati tanah Batak, Bro? Bapak/Ibu, tahukah engkau bahwa secara tidak langsung engkau sudah memberkati banyak orang yang bekerja di hotel itu? Secara tidak langsung Bapak/Ibu sudah memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Bayangkan Bapak/Ibu yang tidak memiliki hotel tetapi bisa mengambil andil atau saham dalam memberkati tanah Batak. Ini adalah cara berpikir yang besar! Uang di kantong boleh sedikit, tetapi jangan bermental miskin seperti yang diutarakan oleh Pastor Iskandar minggu lalu. Satu rupiahmu itu adalah bagai kehidupan bagi seseorang yang mungkin tidak engkau kenal sama sekali. Ketahuilah segala sesuatu yang engkau lakukan pasti memiliki tujuan yang luar biasa atau berdampak bagi seseorang. Tuhan bisa dan mau menggunakan setiap kesempatan untuk menyentuh hati seseorang di hotel itu misalnya. Mungkin Bapak/Ibu tidak akan pernah tahu siapa yang telah engkau bantu secara tidak langsung, atau bahkan seseorang yang bekerja di hotel itu tidak akan pernah tahu mengapa dia masih bisa digaji untuk bekerja. Rupanya semua itu bisa terjadi karena Bapak/Ibu sudah membayar biaya tinggal di sana. Atau, bisa saja kemungkinan yang terjadi adalah pemiliknya sudah putus harapan untuk melanjutkan usaha perhotelan itu, namun timbul seberkas harapan saat dia terima uang Bapak/Ibu sehingga dia mengurungkan niatnya karena merasa tempatnya masih bisa memberkati Agape Grace Family dan masyarakat setempat dengan adanya lapangan pekerjaan. Dengan demikian, berarti Bapak/Ibu telah membayar mahal untuk merasakan sukacita pemilik maupun yang bekerja di sana. Tidak usah menggerutu atau kuatir kalau-kalau pemilik hotel itu lebih kaya dari kita. Benar pemiliknya kaya, tetapi bukan berarti engkau harus bermental miskin. Niscaya saat kita miliki pola pikir yang demikian, maka Bapak/Ibu seharusnya bisa merasakan atau menikmati apa yang dinamakan dengan kegembiraan Tuhan itu!

 

Sekali lagi saya katakan bahwa ada hal-hal yang memang sudah dirancang oleh Tuhan yang menjadi tempat pembelajaran bagi kita untuk merasakan seperti apa kegembiraan Tuhan saat Dia mendapatkan kita kembali. Dalam hal pelayanan juga demikian, para penginjil seperti Susan Hoover, Peter Youngren, atau bahkan Pastor Paul Loh dan yang lainnya pun harus berani membayar mahal dalam hal keuangan, misalnya bayar tiket pesawat, sewa tempat tinggal atau lapangan untuk kegiatan, atau bahkan waktu dengan keluarga yang terlewatkan, maupun pengorbanan lainnya untuk mengadakan festival rohani ataupun pengajaran Alkitab — hanya untuk dapat merasakan seperti apa sukacitanya Tuhan itu saat ada jiwa-jiwa yang diselamatkan atau dibebaskan. Saya rasa Bapak/Ibu boleh bertanya pada Pastor Susan Hoover atau Pastor Paul Loh apa benar demikian. Ya, Bapak/Ibu harus belajar menikmati Yesus Tuhan yaitu sukacitanya Bapa di Surga. Ada saat-saat dimana Bapak/Ibu harus berani membayar mahal untuk mengetahui atau merasakan apa yang Tuhan rasakan. Pebisnis sering katakan seperti ini: “Ada harga, ada barang.” Dalam bahasa Mandarin dikatakan 一分钱一分货 (yī fēn qián yī fēn huò). Allah Bapa menebus kita dengan Darah Kristus yang mahal karena Dia sudah tahu nilai kita DI DALAM KRISTUS. You matter to God – Engkau berarti bagi Tuhan. Untuk itulah Dia berani bayar mahal untuk menebus engkau kembali. Mengapa saya terus mengulangi kata-kata ‘harus berani bayar mahal’? Karena Tuhan Yesus tidak mau kita semua menyerah tanpa syarat. Ibaratnya begini, Bapak/Ibu, Dia sudah berkorban dengan begitu sengsaranya, harapan-Nya pasti mau melihat tubuh-Nya pantang menyerah. Kita bukan lagi pribadi yang lemah. Kita semua sedang dilatih untuk menjadi lebih kuat seperti Rasul Paulus. Dan saya lihat Bapak/Ibu semua sangat bersemangat dalam Kristus Yesus. Engkau luarbiasa! Untuk mengakhiri khotbah hari ini, saya ingin berbicara tentang masa di mana Daud dilanda masalah saat pulang ke Ziklag, kota di mana dia tinggal sesudah lari dari Raja Saul. Suatu waktu, para wanita dan anak-anak di sana ditawan oleh orang-orang Amalek saat semua laki-lakinya tidak ada di tempat. Setelah itu Daud dan rakyatnya menangis sampai tak kuat lagi. Ditambah lagi saat dia mendengar kalau rakyat kota itu ingin merajam dia gara-gara hal ini, Daud merasa terjepit. Di sisi yang lain, dia juga stres berat karena kedua istrinya juga ikut ditawan. Bapak/Ibu, tetapi bagaimana reaksi Daud atas masalah-masalahnya? Dia tidak menyerah! Dia tahu siapa yang harus dia cari! 1 Samuel 30:6 menyebutkan, “Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” Terjemahan dalam bahasa Inggrisnya adalah Daud memperkuat dirinya di dalam Tuhan. “Menguatkan diri” di sini mempunyai arti seperti dengan sekuat tenaga untuk menguasai seseorang atau sesuatu, dan juga seperti waktu Firaun mengeraskan atau menguatkan hatinya, tentunya dengan cara yang baik. Bagaimana seseorang memperkuat diri di dalam Tuhan? Di dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa Daud meminta efod kepada Imam Abyatar bin Ahimelekh. (1 Samuel 30:7-8) Efod adalah semacam batu yang digunakan untuk bertanya kepada Tuhan Allah apakah boleh melakukan sesuatu atau tidak. Bahasa Alkitabnya yaitu mengundi atau buang undi. Orang Tionghoa menyebutnya 擲筊 (zhìjiǎo) atau 筊杯 (jiǎobēi) atau Puak Poi dalam bahasa Hokkiannya, yang menggunakan dua buah kayu yang berbentuk seperti bulan sabit atau ada juga yang terbuat dari bambu untuk meramal sesuatu hal atau jawaban ‘ya atau tidak’. Bagi yang suka bertaruh di zaman sekarang ini, biasanya mereka suka melempar uang koin untuk menentukan pilihan. Lanjut pada cerita Daud, lalu Allah memberikan jawaban bagi Daud untuk mengejar gerombolan yang telah menawan istri dan anak-anak mereka, dan Daud melakukan sesuai yang Allah kehendaki. Akhirnya Daud dan orang-orangnya mengejar dan menang. Semua direbut kembali! Saya percaya di sini Tuhan menginginkan adanya hubungan orang-orang percaya dengan Dia. Dulu orang menggunakan menggunakan alat-alat seperti itu karena memang manusia terpisah dari Allah, tetapi sekarang orang-orang yang telah percaya pada Tuhan Yesus, tidak perlu lagi melalui alat-alat ataupun imam, tetapi sudah bisa langsung bertanya pada Allah Bapa, karena Tuhan Yesus adalah Perantara kita. Bapa/Ibu, jadi biasakanlah untuk bertanya kepada Tuhan dulu dalam segala hal. Kesempatan ini sudah tersedia bagi kita semua.

 

Mazmur 48:4 menyatakan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Benteng. Apa fungsi benteng? Tentunya sebagai pelindung bagi puri/istana. Benteng tidak akan menjadi benteng kalau orang-orang yang mau dilindungi olehnya itu ada di luar. Ini artinya perlindungan hanya ada bagi yang tinggal di dalam benteng. Seperti Daud, kita juga mengalami masa-masa sulit kita. Hari-hari ke depan akan semakin jahat. (Efesus 5:16) Jadi kita membutuhkan tempat untuk berlindung. Bapak/Ibu yang terkasih, di dalam Alkitab tercatat bahwa Daud berkenan di hati Tuhan. Daud artinya ‘Yang dikasihi’. Daud memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan Allah. Makanya dia disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan. Matius 3:17 mencatatkan bahwa sesudah Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Allah berfirman, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Tuhan Yesus berkenan di hati Bapa, Bapak/Ibu, dan kita ada di dalam Dia sekarang, tersembunyi seperti yang ditulis dalam Kolose 3:3. Oleh karena itu kita adalah orang-orang yang dikasihi-Nya dan juga yang berkenan di hati Bapa di dalam Kristus Yesus. Yang berarti bahwa segala bentuk komunikasi dengan Tuhan bukan lagi merupakan hal yang mustahil. Jadi perkuatlah dirimu dalam Allah Benteng hidupmu karena hanya di dalam Benteng-Nya, kita dapat berhubungan langsung dengan Bapa.

 

Mari kita tutup mata. Saya berdoa bagi setiap hati yang gelisah dalam menghadapi setiap pelatihan dari Tuhan. Ketahuilah seperti Raja Daud yang tidak menyerah. Begitu juga dengan Tuhan Yesus. Baik Daud maupun Tuhan Yesus, mereka tahu kepada siapa mereka harus berpaling. Masalah apapun yang menghimpit kita tidak akan melemahkan kita. Tidak ada penyakit, tidak ada virus apapun, tidak ada kemiskinan yang bisa menghentikan berkat Allah Bapa atas kita semua. Kuatkanlah dirimu, Bapak/Ibu yang terkasih, di dalam Tuhan! Bapa di Surga adalah Bentengmu! Apabila adapun di antara Bapak/Ibu yang sedang dilanda masalah keuangan, masalah hubungan, maupun masalah kesehatan, engkau tidak akan mudah menyerah karena Tuhan menyertaimu seperti Dia menyertai Daniel maupun Daud. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik dari Dia untukmu, bukan rancangan jahat. Jalin hubungan yang erat dengan Dia. Bicaralah pada-Nya. Sebab Tuhan adalah setia dan Ia yang akan menguatkan hatimu dan menjauhkan kamu dari yang jahat. Dia adalah Benteng perlindunganmu! Engkau tak akan menyerah sebelum mencoba sekuat tenagamu di dalam Kristus. Engkau akan menjadi lebih kuat. Engkau akan berhasil dalam hidupmu sebab engkau melakukannya bersama Tuhan. Kami berserah kepada-Mu ya, Bapa yang setia! Jadilah kehendak-Mu atas kami di atas bumi seperti di dalam Surga. Kami percaya hidup kami aman di dalam-Mu karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin!

Dikhotbahkan oleh: Hugo Yongan, 5 April 2020, AGF

Leave a comment

Mulai Percakapan
Butuh bantuan?
Shalom, selamat datang di AGFamily!
Apakah ada yang bisa kami bantu?
Kami akan segera hubungkan Anda
dengan Admin/Pastor yang bertugas!